“Ada mafia perencanaan program pembangunan, mafia tender proyek pembangunan, mafia belanja modal dan belanja barang habis pakai, mafia investasi, modal, perbankan, industri dan pertambangan.
Tingginya nilai dugaan kerugian negara akibat korupsi di NTT tersebut, jelas Alfred, harusnya dapat diminimalisir oleh para kepala daerah yang adalah putera daerah. “Pada awal kepemimpinan Pak Gub (Viktor Laiskodat, red), Araksi sangat menaruh harapan kepadanya sebagai Top Leader di daerah ini untuk dapat menekan korupsi di NTT (sesuai janji kampanye dan pidato perdana, red),” ujar mantan anggota DPRD NTT ini.
Araksi berharap, Gubernur Laiskodat dan para bupati/walikota sebagai putera daerah dapat menekan korupsi di NTT. “Mari kita semua takut untuk melakukan korupsi. Waspada saja toh. Laksanakan UU saja toh. Tidak boleh korupsi. Kita kawal perencanaan dengan baik. Tidak boleh begini dan begitu. Itu saja kalau leader yang baik,” saran mantan wartawan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun harapan Araksi tidak menjadi kenyataan. “Awalnya meledak-ledak seperti kembang api. Meledak-ledak seperti petasan. Setelah petasan selesai meledak, ya habis sudah,” kritiknya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

Ikuti Kami
Subscribe































