onlinentt.com-Rote Ndao-Karena memiliki kesamaan budaya, adat dan bahasa, diduga orang Madagaskar memiliki hubungan leluhur dengan orang Rote. Narasi ini bisa dilihat dalam beberapa kesamaan, misalnya;
Alat musik
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Khusus alat musik tradisional, orang Madagaskar memiliki alat musik tradisional yang disebut valiha. Alat musik ini sangat mirip dengan alat musik tradisional orang Rote, (sesuai sejarah aslinya diciptakan oleh salah seorang perempuan bernama Pingga Ngga dari Rote Ti, seterusnya; baru dikembangkan oleh Toulo Nalle, ayahnya salah seorang pemberani dari ex Nusak Ti, bernama, Nalle Tande saat berada dalam penahanan oleh etnis penghuni Pulau Ndana. Karena kabarnya, Toulo, adalah seorang penyair dan seniman tradisional sehingga karena teringat dan rindu akan istrinya yang ditinggalkan pasca tenggelam, terdampar dan dalam penahanan oleh orang Ndana. Maka untuk mengobati kerinduannya terhadap istri dan anaknya yang diperkirakan telah lahir, maka Toulo lalu mendesain Sasandu menggunakan batang yang ditemukan di pesisir pantai.
Bentuk alat musik tradisional Sasandu dan Valiha memiliki kesamaan yang kuat namun terdapat perbedaan pada pangkuannya, di mana Valiha tidak mempunyai pangkuan, sementara Sasandu memiliki pangkuan dari daun lontar yang dibentuk sedemikian rupa.
Gambar Istimewah
Bahkan karena kesamaan itu, pada beberapa tahun yang lalu pernah diklaim hak ciptanya oleh negara Madagaskar. Tetapi upaya tersebut tidak berhasil karena alasan historinya, Sasandu merupakan alat musik tradisional warisan leluhur orang Rote.
Bentuk Rumah
Sementara, untuk budaya; orang Madagaskar, juga memiliki bentuk rumah persegi panjang atau mirip kapal terbalik beratapkan jerami, dan memiliki dua lantai atau loteng/dek. Hal itu sama dengan atap rumah adat orang Rote yang juga menggunakan rumput alang-alang dan memiliki dua dek atau lantai.
Menurut orang Madagaskar, seperti dikutip dari beberapa sumber tertulis Istimewah, menyebutkan kalau bentuk rumah orang Madagaskar seperti itu karena memiliki ceritera histori tersendiri.
Di mana menurut sumber itu, ketika leluhur orang Madagaskar melanglang buana mencari tempat kediaman, perahu mereka terbalik dan lalu mereka memanfaatkannya sebagai tempat berteduh.
Tuturan ini sama persis dengan ungkapan para tetua adat orang Rote, bahwa saat para leluhur exodus dari negeri anta beranta, (red=negeri/tempat yang sangat jauh dan tidak dikenal dalam bahasa sehari-hari, atau nama kuno untuk sebuah wilayah, seperti dalam kisah-kisah lama atau hikayat), ketika menyinggahi daerah Makassar, perahu yang ditumpangi oleh mereka terbalik bersama sejumlah peralatan dan perlengkapan, misalnya alat menulis, menghitung, membaca dan alat alat perang seperti panah dan lainnya.
Hal inilah yang membuat orang Rote tidak mengenal huruf dan angka sehingga tidak bisa menuliskan silsilah keturunan mereka seperti etnis lain, misalnya Jawa, Sulawesi dan lainnya. Begitu pula dalam menghitung, mereka hanya dapat mengetahui sesuatu dalam jumlah tertentu dengan menandainya dengan batu kecil, biji jagung, kacang hijau, tanah atau bijian lainnya.
Berawal dari kejadian tersebut, kemudian para leluhur memungut perahu mereka yang terbalik dan menjadikannya sebagai atap berteduh atau beristirahat, yang selanjutnya, berkembang menjadi bentuk atau simbol rumah adat etnis Rote secara umumnya.
Mengelolah Lahan Pertanian
Disamping itu, untuk pengolahan pertanian, orang Madagaskar menggunakan metode bermacam-macam, tergantung kondisi lahan yang dikelolah tapi secara umum, orang Madagaskar menggunakan metode tradisional dan modern, misalnya menebas pohon-pohon kecil atau semak belukar. Setelah kering lalu dibakar. Tujuannya, agar abu atau sisa bakaran itu secara alami menjadi pupuk yang berfungsi menyuburkan tanah.
