DPD PARINDRA NTT Beri Ultimatum Kepada BPKP NTT

- Redaksi

Sabtu, 23 Januari 2021 - 22:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

onlinentt. com-Kupang- Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Pergerakan Pelajar Indonesia Raya (PARINDRA) Provinsi Nusa Tenggara  Timur (NTT) memberi ultimatum alias peringatan terakhir kepada Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi Nusa TenggaraTimur (BPKP NTT) terkait hasil Perhitungan Kerugian Negara (PKN) oleh BPKP kasus dugaan korupsi Dana Bantuan Sosial (Bansos) pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Sabu Raijua tahun anggaran (TA) 2013, 2014, dan 2015 sebesar Rp 35,3 M¸ yang mana sejak Juli 2019 hingga saat ini belum ada informasi apakah PKN itu telah dilakukan ataukah belum.

Demikian disampaikan DPD PARNDRA NTT dalam press rilis yang diterima tim media ini melalui pesan WhatsApp/WA pada Jumat (22/01/2021).

“Pihak Kejati NTT telah mengekspos kasus Bansos tersebut sejak Juni 2019 sebagaimana diakui juga oleh Kepala Tata Usaha BPKP perwakilan NTT Sasana D.A, namun hingga Juli 2019 pihak BPKP perwakilan NTT belum membentuk tim pemeriksa dan belum melakukan PKN (media citranusaonline.com tanggal 15/7/2019). Juga ditegaskan kembali oleh Kepala Kejaksaan Tinggi NTT saat pertemuan dengan DPD Parindra NTT pada kamis 30 Januari 2020 bahwa hingga saat ini Kejati NTT masih menunggu PKN kasus Bansos Sarai oleh BPKP perwakilan NTT¸” tulis PARINDRA NTT.

Menurut DPD PARINDRA NTT¸ bahwa sesuai pertemuan BPKP Perwakilan NTT dengan DPD PARINDRA NTT (pada saat audiens tertanggal 04 Februari 2020 di Kantor BPKP), pihak BPKP mengatakan belum membentuk tim pemeriksa dan belum melakukan PKN dengan alasan hingga saat ini¸ masih ada kekurangan dokumen yang belum dilengkapi Kejati NTT sehingga proses PKN terkait kasus tersebut belum dilakukan.

“BPKP perwakilan NTT juga mengatakan bahwa menjelang Pilkada serentak sehingga kasus-kasus yang ada kaitannya dengan Petahana ditunda hingga berakhir Pilkada. BPKP Perwakilan NTT juga mengatakan keterbatasan personil untuk membentuk TIM dalam menangani kasus ini. Selain itu, ada kasus-kasus besar yang sementara ditangani sehingga kasus Bansos Sabu Raijua belum ditindaklanjuti¸” beber PARINDRA NTT.

Momen Pilkada telah berakhir pada tanggal 9 Desember 2020, lanjut PARINDRA NTT¸ kasus besar (NTT Fair) juga telah selesai. Namun, kasus Bansos Sabu Raijua telah berulang tahun kesekian kalinya.

Baca Juga :  Bupati Paulus Henuk Bersama Tim Kemenko Pangan, Sekretaris Dirjen PK KKP, Tinjau Kawasan Sentra Industri Garam Nasional

Menurut PARNDRA NTT¸ Hal tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengapa BPKP NTT hingga saat ini (tahun 2021¸red) belum juga melakukan PKN terkait Kasus Bansos Sabu Raijua? Apa kendalanya? Apakah benar Kejati NTT hingga saat ini belum juga melengkapi bukti/dokumen yang diminta untuk melakuakan PKN?

Lambatnya BPKP Perwakilan NTT¸ kata PARNDRA NTT¸ dalam melakukan PKN yang berdampak buruk pada penanganan kasus tersebut terkesan molor oleh Kejati NTT. Berdasarkan hal tersebut, maka DPD Parindra NTT mempertanyakan kembali dan menyatakan ultimatum kepada BPKP NTT sebagaimana berikut:

1. Mendesak BPKP Perwakilan NTT agar SEGERA melakukan Perhitungan Kerugian Negara (PKN) kasus Bansos Sabu Raijua paling lambat 1 bulan sejak pernyataan ini disampaikan, sehingga pihak Kejati NTT bisa mengetahui besaran kerugian negara yang ditimbulkan sehingga dapat menaikan status kasus tersebut dari para saksi yang telah diperiksa.

