Jejak Kaki Telanjang dan Air Mata, Anak Dusun Mundek Akhirnya Menjadi Doktor Cumlaude

- Redaksi

Senin, 7 September 2026 - 22:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : John Henuk Editor : Redaksi
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

onlinentt.com-Rote Ndao | Dari Dusun Mundek, Desa Lidor, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, seorang anak pernah berjalan kaki tujuh kilometer melewati hutan tanpa alas kaki demi sampai ke sekolah.

 

Hari ini, anak itu telah bergelar Dr. Anderias Henukh, M.Pd., setelah berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dengan predikat cumlaude pada 20 Agustus 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Namun, di balik toga dan gelar akademik itu, ada cerita yang jauh lebih dalam dari pada sekedar keberhasilan.

Ada masa kecil yang penuh keterbatasan. Ada perjalanan panjang yang melelahkan. Ada keringat yang jatuh di sepanjang jalan. Ada pengorbanan keluarga. Dan ada air mata yang mungkin hanya diketahui oleh mereka yang benar-benar menjalani perjuangan tersebut.

 

Kisah itu kembali dikenang Anderias ketika ia pulang ke kampung halaman dan mengikuti acara syukuran bersama keluarga dan masyarakat di Dusun Mundek, Jumat (04/09/2026).

 

Di hadapan keluarga, para guru, tokoh masyarakat, tokoh agama dan warga, Anderias menceritakan kembali perjalanan hidupnya.

 

Bukan dengan kesombongan seorang yang telah mencapai pendidikan tertinggi, tetapi dengan kerendahan hati seorang anak kampung yang tidak pernah melupakan dari mana dirinya berasal.

 

Ketika masih bersekolah di SD Inpres Balaoli, Anderias harus berjalan kaki dari Oelufa menuju sekolah. Jarak sekitar tujuh kilometer harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati kawasan hutan.

 

Tidak selalu ada alas kaki yang bisa digunakan. Tidak ada kendaraan yang mengantar. Yang ada hanyalah langkah kaki kecil dan keinginan untuk tetap bersekolah.

 

Bagi anak seusianya, perjalanan sejauh itu tentu sangat melelahkan. Namun Anderias kecil terus berjalan. Setiap hari, ia menapaki jalan yang sama dengan membawa satu harapan sederhana: bisa belajar dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Baca Juga :  Wakapolda Banten Pimpin Penandatanganan Pakta Integritas Penerimaan SIPSS 2021

 

Mungkin tidak banyak orang yang melihat perjuangan itu.

Tidak banyak yang tahu berapa kali rasa lelah membuat langkah terasa berat. Tidak banyak yang tahu bagaimana seorang anak kampung harus menahan keadaan ketika keinginan bersekolah jauh lebih besar daripada kemampuan ekonomi keluarga.

 

Tetapi semua itu dilaluinya.

Dengan keterbatasan yang ada.

Dengan air mata yang mungkin jatuh diam-diam.

 

Dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan yang harus diperjuangkan.

Dalam mengenang masa sekolahnya, Anderias bahkan masih mampu tersenyum dan bercanda tentang pengalaman bersama teman-temannya.

 

“Teman-teman saya tidak naik kelas, tetapi karena saya punya kesempatan belajar, sambil makan buah kusambi, saya bisa naik kelas,” kenangnya.

Kalimat sederhana itu terasa begitu dalam.

 

Sebab, di balik cerita tentang buah kusambi dan masa sekolah, terdapat seorang anak yang belajar menghargai kesempatan yang mungkin bagi orang lain terlihat biasa, tetapi baginya sangat berharga.

 

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, langkah Anderias terus berlanjut. Ia menempuh pendidikan di SMP ITA ESA dan SMA Negeri 1 Kupang, kemudian melanjutkan pendidikan sarjana di UNIKA Kupang, magister di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), hingga pendidikan doktoral di UPI Bandung.

