onlinentt.com – Rote Ndao | Rangkaian kegiatan Rote Ndao Mengajar resmi ditutup Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, SH, di tengah semarak Pameran Expo UMKM, Selasa (25/08/2026).
Namun, penutupan kegiatan tersebut tidak dimaknai sebagai akhir dari semangat yang telah dibangun. Justru, momentum itu menjadi ajakan untuk membawa nilai-nilai kebersamaan, kepedulian dan kolaborasi ke dalam gerakan yang lebih luas untuk membangun Rote Ndao.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di hadapan para relawan, panitia, guru, anak-anak didik, komunitas serta berbagai elemen masyarakat yang terlibat, Paulus menyampaikan apresiasi atas kontribusi semua pihak yang telah mengambil bagian dalam Rote Ndao Mengajar.
Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh relawan yang datang dari Rote Ndao maupun dari luar daerah.
Menurut Paulus, kehadiran para relawan tidak hanya memberikan tambahan pengalaman belajar bagi anak-anak, tetapi juga membawa inspirasi dan energi baru bagi generasi muda Rote Ndao.
“Lebih dari sekadar kegiatan mengajar, Rote Mengajar telah menunjukkan bahwa ketika kita bergandengan tangan, batas wilayah tidak lagi menjadi penghalang untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan harapan,” ujar Paulus.
Ia menilai, pengalaman selama pelaksanaan Rote Mengajar menjadi bukti bahwa pembangunan daerah dapat dilakukan melalui berbagai bentuk kolaborasi.
Setiap orang, dengan latar belakang dan kemampuan masing-masing, dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan daerah.
Semangat tersebut, lanjutnya, sejalan dengan gerakan “Mai Fali Ee” yang terus didorong untuk menjadi energi kebersamaan masyarakat Rote Ndao.
Bagi Paulus, Rote Ndao bukan hanya sebuah wilayah administratif, tetapi rumah bersama yang membutuhkan kepedulian seluruh pihak.
Karena itu, secara khusus ia menyampaikan penghargaan kepada para relawan yang datang dari luar Rote Ndao.
Paulus menegaskan, setelah mengambil bagian dalam kegiatan tersebut, para relawan tidak lagi dipandang sebagai orang luar.
“Mulai hari ini, Bapak dan Ibu bukan lagi sekadar relawan yang datang berkunjung. Bapak dan Ibu adalah bagian dari keluarga besar Rote Ndao,” tegasnya.
Ia juga memastikan bahwa Rote Ndao akan selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin datang untuk berbagi pengetahuan, berkolaborasi maupun mengambil bagian dalam pembangunan daerah.
“Rote adalah rumah yang akan selalu menantikan kehadiran Bapak dan Ibu sekalian. Pintu Rote Ndao akan selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin datang, berbagi, berkolaborasi, dan bersama-sama membangun daerah ini,” katanya.
Menurut Paulus, semangat kebersamaan seperti yang terlihat dalam Rote Ndao Mengajar harus terus dirawat agar tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan sesaat.
Ia mengajak seluruh pihak untuk menjadikan pengalaman tersebut sebagai awal dari gerakan yang terus hidup dan berkembang.
“Mari kita terus bergandengan tangan. Mari kita rawat semangat kebersamaan ini agar tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi menjadi gerakan yang terus hidup dan tumbuh,” ajaknya.
Pada akhirnya, pesan yang disampaikan Paulus dalam penutupan Rote Ndao Mengajar menegaskan bahwa masa depan daerah tidak dapat dibangun oleh pemerintah seorang diri.
Pembangunan membutuhkan keterlibatan masyarakat, dunia pendidikan, komunitas, relawan, dunia usaha dan seluruh elemen yang memiliki kepedulian terhadap Rote Ndao.
Karena itu, semangat “Mai Fali Ee” diharapkan tidak sekadar menjadi slogan, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menanam harapan, membuka kesempatan dan membangun masa depan Rote Ndao.
“Karena pada akhirnya, membangun Rote Ndao bukan pekerjaan satu orang, bukan hanya tugas pemerintah, tetapi merupakan panggilan kita semua. Mai Fali Ee, Rote Ndao adalah rumah kita bersama,” pungkas Paulus.*




