2. BPKP perwakilan NTT harus melakukan PKN Bansos Sabu Raijua secara teliti, jujur, dan bertanggung jawab serta menyampaikan hasilnya secara transparan kepada Kejati NTT dan masyarakat Sabu Raijua.

Baca Juga :  Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk Kembali Datangi Lokasi Rencana Pembangunan Jober

3. BPKP perwakilan NTT sebagai lembaga Independen harus melakukan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai amanat Perpres N0.192 tahun 2014, dan tidak boleh terlibat dengan kepentingan apapun dengan para pihak yang terkait dalam kasus Bansos tersebut.

4. Mengecam dengan Keras dan berikan sanksi tegas¸ apabila ada oknum BPKP perwakilan NTT bersama para pihak yang terkait Bansos Sarai dengan sengaja “bermain mata” untuk mengulur-ulur waktu PKN kasus Bansos tersebut untuk tujuan tertentu.

5. BPKP Perwakilan NTT juga harus mengontrol dan mengawasi serta mengaudit adanya pembangunan yang mangkrak seperti jalan dan gedung kantor DPRD serta stadion di Kabupaten Sabu Raijua.

6. BPKP perwakilan NTT harus proaktif dan sigap serta cepat dalam merespon setiap permintaan PKN dalam mengusut dugaan korupsi uang negara yang menghambat pembangunan di daerah-daerah di provinsi NTT.
7. BPKP perwakilan NTT harus proaktif dan melibatkan masyarakat untuk mengontrol dan mengawasi penggunaan keuangan negara dan pembangunan di daerah-daerah di provinsi NTT sehingga mencegah terjadinya tindak pidana korupsi.

Berita Terkait

Dari Tambak Rote Menuju Pasar Jawa, Paulus Henuk Buka Jalur Logistik Garam
K-SIGN Mulai Ditopang Infrastruktur Energi, Paulus Henuk Dorong PLN dan Siapkan Jobber BBM
Bukan Sekadar Dibangun, K-SIGN Harus Dikawal: Paulus Henuk Perketat Pengawasan dari Jakarta
Dari Ruang Kemenkes ke Tanah Leluhur: Paulus Henuk Bawa Semangat Rote Mengajar Menjemput Inspirasi dari Putra Rote
Perkuat Sistem Pengendalian Intern, Pemkab Rote Ndao dan BPKP Bangun Fondasi Tata Kelola Pemerintahan Berintegritas
Dari Ruang Diskusi ke Arena UMKM, Paulus Henuk Pastikan Pembangunan Bergerak Bersama
Kelangkaan BBM Kembali Lumpuhkan Rote Ndao, Antrean Mengular di SPBU Metina, Warga Pertanyakan Distribusi
Dari Pulau Terluar Menuju Pusat Industri Garam Nasional, Tiga Menteri Pastikan Masa Depan K-SIGN Rote Ndao
Tag :
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 05:51 WITA

Festival Rote Malole 2026 Jadi Ruang Hidupkan Warisan Budaya Rote Ndao

Kamis, 13 Agustus 2026 - 06:42 WITA

Halo #SobATRBPN, Kementerian ATR/BPN terus bertransformasi untuk menghadirkan pelayanan pertanahan yang lebih cepat, aman, dan modern.

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:59 WITA

Dari Oebatu Letekik, Suara Rakyat Menjadi Peta Perjuangan Melkianus Haning

Kamis, 6 Agustus 2026 - 06:01 WITA

Dari Kupang untuk Rote Ndao: Paulus Henuk Kawal Agenda Pertanahan Demi Masa Depan Pembangunan Daerah

Senin, 27 Juli 2026 - 21:04 WITA

Bupati Paulus Henuk Lepas Kepergian ASN Dinas Perhubungan, Tegaskan Pengabdian Tak Pernah Berakhir oleh Waktu

Senin, 27 Juli 2026 - 20:57 WITA

Bupati Paulus Henuk Matangkan Agenda Reformasi Birokrasi, Pengisian Jabatan Strategis Jadi Prioritas Agustus 2026

Senin, 27 Juli 2026 - 20:48 WITA

Bangun Pendidikan Berbasis Kolaborasi, Bupati Paulus Henuk Siapkan Forum Peningkatan Kapasitas Guru dan Kepala Sekolah

Kamis, 23 Juli 2026 - 06:43 WITA

Kolaborasi Ilmu dan Pemerintahan, Bupati Paulus Henuk Sambut Pengabdian Undana untuk Percepat Pembangunan Berbasis Potensi Lokal

Berita Terbaru