
Gambar : Tampak Johanes Henuk sedang persiapan mengikuti kegiatan adat di Puncak Gunung Ti Mau, Foto : 2023
onlinentt.com-Rote Ndao-Limbe/Limba, (HUS), merupakan sebutan perayaan kegembiraan hasil panen atau bisa dikatakan sebagai pesta panen dan atau upacara syukuran panen yang telah mentradisi di kalangan masyarakat adat Kabupaten Rote Ndao.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Limbe/Limba, (HUS), biasanya dilakukan sebagai sarana komunikasi kepada pemilik/penguasa langit dan bumi meliputi dua hal penting, misalnya pada musim menjelang penanaman maupun setelah panen.
Di tahap awal penanaman, biasanya masyarakat adat Rote Ndao memohon kepada penguasa langit, (teluk aman lai Londa/teluk ana), untuk menurunkan curah hujan yang lancar dan baik agar pada tahap ini tanaman yang ditanam dapat tumbuh, berkembang dan subur serta mendapatkan hasil yang berlimpah.
Sedangkan, setelah panen sebagai rasa syukur atas hasil panen yang berlimpah atau selesai dilakukan kepada pemilik/penguasa langit dan bumi.
Disamping itu, perayaan ini juga merupakan sarana untuk mempererat persatuan dan atau persahabatan antara warga/kampung/nusak guna menjaga pelestarian budaya dengan mewariskan nilai-nilai luhur dari para leluhur yang dipoles dalam bentuk adat dan budaya/tradisi yang unik, misalnya ritual adat, pacuan kuda, tarian, foti, adu ketangkasan,/silat kampung, (Li Butu), dan musik tradisional, (sasando, gong+tambur), dan kebalai.
Ironisnya lagi, menurut sejumlah tetua adat yang enggan namanya dipublish, bahwa pada zaman dahulu/leluhur, di pesta perayaan Limbe/Limba, (HUS), dijadikan/dimanfaatkan sebagai ajang/momentum pencarian jodoh/pasangan hidup, (bawa lari anak/istri orang).
Nanti, setelah dilarikan anak/istri orang, barulah dilakukan adat/denda yang nilainya sangat fantastis. Kalau yang dilarikan anak orang, (gadis) maka belis yang diminta oleh pihak keluarga nilainya tak terhingga.
Sementara, bila yang dilarikan adalah istri orang maka denda adat yang diberlakukan dua kali lipat. Pertama, mengembalikan belis kepada suami pertama yang telah membayar belis.
Kedua, membayar belis lagi kepada pihak orang tua dari perempuan.
Selain itu, ada tradisi lainnya, penulis pernah menyaksikan itu, di Dusun Soruk Desa Persiapan Soruk Kecamatan Rote Barat Daya pada Tahun 1987, yaitu pernah terjadi perkawinan usia dini, mulai dari usia 11 tahun ke atas, baik laki laki atau pun perempuan),
Bahkan dahulu juga pernah berlaku dan diakui oleh adat dan budaya orang Rote Ndao, yaitu kawin lari dan kawin tangkap. Jenis tradisi ini perkawinan terkesan pemaksaan perkawinan sehingga dengan bergesernya peradaban, tradisi ini mulai punah dan sudah tidak berlaku hingga saat ini karena dinilai juga sangat bertentangan dengan aturan perundang-undangan perkawinan dan aturan, norma serta kaidah agama.
Dalam kalangan masyarakat adat Rote Ndao, pesta pertanian ini disebut, “LIMBA/LIMBE”, Kemudian berubah nama lagi menjadi, “HUS”.
Sementara, kata “LIMBA/LIMBE”, tidak ditemukan dalam kamus bahasa Rote Ndao yang memiliki arti. Namun bila disinkronkan ke dalam kamus bahasa Indonesia, “LIMBA/LIMBE”, apakah berarti sama dengan LIMBAH.
Sedangkan untuk kata LIMBAH sendiri dalam bahasa Indonesia berarti sisa-sisa pekerjaan produksi berupa sampah yang tidak terpakai/bermanfaat.
Jadi kalau dipaksakan disandingkan dengan LIMBA/LIMBE/HUS apakah kita bisa berkesimpulan bahwa apa yang dilakukan berupa LIMBA/LIMBE dapat bermakna, bahwa perayaan pertanian masyarakat Rote Ndao tersebut merupakan pelepasan rasa lelah, dan atau pembuangan sampah dari sisa-sisa usaha produksi pertanian?.
Hal ini tentu penulis “mengembalikan” kepada pembaca untuk menyimak dan menafsirkan dari sudut pandang masing-masing.