Selanjutnya, pengelolahan atau pembajakan lahan persawahan, orang Madagaskar juga mengenal cara pertanian dengan menggunakan jasa hewan peliharaan seperti kerbau. Begitu pula dengan menanam padi, mereka bekerja secara bergotong royong. Hal ini sama persis dengan yang dilakukan oleh orang Rote.
Bahasa
Untuk bahasa, orang Madagaskar karena terdiri dari 20 etnis maka terdapat juga 20 bahasa/dialeg namun yang menjadi bahasa persatuan adalah bahasa Maligasy dan Perancis yang tergolong dalam rumpun bahasa Austronesia, Polinesia dan Melayu serta dipergunakan lebih kurang 99,9% sebagai bahasa pertama atau kedua.
Namun ada sejumlah kata dalam bahasa Maligasy yang sama persis dengan bahasa sang Sengsekerta, misalnya; satu dalam bahasa Sangsekerta, disebut Esa. Orang Madagaskar sebut Isa.
Sementara orang Rote sebut Esa. Penyebutan esa ini dari seluruh suku dan ras di Indonesia hanya orang Rote yang menyebutnya, Esa, persis dengan bahasa sang sekerta yang tertera dalam buku Sutasoma.
Lain dari itu, dinding oleh orang Madagaskar mengatakan rindi. orang Rote juga menyebutnya rindi. Keduanya sama-sama menyebut dinding dengan kata rindi.
Budaya dan Adat Perkawinan
Dalam budaya dan adat perkawinan orang Madagaskar, sebelum melakukan pemenuhan adat, perempuan belum bisa ke rumahborang tua pihak laki laki.
Begitu juga dalam tradisi makan dalam keluarga, anak-anak dilarang makan dan minum mendahului sebelum orang tua makan dan minum lebih dahulu. Hal ini sama dengan adat dan tradisi orang Rote di zaman dulu. Penulis mengatakan demikian karena pada era saat ini, adat dan tradisi orang Rote seperti ini sudah terendus.
Genetika/DNA
Sementara menurut riset genetik telah membuktikan bahwa nenek moyang orang Madagaskar sangat mirip dengan Suku Dayak Manyaan di Kalimantan dan Barito. Namun, secara genetik suku Dayak Maanyan Barito tidak cocok dengan genetik orang Madagaskar. Sehingga pertanyaannya dari Indonesia bagian mana 28 orang perempuan yang menjadi cikal bakal nenek moyang orang Madagaskar ?. Hal ini tentu membutuhkan ahli antropologi, etnimitologi, dan tes DNA ke seluruh suku di Indonesia, terutama etnis Rote Ndao.
Sejarah Asal Usul Orang Madagaskar
Sementara sesuai sejarah, dikatakan dalam sejumlah literasi tulisan di google, disebutkan, bahwa sebanyak 28 perempuan diduga dari Nusantara, (Indonesia), menjadi cikal bakal leluhur orang Madagaskar. Uraian literasi tulisan itu tidak mendetail atau secara pasti menjelaskan suku atau pulau di Nusantara yang mana.
Pada narasi yang lain, juga dikatakan kalau orang Madagaskar berasal dari dua kelompok utama: migran dari Indonesia dan migran dari Afrika Timur.
Penelitian genetik menunjukkan bahwa leluhur utama adalah pelaut Austronesia yang datang dari kepulauan Indonesia, dengan sekitar 30 perempuan yang merupakan nenek moyang awal, diikuti oleh migrasi dari Afrika Timur.
Hal ini menyebabkan populasi Madagaskar memiliki campuran keturunan Asia dan Afrika, yang tercermin dalam bahasa, budaya, dan genetik mereka.
Orang Madagaskar berasal dari dua kelompok utama: migran dari Indonesia dan migran dari Afrika Timur.
Penelitian genetik menunjukkan bahwa leluhur utama adalah pelaut Austronesia yang datang dari kepulauan Indonesia, dengan sekitar 30 perempuan yang merupakan nenek moyang awal, diikuti oleh migrasi dari Afrika Timur.
Hal ini menyebabkan populasi Madagaskar memiliki campuran keturunan Asia dan Afrika, yang tercermin dalam bahasa, budaya, dan genetik mereka.
Bahkan lebih dari itu, disebutkan pula kalau bahasa Maligasy sangat mirip dengan bahasa Suku Dayak Manyaan di Pulau Kalimantan.
Akan tetapi dalam penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti dari Eijkman Institute for Biology Moleculer, Prof Herawati Sudoyo, usai “Half Day Seminar on Genetic Diversity: Austronesian Diaspora” di Eijkman Institute, Jl Diponegoro 69, Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (11/03/2015), menyebut ada ketidakcocokan dan sesuai fakta, bahwa Suku Dayak Manyaan bukanlah suku bahari yang dekat dengan laut. Dayak Manyaan adalah suku yang tinggal di dekat Sungai Barito di Kalimantan Tengah hingga Kalimantan Selatan.