 

Semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin besar pula perjuangan yang harus dijalani.

Di perantauan, Anderias pernah menjadi guru honorer dengan penghasilan yang sangat terbatas. Kehidupan tidak serta-merta menjadi mudah hanya karena ia telah meninggalkan kampung halaman.

 

Untuk mengikuti perkuliahan, ia harus bangun sekitar pukul 04.00 dan menggunakan transportasi umum menuju kampus.

 

Saat banyak orang masih terlelap dalam tidur, ia sudah bersiap menjalani hari. Tubuh mungkin lelah. Pikiran mungkin penuh. Kebutuhan hidup terus berjalan. Namun, kuliah harus tetap dilanjutkan.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Pameran, Paulus Henuk Dorong Expo UMKM Jadi Mesin Perputaran Ekonomi dan Ruang Tumbuh Talenta Muda Rote Ndao

 

Ia tidak punya banyak pilihan selain bertahan. Sebab, di dalam dirinya telah tertanam keyakinan bahwa perjuangan yang sedang dijalani bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk membuktikan bahwa anak dari kampung kecil pun memiliki hak untuk bermimpi setinggi-tingginya.

 

Saat menempuh Program Studi Pendidikan IPA, tantangan akademik kembali menghadang. Tidak banyak mahasiswa yang dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu.

 

Namun Anderias kembali memilih untuk bertahan. “Saya harus berusaha keras membuktikan kepada guru-guru besar bahwa walaupun kami dari kampung, kami mampu,” ucapnya.

 

Kini, perjuangan itu telah sampai pada sebuah titik yang membanggakan.

Gelar doktor berhasil diraih dengan predikat cumlaude.

 

Tetapi ketika kembali ke kampung halaman, yang keluar dari mulut Anderias bukanlah kata-kata tentang kebesaran dirinya.

 

Ia justru berbicara tentang kesempatan.

“Ini bukan kesombongan diri dan bukan pula kebanggaan diri. Ini adalah semangat dan motivasi bagi adik-adik semua. Tunjukkan bahwa di mana pun dan kapan pun, ketika kita memiliki kesempatan, kita siap dan kita mampu,” katanya.

 

Ia ingin anak-anak kampung tidak merasa rendah diri hanya karena berasal dari desa.

 

Ia ingin mereka percaya bahwa keterbatasan bukanlah vonis atas masa depan.

 

Dalam suasana syukuran itu, Anderias juga mengenang jasa para guru yang telah membentuk perjalanan pendidikannya.

 

“Saya sangat merasakan jasa dan peran penting guru-guru dalam kehidupan dan pendidikan kita. Tanpa jasa para guru, mungkin saja saya tidak akan berdiri di sini,” tuturnya.

 

Ucapan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan seseorang tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.

Baca Juga :  Balik Nama Sertipikat Kini Lebih Pasti, 17 Kantah Mulai Terapkan Layanan Terintegrasi 10 Hari

Ada guru yang pernah mengajarkan huruf dan angka.

 

Ada keluarga yang bertahan dalam keterbatasan. Ada orang-orang yang memberi dukungan ketika langkah hampir berhenti. Dan ada perjalanan panjang yang penuh pengorbanan.

 

Anderias berharap kisahnya dapat menjadi semangat bagi generasi muda di Dusun Mundek, Desa Lidor, Kecamatan Rote Barat Laut dan Kabupaten Rote Ndao.

 

Ia ingin semakin banyak anak kampung yang berani bermimpi dan berjuang mendapatkan pendidikan setinggi mungkin.

 

Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan dan saling menopang.

 

Di akhir pesannya, Anderias mengutip Amsal 23:18: “Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.”

 

Kalimat itu seakan menjadi rangkuman perjalanan hidupnya. Dahulu, ada seorang anak yang berjalan kaki tujuh kilometer melewati hutan tanpa alas kaki. Hari ini, anak itu telah berdiri dengan toga doktor.

