Foto istimewah
onlinentt.com-Rote Ndao,-Ratapan meruapakan luapan suasana perasaan dalam keadaan suka cita dan duka cita, misalnya; berupa kata-kata yang diiringi tangisan atau air mata.
Sementara, dahulu, dalam budaya orang Rote Ti menyebutnya, “Na Lu Luu”. Makna harafiah kata, “ba lu luu”, dapat diartikan, “ungkapan hati/perasan yang mendalam terhadap seseorang yang dianggap terlalu dekat secara emosional atau tersayang “.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tradisi ini dapat dilihat dan ditemui ketika ada kematian dalam kalangan masyarakat adat Rote Ti.
“Na Luu Luu”, sampai saat sudah jarang ditemui dalam setiap kematian di Pulau Rote, tetapi biasanya yang mengambil bagian atau melakukannya adalah orang tua, saudara kandung/dekat atau kerabat yang meninggal dunia. Serta waktu yang biasa dilakukan pun ketika yang bersangkutan baru meninggal atau setiap malam sebelum penguburan.
Pada saat penguburan, bagi yang dinilai melakukan “na lu luu” akan mendapatkan atau diberi ukuran daging yang besar. Sehingga bagi yang berkeinginan mendapatkan ukuran daging seperti itu menurut ceritera tetua di ex Nusak Ti, bahwa biasanya disiapkan bawang.
Bawang itu akan digosokan ke mata agar mengeluarkan air mata dalam jumlah banyak karena dengan demikian akan menjadi ukuran saat pembagian daging, (ndu mba), setelah penguburan yang meninggal dunia.
Hal yang lain juga diuraikan dalam Perjanjian Lama yang diyakini ditulis oleh Nabi Yeremia untuk meratapi kehancuran Yerusalem.
Ratapan Yermia tersebut sebagai cara untuk memproses kesedihan dan membawa duka kepada Tuhan, bukan sekedar frustrasi.
Begitu pula dengan tembok ratapan dianggap sebagai tempat suci di Yerusalem, sisa tembok penahan Bait Suci kedua yang dihancurkan Romawi tahun 70 M, di mana umat Yahudi berdoa, meratap, dan menyelipkan kertas doa.
Hal yang sama dalam Mazmur, dua pertiga dari kitab ini dianggap sebagai ratapan atau doa permohonan kepada Allah di masa kesesakan. *

Ikuti Kami
Subscribe