Selanjutnya, setelah melalui beberapa dekade, kemudian nama “LIMBA/LIMBE” berganti menjadi HUS. Entah siapa yang menamakan/mengganti nama “LIMBA/LIMBE” menjadi HUS, sampai dengan saat ini tidaklah diketahui.
Namun diperkirakan pengaruh masuknya agama Kristen ke Rote Ndao di bawa oleh Raja Nusak Ti, Foe Mbura pada Tahun 1729.
Kata HUS juga merupakan sebuah kegiatan adat dan budaya yang memiliki nilai adat dan budaya yang sangat sakral dan mistik bagi masyarakat adat Rote Ndao.
Hal ini karena dalam penyelenggaraan syukurannya, ditujukan kepada dua kekuatan penguasa, (red=tidak ada kaitan dengan agama), yaitu Teluk Aman Lai Londa/Teluk Aman, (Penguasa Langit), dan Hak Aman Lepa Dae/Hak Aman, (Penguasa Bumi).
Lebih dari itu, terdapat sumber lain menyebut, bahwa nama HUS ini pertama kali, didengungkan oleh penganut agama Kristen Protestan, (red=Katholik apalagi Islam belum masuk ke Rote Ndao), dengan memiliki kepanjangan, “Hari Untuk Setan”.
Dari penuturan seorang tetua adat, bahwa dahulu, songgo/pemimpin berhala, (red=penulis tidak berani mengatakan Songgo adalah doa), dalam memanjatkan mantra-mantra magisnya hanya memiliki dua tujuan, pertama kepada dewa”matahari sebagai pemberi kekayaan” dan dewi “Bulan sebagai pemberi kekebalan tubuh”. Atau dalam syairnya, “Mane sai mana suri su’i ma ndu nosok mana ketu parani”.
Karena kiblat songgonya kepada matahari dan bulan yang dianggap sebagai dewa dan dewi maka setiap mengenakan aksesoris adat, pada kepala, (pada area kening), mereka selalu terlihat dan terpampang bula morik.
Dan dari salah seorang tokoh adat Rote Ti, mengungkapkan, LIMBE/LIMBA/HUS, di era kehidupan leluhur, pertama kalinya diadakan di langit. Di masa itu, persahabatan dan kekerabatan penguasa langit dan penguasa bumi masih sangat akrab dan bersahaja.
Peristiwa itu dapat dibuktikan dengan sebuah bunyi syair yang mengatakan, “Ara bei Tuti henur ma Ara bei sambu lilor fo Ara raba ma Ara kai. Ara reu ma Ara Mai, dae ma lain,”.
Artinya, “mereka masih mengikat muti dan menyambungkan emas sebagai tangga untuk naik. Mereka pergi dan datang di langit dan bumi”.
Begitu juga penutur lainnya, (disini penulis enggan menuliskan sumber literasi tuturannya. Hal ini demi Balai Pustaka penulis yang berkeinginan menerbitkan sebuah karya tertulis).
Penutur ini mengatakan, kabarnya pacuan kuda pertama kali terjadi di LIMBE/LIMBA/HUS langit dan kuda yang dipacu hanya berjumlah, tiga ekor.
Kuda kuda tersebut, antara lain, kuda berwarna putih, merah dan hitam. (nama mereka dalam tulisan ini, penulis tidak bisa menguraikannya karena sangat berbau mistik dan sakral).
Juga jenis kuda kuda ini dianggap sebagai kuda setan/ndara, (ndala), nituk sehingga untuk penutur, penulis atau siapa pun sulit dan takut menyebutkan nama mereka karena sangat membahayakan bagi yang menuturkannya.
Warna kuda kuda ini melambangkan status dalam pemerintahan di kerajaan langit. Untuk kuda berwarna putih diunggangi oleh penguasa langit.
Sedangkan merah, ditunggangi oleh pembantu penguasa langit atau dalam status pemerintahan kerajaan di bumi disebut fetor. Sementara kuda berwarna hitam penunggangnya adalah seorang panglima, (parani atau meo).
Berawal dari peristiwa itulah, kemudian, peralatan perang seperti kelewang, parang dan pisau orang Rote sampai dengan saat ini, gagangnya berbentuk “kaki kuda”.
Lebihnya lagi, karena kehidupan di bumi masih diselimuti kegegelapan, tidak ada cahaya pada malam hari dan tidak ada kehangatan pula, (leluhur masih memakan mentah dan berbulu). Yang dikenang dalam syair yang berbunyi, ‘ara bei folo buluk ma ra’a matak’.
