onlinentt.com-Rote Ndao-Desa wisata berkelanjutan harus memiliki daya saing sejumlah keunikan produk wisata yang didukung oleh aksesibilitas dan fasilitas serta mengutamakan, kelestarian lingkungan, pemberayaaan masyarakat dan pelestarian budaya lokal.
“Rote Ndao punya potensi parawisata yang menjadi daya tarik, misalnya, potensi alam yang menarik seperti pantai Nemberala, dan spot Surfing yang terkenal dan sejumlah potensi budaya, seperti tari-tarian tradisional, foti, musik sasando, dan tradisional tenunan yang khas,” ujar Marni Yusinta Modok, S.Tr. Par, pemateri dari SMKS Lembang, di hari kedua pelatihan pengelolaan Desa Wisata di Aula Hotel Videsy, Rabu, (16/10/2024).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut dia, kearifan lokal seperti adat istiadat juga dapat menjadi daya tarik wisata seperti sistim lumbung padi dan tradisi panen laut,” terangnya.
Tantangan Dalam Pengelolaan Desa Wisata di Rote Ndao
Yang menjadi tantangan dalam pengelolaan desa wisata, ditambahkan Marni Yusinta, terdapat beberapa hal, misalnya aksesibilitas dan infrastruktur yang perlu diperbaiki dan akses transportasi yang masih terbatas, minimnya Sumber Daya Manusia, (SDM), masih terbatasnya pelatihan bagi masyarakat dalam manajemen parawisata, lemah pemanfaatan teknologi, kurangnya promosi digital dan akses internet.
Sementara, strategi untuk pengembangan desa wisata berdaya saing, perlu dilakukan sejumlah aspek, antara lain, pengembangan produk wisata, mengidentifikasi dan mengembangkan atraksi wisata baru, yaitu ekowisata homestay dan paket wisata edukasi, peningkatan kapasitas masyarakat, pelatihan tentang manajemen wisata, penguasaan bahasa asing dan keterampilan pemasaran digital, kolaborasi dan kemitraan melalui kerjasama dengan agen perjalanan, pemerintah dan komunitas wisata untuk mendukung promosi serta penjualan paket wisata,” urai dia.
Marni Yusinta Modok, menjelaskan, dampak ekonomi dari pengelolaan parawisata berkelanjutan di Rote Ndao dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal melalui produk-produk unggulan dan paket wisata.
“Selain itu dari aspek lingkungan, konservasi ekosistem laut, pengelolaan sampah dan edukasi kepada wisatawan tentang pentingnya menjaga lingkungan,”tambahnya.
Sedangkan, untuk aspek sosial dan budaya, perlu melibatkan masyarakat dalam keputusan pengelolaan guna melestarikan budaya melalui atraksi wisata dan menghormati adat istiadat setempat,”kilahnya.
Penerapan Prinsip Berkelanjutan Dalam Pengelolaan Desa Wisata
Diakui Yusinta, penggunaan energi ramah lingkungan, pemanfataatan tenaga surya dan bionergi dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik di desa wisata.
“Selain itu, pengelolaan limba dan sampah, program daur ulang kampanye, “bebas plastik”, dan penggunaan bahan ramah lingkungan dalam industri kerajinan bisa dikembangkan”, bebernya.
Mengakhiri materinya, Marni menegaskan pendidikan lingkungan bagi masyarakat dan wisatawan berupa edukasi mengenai pentingnya pelestarian alam dan cara menjaga kebersihan kawasan wisata sangat penting untuk dilakukan guna pengembangan desa wisata berkelanjutan dalam menarik kunjungan wisatawan dengan melibatkan masyarakat sebagai pengelola utama. *

Ikuti Kami
Subscribe