 

Jalan yang dahulu dilalui dengan kaki kecil kini menjadi kenangan.

Rasa lelah yang pernah ditahan menjadi cerita.

 

Keringat yang pernah jatuh menjadi saksi. Dan air mata yang mungkin pernah disembunyikan kini berubah menjadi kebahagiaan yang dirasakan bersama keluarga dan masyarakat.

Gelar doktor itu bukan sekadar gelar akademik.

 

Ia adalah pengingat bahwa di balik sebuah keberhasilan, sering kali terdapat perjuangan yang tidak terlihat oleh mata.

 

Dan dari Dusun Mundek, kisah seorang anak yang pernah menapaki jalan panjang dengan kaki telanjang kini meninggalkan pesan bagi generasi berikutnya:

 

Jangan menyerah hanya karena hidup dimulai dari kekurangan. Sebab, terkadang dari jalan yang paling sulit dan air mata yang paling dalam, lahirlah sebuah masa depan yang paling indah.*

Berita Terkait

Kehilangan yang Tak Mudah, Bupati Paulus Henuk Sampaikan Belasungkawa dan Doa Penguatan bagi Charli Lian dan Keluarga
Dari Pulau Rote ke Panggung Nasional, Paulus Henuk Bawa Gagasan Besar tentang Keadilan Fiskal Daerah
Dari Evaluasi Menuju Aksi, Wabup Rote Ndao Dorong Dinas PMD Perkuat Tata Kelola Pemerintahan Desa
Bukan Sekadar Pameran, Paulus Henuk Dorong Expo UMKM Jadi Mesin Perputaran Ekonomi dan Ruang Tumbuh Talenta Muda Rote Ndao
Bupati Paulus Henuk Pacu Optimalisasi PAD, Tekankan Kolaborasi Lintas OPD untuk Kejar Target Pendapatan Daerah
Setengah Ton Beras Jadi Simbol Kepedulian, Jane Natalia Suryanto Kembali Dekat dengan Warga
Bikin Pengunjung Terpukau, Tarian Kebalai SMPN 1 Lobalain Jadi Magnet di Expo UMKM 2026
Bupati Paulus Henuk Buka Ruang Kolaborasi, Klasis Rote Barat Daya Bahas Persiapan Sidang Klasis

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 22:14 WITA

Jejak Kaki Telanjang dan Air Mata, Anak Dusun Mundek Akhirnya Menjadi Doktor Cumlaude

Jumat, 4 September 2026 - 05:05 WITA

Dari Pulau Rote ke Panggung Nasional, Paulus Henuk Bawa Gagasan Besar tentang Keadilan Fiskal Daerah

Kamis, 3 September 2026 - 19:01 WITA

Dari Evaluasi Menuju Aksi, Wabup Rote Ndao Dorong Dinas PMD Perkuat Tata Kelola Pemerintahan Desa

Selasa, 1 September 2026 - 05:14 WITA

Bukan Sekadar Pameran, Paulus Henuk Dorong Expo UMKM Jadi Mesin Perputaran Ekonomi dan Ruang Tumbuh Talenta Muda Rote Ndao

Selasa, 1 September 2026 - 04:58 WITA

Bupati Paulus Henuk Pacu Optimalisasi PAD, Tekankan Kolaborasi Lintas OPD untuk Kejar Target Pendapatan Daerah

Minggu, 30 Agustus 2026 - 08:34 WITA

Setengah Ton Beras Jadi Simbol Kepedulian, Jane Natalia Suryanto Kembali Dekat dengan Warga

Minggu, 30 Agustus 2026 - 06:58 WITA

Bikin Pengunjung Terpukau, Tarian Kebalai SMPN 1 Lobalain Jadi Magnet di Expo UMKM 2026

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 03:44 WITA

Bupati Paulus Henuk Buka Ruang Kolaborasi, Klasis Rote Barat Daya Bahas Persiapan Sidang Klasis

Berita Terbaru