Episode VIII, Menapaki Sejarah Pohon Lontar Versi Orang Rote Ti

353

III. Sebaran Pohon Lontar

Pohon lontar termasuk jenis tumbuhan endemik karena keberadaannya unik dan tidak ditemukan pada semua wilayah secara alami.

Jenis tumbuhan dengan nama latin, Borassus flabellifer Linn ini dalam sebarannya di Nusa Tenggara Timur, terdapat dibeberapa tempat, antara lain, Rote, Ndao, Sabu, Alor, Sumba, Flores, Semau dan Pulau Timor.

Species tumbuhan ini telah dianggap sebagai sumber kehidupan dari peradaban leluhur hingga lepas generasi, lebih khusus oleh etnis Rote, Ndao, Sabu dan Raijua.

Borassus Flabellifer Linn lebih cocok dan tumbuh di daerah tropis, kering, tandus dan berbatu, yang ketinggian tempatnya, antara 400 meter sampai dengan 700 meter di atas permukaan laut.

Pohon lontar tidak jauh berbeda dengan tumbuhan lain. Dia memiliki bunga, yakni jantan dan betina yang gerombol dalam mayang, (tua nggi).

Diameter tua nggi antara 10 centi meter, (cm), dengan panjang bunga hingga 30 sampai dengan 40 cm.

Di daerah Riau, Bima, Mataram, Tuban, Kidul, Yogya, Madura, dan Bali, nira lontar diolah menjadi rivanol, spritus, alkohol, kecap, cuka, minuman keras, seperti moke, arak serta minuman ringan lainnya.

Sementara, di Rote Ndao, masyarakat belum melihat keseluruhan pohon lontar sebagai potensi ekonomis. Mereka baru memanfaatkan nira lontar, sedangkan aikon lainnya belum dimanfaatkan sebagai potensi ekonomis yang menjanjikan.

Sisi lain yang  menyedihkan adalah pohon lontar yang telah dianggap sebagai Ibu/Air Susu Ibu, (ASI), sumber kehidupan,  sejak daerah yang dimekarkan Tahun 2002 silam tersebut, belum ada regulasi yang mengatur tentang perlindungan terhadap lontar, sebagai salah satu aset daerah.

Karena itu, suatu ketika dikuatirkan negeri yang mendapat tagline, “Pulau Sejuta Lontar,” itu hanya tinggal sebuah ceritera usang karena telah  punah. *jh

Ikuti terus …Menapaki sejarah pohon lontar versi Orang Rote Ti hanya ada di onlinentt.com 

 

Comments
Loading...