onlinentt.com-Rote Ndao — Proyek Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao memasuki tahapan penting. Setelah melalui proses pembangunan dan uji coba produksi, kawasan tambak garam tersebut diproyeksikan memasuki momentum peresmian pada Oktober 2026.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, direncanakan hadir untuk meresmikan kawasan industri garam yang diproyeksikan menjadi salah satu penopang ambisi pemerintah dalam memperkuat produksi garam nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rencana tersebut disampaikan Asisten I Sekretaris Daerah Kabupaten Rote Ndao, Anton Banepa. Menurutnya, waktu peresmian masih menyesuaikan agenda Presiden.
“Rencananya memang disesuaikan dengan jadwal Bapak Presiden, kemungkinan pada bulan Oktober mendatang,” ujar Anton kepada awak media, Rabu (09/09/2026).
Bukan sekadar seremoni, kehadiran Presiden di Rote Ndao nantinya diharapkan menjadi penanda dimulainya babak baru pengembangan industri garam berskala besar di daerah tersebut.
Dari Air Laut Menjadi Produksi Bernilai Ekonomi
Kawasan tambak garam Rote Ndao mengandalkan sistem evaporasi dengan memanfaatkan panas matahari serta aliran gravitasi antarkolam.
Air laut terlebih dahulu dipompa menuju pond 0 untuk menjalani proses penguapan. Selanjutnya, air bergerak melalui kolam-kolam secara berjenjang hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu sebelum dialirkan ke kolam kristalisasi.
Dari sinilah kristal garam terbentuk dan kemudian dipanen.
Siklus awal produksi hingga panen perdana membutuhkan waktu sekitar 64 hari. Setelah panen pertama, proses produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan dengan interval sekitar satu hingga dua minggu, tergantung ketebalan kristal garam.
Model produksi tersebut dirancang untuk memaksimalkan kondisi alam Rote Ndao sekaligus menciptakan pola produksi yang berkesinambungan.
Target Hampir 100 Ribu Ton Setahun
Tahap pertama kawasan tambak garam memiliki luasan sekitar 661 hektare, dengan area konstruksi kolam efektif mencapai sekitar 447 hektare. Sementara kolam kristal memiliki luas sekitar 61 hektare.
Dengan produktivitas yang ditargetkan mencapai 200 ton per hektare, zona pertama diproyeksikan menghasilkan sekitar 94.000 hingga 95.000 ton garam per tahun.
Potensi pengembangan bahkan masih terbuka lebar. Pemerintah menyiapkan pembangunan zona berikutnya dengan tambahan lahan sekitar 754 hektare di kawasan yang berdekatan.
Skala tersebut menunjukkan bahwa Rote Ndao tidak lagi sekadar dipandang sebagai daerah penghasil garam tradisional. Kawasan ini mulai diarahkan menjadi salah satu basis industri garam nasional.
Pemerintah pusat sebelumnya juga menegaskan pentingnya percepatan operasional K-SIGN agar manfaat pembangunan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Saat meninjau kawasan tersebut pada Mei 2026, Wakil Presiden Gibran Rakabuming menekankan bahwa proyek ini diharapkan membuka lapangan pekerjaan dan menghasilkan efek ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Tenaga Lokal Jadi Bagian Penting
Besarnya proyek tentu membutuhkan sumber daya manusia yang tidak sedikit.
Pemerintah Kabupaten Rote Ndao memastikan masyarakat lokal dipersiapkan untuk mengambil bagian dalam operasional tambak.
Sejumlah tenaga kerja lokal bahkan telah mulai mengikuti pelatihan teknis sebagai persiapan sebelum kawasan beroperasi penuh.
Dengan demikian, investasi di sektor garam diharapkan tidak berhenti pada peningkatan produksi komoditas, tetapi turut menciptakan lapangan pekerjaan baru dan menggerakkan usaha-usaha pendukung di sekitar kawasan.
Harapan tersebut sejalan dengan pesan pemerintah pusat saat meninjau K-SIGN bahwa penyerapan tenaga kerja lokal harus menjadi salah satu manfaat utama pembangunan kawasan industri garam.
Momentum Baru bagi Ekonomi Rote Ndao.
Jika rencana peresmian pada Oktober 2026 terealisasi, momentum tersebut akan menjadi salah satu tonggak penting bagi perjalanan K-SIGN Rote Ndao.
Di balik hamparan kolam-kolam garam, terdapat harapan agar investasi berskala besar ini mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat: pekerjaan baru, tumbuhnya aktivitas ekonomi, meningkatnya produksi garam nasional, serta terbentuknya ekosistem industri di wilayah kepulauan.
Rote Ndao kini tengah menunggu satu momentum penting—ketika proyek yang selama ini dibangun dan diuji mulai memasuki fase produksi dan pengembangan yang lebih luas.
Dari pesisir Rote Ndao, produksi garam ditargetkan bukan hanya memenuhi kebutuhan daerah, tetapi ikut memperkuat langkah Indonesia menuju kemandirian garam nasional.*




















