Menurutnya, ketersediaan lahan dan air untuk menanam jagung di musim panas sangat terbatas. “Jadi tidak bisa dipaksakan hingga 40 ribu Ha setahun. Yang 10 ribu Ha tahun 2020 saja hanya sekitar 1.000 Ha atau hanya 10% saja yang ditanam. Kenapa uang sebanyak itu dipakai untuk tanam jagung dimusim panas yang sudah pasti gagal karena kekeringan,” ungkapnya.
Mado Watun mempertanyakan pihak yang bertanggungjawab atas penggunaan uang negara yang terkesan dihambur-hamburkan untuk kegiatan TJPS. “Lalu siapa yang bertanggungjawab terhadap penggunaan uang sebanyak itu yang hanya menghasilkan sapi 400-an ekor. Ingat, judulnya Tanam Jagung Panen Sapi … bos! Bukan Tanam Jagung panen babi, kambing apalagi ayam,” kritik Mado Watun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
.
Mantan Wakil Bupati Lembata ini mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diperoleh pihaknya, program tersebut gagal total karena mengalami gagal tanam, kekeringan, dan gagal panen. “Dari target 10.000 Ha, hanya ditanam 1.000 Ha lebih (periode April-September/Asep, red). Karena tidak dapat ditanam di musim kering, maka terpaksa ditanam di musim hujan,” ungkapnya.

Ikuti Kami
Subscribe