Artinya, ‘mereka masih memakan daging mentah dan berbulu’, karena belum menemukan metode mendapatkan api.
Keberadaan api waktu itu masih berada di kediaman salah seorang leluhur di langit, bernama, Lata Lai, Silsilah leluhur ini sangat berbahaya sehingga sangat pantang bagi penulis untuk menuliskan trah silsilahnya dalam tulisan ini.
Karena sudah menjadi kebiasaan para leluhur mengambil api dengan memanjat ke langit maka suatu ketika mereka berpikir tentang bagaimana agar mereka tidak lagi ke langit setiap hari tetapi api juga ada di bumi.
Kemudian, karena mereka melihat setiap petir atau kilat menggelagar selalu menyambar batu kaa, (batu aik/batu api), maka diam-diam mereka mencuri jenis batu itu dan di bawa ke bumi. (Sampai hari ini jenis batu ini selalu menjadi sasaran , (musuh), sambaran petir maupun kilat.
Peristiwa pencurian tersebut kemudian diketahui oleh pemiliknya dan sejak saat itu hubungan kekerabatan antara manusia langit dan bumi pun terputus sehibgga tidak ada lagi perkunjungan ke langit maupun bumi.
Lalu lahirlah kutuk kepada masyarakat penghuni bumi, bahwa siapa yang mencuri barang berharga, hewan dan harta lainnya maka akan terkena sambaran petir dan kilat.
Begitu juga dengan siapa yang menyimpan dan atau memiliki jenis batu kaa juga terkena sambaran petir dan kilat.
Oleh karena itu, sampai dengan saat ini bagi orang Rote yang kehilangan barang, hewan dan harta, bila mereka melakukan ritual kepada trah silsilah dari leluhur ini, bagi yang melakukan atau turut terlibat dan ikut mencicipi hasilnya maka pasti akan terkena sambaran petir dan kilat hingga gosong.
Atas putusnya hubungan kekerabatan dan persaudaraan antara langit dan bumi, kemudian leluhur orang Rote Ndao melangsungkan hubungan kekerabatan lagi dengan penghuni laut.
Dan perayaan LIMBA/LIMBE/HUS kembali di adakan, baik di laut maupun darat. Saat di darat, penghuni-penghuni laut berdatangan, seperti buaya dan lain lain. Begitu juga sebaliknya.
Suatu hari di masa itu, perayaan LIMBA/LIMBE/HUS di kerajaan laut, ketika penghuni-penghuni darat di sana, mereka diundang untuk makan di rumah rumah warga. Dan setelah di dalam rumah, mereka mencium aroma daging enak dan sedap yang terbawa asap menyeruak melalui lubang hidung.
Hal itu mengundang penasaran seorang penghuni darat dengan spontan memberanikan diri mengintip ke tempat masak, (dapur umum).
Dalam pengintipan, ternyata dilihat sebuah tungku api, (ra’o), (tempat masak), dengan bara api dari kayu kayu yang telah dibakar bermuatan potongan daging mentah, (sedang melakukan bakaran/panggang daging).
Saat tiba moment makan bersama, para penghuni daratan merasakan enak, sedap dan niikmat yang luar biasa.
Hal ini membuat tanda heran bagi mereka dan mulailah timbul niat jahat dan keinginan selain untuk memiliki dan membawa api; juga makanan ke daratan sebagai bukti kemajuan di kerajaan laut.
Kemudian, karena takut ketahuan oleh masyakat kerajaan laut, mereka pun membawa sebuah bara api yang disimpan dan sembunyikan pada lipatan kain sarung/selimut, (sidi lu lulun).
Di sini, penulis di wanti wanti oleh nara sumber untuk tidak menuliskan nama si pencuri bara api dan makanan di kerajaan laut, karena konon bagi yang berkeinginan menjadi seorang pencuri handal dapat meritual, (songgo) namanya maka dinilai tidak baik dan layak dipublish.
Istilah ini lalu menjadi tradisi atau kebiasaan bagi orang Rote. Pada setiap pesta orang mati, nikah atau lainnya sering membawa daging dalam lipatan kain.
Hal semacam ini masih sering ditemui dalam kalangan masyarakat Rote Ndao. Namun biasanya masih terlihat atau ditemui di desa-desa atau kampung. Sedangkan kehidupan sosial masyarakat Rote di kota sudah tidak terlihat lagi.
Sementara, mereka juga membawa makanan dalam mulut, atau oleh orang Rote disebut Nasungge.
