Episode VI, Menapaki Sejarah Pohon Lontar Versi Orang Ti

394

Perspektif Orang Rote Ti Terhadap Pohon Lontar

3. Pelepah Lontar

Pelepah Lontar atau oleh etnis Rote umumnya dikenal dengan, “Beba tua”, memiliki panjang lebih kurang 2 sampai dengan 5 meter. Kalau beba tua lontar yang masih berusia muda biasanya pada pinggiran bebaknya bergerigi dan tajam. Sedangkan, sudah tua tidak bergerigi.

Sampai dengan hari ini beba tua masih dipergunakan sebagai media untuk pagar Sawah, kebun, ladang dan pekarangan rumah.

Beba tua juga dapat berfungsi sebagai alat pikul/pemikul beban atau dalam dialeg setempat bernama,”Lelembak/lelepak”.

Material lontar ini pun dapat diiris/disayat berukuran kecil mirip tali temali dan digunakan sebagai pengikat tiang rumah adat, tinggal dan rumah kebun, pengikat atap rumah, hewan besar atau kecil, pengikat batu, pengikat batang lontar untuk membuat tangga naik dan turun ke pohon lontar dan pengikat benda serta barang tertentu lainnya.

Selain itu, bisa pula berfungsi sebagai sisipan/ dalam anyaman aksesoris tradisional etnis Rote, seperti bakul, lo’ak, tikar daun lontar, lu’ak, lalarik, (semua media tersebut dalam sebutan dialeg lokal etnis Rote yang merupakan media penampungan makanan dan hewan kecil, seperti anak ayam, burung dan lainnya).

Bahkan bila beba tua sudah kering selain sebagai media pagar juga dimanfaatkan sebagai pengganti kayu bakar serta dapat berfungsi sebagai material mainan anak-anak, contohnya, pertama, beba tua dipotong pendek dibentuk, seperti curut kurang lebih 50 centi meter, sebagai penggiling ban sepeda motor bekas.

Kedua, dua buah beba tua, depannya, masing-masing dipaku sebuah kayu melintang. Kayu tersebut akan berfungsi sebagai tempat injak.

Lalu bila seseorang anak hendak memainkannya cuma dengan menginjakan kaki pada kedua kayu sebagai tempat injak itu.

Kemudian kedua tangan memegang ujung beba tua sehingga bisa dimajukan kemana saja, terserah yang memainkan permainan ini.

Permainan-permainan semacam itu, hampir ada di seluruh pelosok kampung di Pulau Rote dan Ndao dan di masa kecil, penulis pernah menjalaninya.

4. Daun Lontar

Daun lontar bagi etnis Rote atau orang Rote Ti adalah media yang dapat digunakan sebagai penutup rumah atau atap rumah/pondok/gapura/moa atau lainnya.

Setelah hadirnya media, seperti seng, baru penggunaan media daun lontar semakin berkurang dan saat ini hanya bisa terlihat pada bangunan atau rumah penduduk di perkampungan atau desa.

Disamping itu daun lontar pun dapat dipergunakan sebagai media untuk anyaman aksesoris tradisional, seperti tikar, tembikar, ketupat, sosorok, haik, sambak, laleo, So langga, (Ti’i langga), alas kaki tradisional etnis Rote, (Taa taba eis), pengikat kepala, payung tradisional oleh etnis Rote dikenal dengan nama, “suneru”, sebagai media untuk menuliskan silsilah keturunan atau keluarga dan lainnya.

Mula-mula nenek moyang etnis Rote khususnya orang Rote Ti, yang belum mengenal pukat jala dan tali mancing, daun lontar dijadikan sebagai jala atau pukat untuk menangkap ikan pada saat laut sedang surut/meting.

Selain itu, daun muda atau dalam dialeg etnis Rote secara umum atau orang Rote Tii, disebut, tua mbolo, dapat dimanfaatkan sebagai pengganti kertas untuk membuat rokok tradisional etnis Rote secara umum, yang dalam dialeg setempat disebut, “Modo Mboro, (red= tembakau daun).

5. Lidi Lontar

Lidi lontar sama halnya dengan daun lontar, dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis anyaman tetapi semua tergantung kebutuhan.*jh 

Ikuti Terus sejarah Pohon Lontar Versi Orang Ti hanya ada di onlinentt.com 

 

Comments
Loading...