onlinentt.com-Kupang— Malam di Rumah Aspirasi Usman Husin, Kupang, Jumat (28/8/2026), terasa berbeda. Puluhan anak muda bersama orang tua mereka berkumpul membawa satu cerita yang sama: tentang harapan untuk tetap melanjutkan pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Sebanyak 71 calon mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) malam itu bersiap meninggalkan kampung halaman menuju Surabaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka bukan sekadar hendak menempuh perjalanan antarpulau, tetapi sedang membuka lembaran baru dalam hidup melalui kesempatan pendidikan yang sebelumnya nyaris sulit mereka raih.
Ke-71 calon mahasiswa tersebut berasal dari sejumlah daerah.
Kabupaten Kupang menyumbang 13 orang, Rote Ndao 7 orang, Timor Tengah Selatan (TTS) 7 orang,
sementara 44 lainnya berasal dari wilayah Sumba.
Mereka dijadwalkan bertolak menuju Surabaya menggunakan kapal laut pada Sabtu (29/08/2026).
Di antara wajah-wajah penuh semangat itu, terselip haru para orang tua. Ada doa yang dipanjatkan, ada pesan yang dititipkan, dan ada harapan besar agar anak-anak mereka dapat kembali suatu hari nanti dengan membawa gelar serta ilmu yang bermanfaat.
Kesempatan tersebut hadir melalui beasiswa penuh yang diperjuangkan Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PKB dari Dapil NTT II, Usman Husin.
Bagi Usman, keterbatasan ekonomi keluarga tidak boleh menjadi alasan bagi anak-anak NTT untuk mengubur impian mengenyam pendidikan tinggi.
“Jangan sampai anak-anak kita yang punya kemauan dan cita-cita untuk kuliah harus berhenti karena persoalan biaya. Kalau ada kesempatan, kita harus buka jalan agar mereka bisa melanjutkan pendidikan,” ujar Usman saat dihubungi dari Jakarta.
Meski dirinya bertugas di Komisi IV DPR RI yang memiliki ruang lingkup pertanian, lingkungan hidup, kehutanan, serta kelautan dan perikanan, Usman melihat persoalan masyarakat tidak selalu dapat dipisahkan oleh batas-batas bidang komisi.
Menurut dia, ketika ada anak-anak NTT yang memiliki kemauan belajar tetapi terbentur persoalan biaya, maka harus ada upaya untuk membantu membuka akses.
Melalui komunikasi, koordinasi dan lobi dengan berbagai pihak, kesempatan beasiswa tersebut akhirnya dapat diwujudkan.
Bukan Sekadar Beasiswa, Tetapi Membuka Jalan
Usman menegaskan, pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Karena itu, kesempatan yang sudah diberikan harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Ia berharap para penerima beasiswa mampu menjalani pendidikan dengan sungguh-sungguh hingga menyelesaikan kuliah tepat waktu.
“Saya berharap mereka bisa menyelesaikan kuliah dengan baik. Jangan sia-siakan kesempatan ini.
Setelah selesai, saya berharap ilmu yang diperoleh bisa digunakan untuk membantu masyarakat dan membangun daerah,” katanya.
Program tersebut juga bukan kali pertama dilakukan.
Tenaga Ahli Usman Husin, Yorim Boimau, mengatakan program pemberian kesempatan pendidikan melalui beasiswa telah berjalan sejak tahun sebelumnya.
“Program ini sudah berjalan sejak tahun lalu. Selain dari Rote, ada juga anak-anak dari daerah lain di NTT yang mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan,” jelas Yorim.
Menurutnya, pengalaman dan testimoni penerima beasiswa pada tahun sebelumnya menjadi salah satu dorongan agar program tersebut terus dilanjutkan.
“Testimoni dari anak-anak yang mendapatkan beasiswa tahun lalu juga bagus. Mereka bisa melanjutkan pendidikan dan menjalani kuliah dengan baik,” ujarnya.
Perhatian juga diberikan hingga tahap persiapan keberangkatan.
Yorim mengatakan Usman menugaskan seorang staf secara khusus untuk membantu mempersiapkan berbagai kebutuhan calon mahasiswa sebelum mereka meninggalkan NTT menuju Surabaya.
“Jadi bukan hanya bagaimana mereka mendapatkan beasiswa, tetapi juga bagaimana mereka dipersiapkan sebelum berangkat,” katanya.
Elza: Kekhawatiran Berubah Menjadi Harapan
Salah satu penerima beasiswa, Elza Manuain, mengaku kesempatan tersebut menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya dan keluarga.
Ia mengaku sebelumnya sempat diliputi kekhawatiran karena kondisi ekonomi orang tua membuat rencana melanjutkan pendidikan terasa berat.
Kini, kekhawatiran tersebut perlahan berubah menjadi keyakinan untuk menatap masa depan.
“Saya mau menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Usman atas bantuan yang diberikan, sehingga kami bisa mendapatkan kesempatan kuliah di Surabaya dan mendapatkan beasiswa,” ungkap Elza.
Ia berharap dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu sehingga dapat membahagiakan kedua orang tuanya.
“Semoga kami bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu dan membahagiakan orang tua,” katanya.
Orang Tua Melepas dengan Doa
Bagi orang tua, keberangkatan anak-anak mereka bukan sekadar perpisahan sementara. Ada impian yang ikut berangkat bersama anak-anak mereka.
Jeni Rosiana Sapitu, warga Desa Pakubaun, Kabupaten Kupang, misalnya. Anaknya mendapat kesempatan menempuh pendidikan D3 Kebidanan melalui program tersebut.
Jeni berharap beasiswa yang diterima dapat mendampingi anaknya hingga menyelesaikan seluruh pendidikan.
“Harapan kami semoga sampai habis selesai kuliah, beasiswa ini bisa cukup untuk anak kami. Kami berdoa supaya mereka bisa berhasil dan sukses,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah membantu proses tersebut, khususnya Usman Husin.
“Kami juga berterima kasih kepada semua yang sudah mengurus, terutama Bapak Usman Husin,” katanya.
Bagi keluarga penerima, beasiswa ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar bantuan biaya pendidikan.
Beasiswa tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan keterbatasan hari ini dengan harapan masa depan.
Dari Kupang, Rote Ndao, TTS dan Sumba, 71 anak muda NTT kini membawa satu tekad yang sama: belajar, menyelesaikan pendidikan, dan kelak kembali membawa pengetahuan serta pengalaman untuk memberi manfaat bagi keluarga dan daerah asal mereka.
Perjalanan menuju Surabaya pun menjadi awal dari sebuah cerita baru—bahwa keterbatasan ekonomi tidak selamanya harus menjadi akhir dari sebuah cita-cita.*




