Sedangkan yang biasa berkelana hingga jauh melampaui samudera hanya suku-suku bahari yang mendiami pesisir pantai.
Selain itu, Suku Dayak Manyaan bukanlah suku bahari, melainkan berburu. Namun anehnya mengapa ada kemiripan bahasa Maligasy dengan Dayak Manyaan? Lalu mengapa bisa sampai ke Madagaskar?
Apakah di era itu ada perdagangan budak? Tapi ternyata setelah diuji genetika, tak cocok. Lantas hipotesa kita menduga suku-suku bahari,” imbuh Herawati.
Asal-usul ini menjadi misteri berikutnya yang harus dipecahkan oleh peneliti. Hipotesanya, mulai dari suku Bugis, orang Buton hingga suku Bajo dicurigai menjadi asal-susul 28 perempuan itu.
Sedangkan pakar bahasa dari Universite; La Rochelle Prancis, Phillippe Grange, dalam seminar mengatakan bahwa Suku Bajo adalah suku yang unik karena sampai sekarang tak diketahui asal-usulnya.
“Tidak seperti orang Minang yang suka merantau namun tetap bisa diketahui asal-usul tempatnya. Orang Bugis juga. Tapi Suku Bajo tidak diketahui asal usul tempatnya,” jelas Phillippe.
Suku Bajo sudah dikenal suka hidup di atas laut dari dulu. Dari riset ditemukan Suku Bajo bermigrasi menyebar dari Kepulauan Sulu di Filipina selatan, Sabah-Malaysia di utara Pulau Kalimantan, Bone-Wajo-Sulawesi Selatan juga pernah bermukim di muara Sungai Barito, Kalimantan Selatan.
Dalam budaya Suku Bajo juga, perempuan adalah pihak yang kuat dalam mengelola keuangan hingga memilih pasangan.
Kecurigaan asal-usul 28 perempuan itu juga dicurigai dari Buton, Sulawesi Tenggara. Orang Buton, merupakan akulturasi dari pribumi yang berburu dan orang dari Luwuk-Sulawesi Tengah, suku bahari yang gemar berlayar dan berdagang.
“Mitologinya orang Buton itu dari Luwuk, namun yang tersirat, hipotesanya orang Buton itu datangnya dari Pulau Selayar dan Pulau Laut di Banjar (Kalimantan Selatan),” imbuh antropolog Universitas Indonesia, Dr Tony Rudyansjah, MA.
Maka dari bagian manakah mana 28 orang nenek moyang Madagaskar itu? “Itu pembuktian untuk riset selanjutnya. Semua Suku Dayak di Kalimantan, Bajo, Bugis nanti akan dicocokkan DNA-nya,” jawab Herawati.
Prof Herawati beserta tiga orang peneliti lain asal New Zealand, Arizona, dan Prancis telah melakukan penelitian sejak tahun 2005 untuk menjawab misteri nenek moyang penduduk Madagaskar.
Hasil yang diperoleh cukup mengejutkan, nenek moyang asli penduduk Madagaskar adalah perempuan asal Indonesia yang berlayar ke Madagaskar 1.200 tahun silam. Hasil riset ini telah dirilis pada 2012 lalu.
“Penelitian yang kita lakukan adalah melalui pencocokan DNA, yaitu 2.745 DNA penduduk Indonesia dengan 266 penduduk asal Madagaskar. Walau hasilnya sudah diperoleh, tapi baru DNA yang wanitanya, kami harus juga melakukan pencocokan DNA pada pria Indonesia dan Madagaskar,” ungkapnya pada Senin (16/4/2012).
Pada Bulan Maret tahun 2012, tim ilmuwan biologi molekular yang dipimpin Murray Cox dari Massey University Selandia Baru mempublikasikan hasil penelitian mereka mengenai asal-usul nenek moyang penduduk Madagaskar.
Hasilnya, ternyata penghuni pertama pulau tersebut adalah 30 orang perempuan, 28 orang di antaranya, merupakan perempuan Indonesia. Demikian hasil penelitian DNA dari 266 penduduk Madagaskar yang berasal dari 3 suku di pulau terbesar ke-empat di dunia.
Hal ini terjadi pada 1.200 tahun yang lalu. Tetapi sebelumnya, tidak satu manusia pun yang menghuni pulau Madagaskar. Hanya bangsa lemur, primata yang menguasai wilayah tersebut.