Berawal dari informasi enak dan nikmatnya makanan di kerajaan laut yang telah menggunakan metode api, kemudian anak gadis salah seorang penghuni darat dikawinkan ke kerajaan laut, (nama perempuan ini pun penulis enggan memaparkan melalui tulisan ini karena dianggap berbau mistik dan sakral), dan sebagai material belisnya selain emas, muti dan lainnya, diberikanlah ai dedeu ai, (red=kayu pemicu api).
Dan dari cikal bakal peristiwa perkawinan inilah, kemudian masyarakat kerajaan darat mulai mengenal api sampai dengan hari ini.
Selanjutnya, dari hubungan yang pernah terjalin dengan penguasa langit dan laut, maka untuk menjaga keawetan emas dan muti, mereka selalu menjemurnya dalam nyiru, (sejenis tempat ayak), dan lembe neuk/lepeneuk, (red=sebuah tempat menaruh/menyimpan sesuatu benda dalam ukuran kecil), yang terbuat dari anyaman daun lontar pada saat matahari terbit, (Mane sain ana toda).
Seterusnya, pada pra perayaan HUS, biasanya akan diisi dengan (Bamba LIMBE/Limba/HUS oleh pemimpin Songgo/Mana Songgo. Bamba ini biasanya dituturkan juga silsilah leluhur dan ungkapan permintaan hujan atau ungkapan syukuran dalam bahasa adat yang sangat magis.
Pelaksanaan Bamba biasanya diadakan selama sebulan dari pukul 01.00 sampai dengan pukul 06.00 wita di mezbah suku, (red=ofu/sebutan adat Nusak Dengka), oleh Mane songgo, didampingi mane nitu dalam suku/sub suku bersama para tetua adat tetapi tidak setiap hari dilakukan. Jadwal Bamba HUS ditentukan oleh mane songgo yang dipercayakan.
Untuk hewan korban sesembahan, disiapkan oleh suku/sub suku, pemilik mezbah, berupa ayam, babi dan jenis lainnya yang nanti dimasukan ke dalam ume nitu, (red=rumah setan).
Hewan hewan tersebut nanti setelah bamba, baru disembelih dan dagingnya diolah untuk memberi makan mane songgo, mane nitu dan para tetua adat yang juga turut dalam kegiatan Bamba di Ofu, (mesbah pemujaan).
Tiang Penghubung Penguasa Bumi dan Langit, (hau sesela noo)
Lanjut dari itu, nanti di puncak perayaan HUS akan dilakukan upacara Hau Sesela Noo yang dipimpin oleh mane songgo didampingi mane nitu dalam suku/sub suku.
Sebelum acara ini dilakukan, terlebih dahulu akan dipersiapkan jenis kayu yang ingin dijadikan sebagai tiang Hau Sesela Noo, (jenis kayu ini adalah kayu kusambi dan sejumlah buah kelapa sesuai syarat adat yang telah ditentukan.
Dan orang yang dapat menyediakan jumlah buah kelapa tersebut juga sudah terseleksi khusus yang dinilai memenuhi syarat dalam adat. Sehingga tidak sembarangan memilih orang.
Hal itu juga diakui oleh Maneleo Koordinator Leo Luna Fando Kabupaten Rote Ndao, Archimes Molle, S.Th, MA.
Menurut beliau, dalam menyediakan tiang Penghubung Penguasa Bumi dan Langit, (Hau Sesela Noo), seseorang yang dipercayakan biasanya mengalami tanda heran karena akan menemukan kayu yang sama pada tempat yang sama pula. Dan hal itu sangat tidak dapat diterima dengan akal atau logika manusia.
Lebihnya lagi, pada saat pergi dan melakukan pemotongan kayu yang dimaksud si pemotong akan mendapatkan tanda, bahwa apakah tahun ini curah hujan banyak atau sedikit dan itu pasti dan nyata terjadi.
Jenis kayu kusambi yang telah diperoleh, kemudian akan dirancang bentuk tiang lurus dan ditancapkan ke tanah yang telah dipersiapkan sebelumya dengan posisi menghadap ke langit. Bentuk ujungnya di rancang berbentuk sedikit lancip, (red=mirip runcingan ujung tiang pagar pelepah tuak/bebak).
Kemudian buah buah kelapa yang telah diritual oleh mana songgo dan disimpan di ume nitu, lalu dibagikan kepada perwakilan masing-masing suku/sub suku,,(mane nitu), untuk menancapkan pada tiang “Hau Sesela Noo”.
Setelah itu buah kelapa tersebut di bawa pulang oleh Mane nitu untuk dipergunakan sesuai perintah adat dan budaya yang berlaku dalam kalangan internal suku/sub suku. **















