onlinentt.com–Rote Ndao | Ada suasana berbeda yang mulai terasa dalam proses pembelajaran di SMA Negeri 1 Lobalain.
Ketika telepon genggam tidak lagi menjadi perhatian utama selama kegiatan belajar berlangsung, ruang kelas justru terasa lebih hidup dengan interaksi antara guru dan peserta didik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut SMAN 1 Lobalain terhadap Surat Edaran Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan.
Kepala SMAN 1 Lobalain, Alberd W. Dano, S.Pd, mendorong seluruh warga sekolah untuk memahami bahwa kebijakan pembatasan penggunaan gawai bukan sekadar persoalan menyimpan telepon genggam selama berada di kelas.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun budaya belajar yang lebih disiplin, fokus dan interaktif.
Teknologi tetap memiliki tempat penting dalam pendidikan, namun penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran dan dilakukan secara bertanggung jawab.
“Pembatasan penggunaan gawai harus kita lihat sebagai bagian dari upaya bersama untuk membangun budaya belajar yang lebih baik.
Peserta didik diharapkan dapat menggunakan waktu di sekolah untuk belajar, berdiskusi, berinteraksi, dan mengembangkan potensi diri,” demikian penekanan Alberd.
Dalam praktiknya, perubahan tersebut mulai dirasakan oleh para guru ketika pembelajaran berlangsung.
Novita Lololau, S.Pd, salah seorang guru SMAN 1 Lobalain, mengaku merasakan suasana yang berbeda ketika pembatasan penggunaan HP mulai diterapkan di dalam kelas.
Menurutnya, ketika perhatian peserta didik tidak lagi terbagi dengan penggunaan telepon genggam untuk aktivitas di luar pembelajaran, konsentrasi terhadap materi yang disampaikan guru menjadi lebih terlihat.
Ia melihat peserta didik lebih memberikan perhatian selama proses belajar dan mengikuti kegiatan pembelajaran dengan suasana yang lebih terarah.
Pengalaman serupa juga dirasakan peserta didik. Dhealova Loja, siswi kelas XB SMAN 1 Lobalain, menyambut baik penerapan pembatasan penggunaan HP tersebut.
Baginya, pembatasan tersebut justru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memanfaatkan waktu yang tersedia di sekolah secara lebih maksimal.
Dengan HP tidak menjadi pusat perhatian selama pembelajaran, siswa dapat lebih berkonsentrasi mengikuti materi, berdiskusi dengan teman maupun berkomunikasi langsung dengan guru.
Kebijakan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kehadiran teknologi di lingkungan pendidikan perlu ditempatkan secara proporsional.
Gawai dapat menjadi sarana pembelajaran yang bermanfaat apabila digunakan sesuai arahan, tetapi penggunaannya juga perlu dikendalikan agar tidak mengganggu konsentrasi peserta didik.
Karena itu, SMAN 1 Lobalain tidak menempatkan pembatasan gawai sebagai bentuk penolakan terhadap perkembangan teknologi.
Sebaliknya, sekolah berupaya membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara tepat sesuai kebutuhan.
Melalui langkah tersebut, sekolah berharap tercipta lingkungan belajar yang lebih tertib, aman dan kondusif.
Peserta didik pun diharapkan semakin terbiasa mengelola waktu, menjaga konsentrasi, membangun komunikasi langsung dan bertanggung jawab terhadap proses pendidikan yang sedang mereka jalani.
Bagi SMAN 1 Lobalain, pendidikan tidak hanya berbicara tentang pencapaian akademik.
Pembentukan disiplin, karakter, kemampuan berinteraksi dan pengendalian diri juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi masa depan.
Pembatasan penggunaan HP di kelas pun diharapkan menjadi salah satu langkah kecil yang memberi dampak pada kebiasaan belajar yang lebih baik di lingkungan SMAN 1 Lobalain.*



