Ke-30 orang perempuan itu mulai mendiami Madagaskar pada tahun 830 Masehi.
Sebelum fakta ini terungkap, dalam sejarah pelayaran atau maritim di nusantara belum pernah ditemukan adanya perempuan yang ikut berlayar hingga menyeberangi samudera Hindia pada zaman itu. Karena biasanya yang bisa berlayar hanya kaum laki-laki.
Dibalik sejarah asal usul leluhur orang Madagaskar yang masih simpang siur itu, dahulu di Pulau Rote, umumnya nusak-nusak di Pulau Rote dan Ndao.
Dari tuturan beberapa orang tetua dalam sejumlah ex nusak, menyebut terjadi perang tanding antar suku yang sangat dahsyat di Kabupaten Rote Ndao.
Sehingga ketika terjadi perang, anak anak perempuan, laki laki dan para orang tua diungsikan dan disembunyikan ke lubang lubang gua dan jurang serta hutan.
Bahkan lebih dari itu pasca kehadiran bangsa penjajah Jepang dan Belanda ke Rote Ndao dengan pusat pemukiman di ex Nusak Termanu sejak Tahun 1662, lebih ditegaskan para tetua, menjelang magrib, para tentara sering berkunjung ke perkampungan di Rote Ndao untuk mencari perempuan perempuan gadis.
Gadis gadis tersebut dibawa ke markas tentara untuk ditiduri atau dijadikan ” pelampiasan birahi”, nanti setelah subuh baru dilepaskan ke perkampungan. Sehingga Raja Henuk Hani, mengakali para tentara dengan mengolesi para gadis menggunakan gula air dan arang periuk bekas masak gula.
Maka ketika para tentara mendatangi perkampungan yang dilihat wajah perempuan perempuan gadis tersebut sangat jelek sehingga tidak dibawa oleh para tentara.
Masih seputar itu, ada juga serpihan sejarah lain, dikatakan perempuan perempuan gadis ini disuruh saat berjalan ke pasar, atau tempat umum lainnya diwajibkan berjalan bersama laki laki agar diketahui kalau sudah bersuami sehingga tidak ditangkap untuk dijadikan pelampiasan nafsu birahi.
Dari tuturan lisan ini, bisa dikatakan juga, bahwa apakah dari ke-30 orang perempuan yang menjadi cikal bakal leluhur orang Madagaskar itu adalah perempuan perempuan gadis dari Pulau Rote dan Ndao yang melarikan diri? Hal ini tentu membutuhkan riset dan penelusuran dari ahli antropologi dan etnimologi.
Sembari berharap pada itu, penulis dapat berspekulasi, bahwa kalau benar perempuan perempuan gadis itu melarikan diri melewati jalur laut maka kemungkinan mereka dibawa arus dan angin melewati perairan Samudera Hindia selama dekade waktu yang lama.
Atau sebaliknya, ke-30 perempuan yang menjadi cikal bakal leluhur orang Madagaskar ini merupakan bagian dari gelombang leluhur orang Rote yang menyinggahi Madagaskar dan sebagiannya menetap, lalu sebagiannya yang meneruskan perjalan menyinggahi Papua, baru ke Kepulauan Maluku. Kemudian, meneruskan perjalanan ke Alor hingga Flores, lalu ke Timor Leste, (Puncak Gunung Tatamailau), selanjutnya, ke Puncak Lakaan seterusnya ke Timor Barat.
Hal itu juga masih perlu selain tes DNA juga riset oleh para antropologi dan etnimologi sehingga menjadi jelas.
Sementara untuk diketahui, bahwa untuk memastikan leluhur orang Madagaskar memiliki hubungan dengan Leluhur di Nusantara, pernah dilakukan tes DNA yang samplenya meliputi beberapa darah namun sayangnya, Rote Ndao tidak termasuk dalam daerah daerah dijadikan sample tersebut.
Sedangkan, berdasarkan beberapa literasi tuturan, diperkirakan leluhur orang Rote Ndao datangnya dari Pulau Seram di Kepulauan Maluku sekitar abad 13 sampai dengan 16. Sedangkan literasi tulisan lainnya, menyamakan nenek moyang orang Rote dengan bangsa Yahudi.
Argumen yang disangkakan, bahwa ada kesamaan dalam silsilah dan mitologi yang dimulai dengan pengagungan kepada matahari dan bulan. Bahkan menurut sumber ini, ciri ciri fisik penduduk asli yang lebih awal di pulau Rote Ndao, diperkirakan migrasi awal dari Afrika sekitar 60.000 tahun lalu. Kemudian berasimilasi dengan kelompok austronesia yang datang belakangan. *















