Sebuah Catatan Refleksi Kritis Redaksi Untuk Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Rote Ndao
onlinentt.com-Rote Ndao — Bertahun-tahun bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) mengalir ke Kabupaten Rote Ndao.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Traktor datang, cultivator dibagikan, pompa air disalurkan, berbagai peralatan pertanian diberikan kepada kelompok-kelompok tani.
Pemerintah pusat terus memberikan dukungan. Pemerintah daerah menerima dan menyalurkan. Aspirasi masyarakat diperjuangkan melalui wakil rakyat, tidak termasuk bantuan perjuangan aspirasi Anggota DPR RI Usman Husin.
Namun setelah bertahun-tahun program tersebut berjalan, ada satu pertanyaan yang semakin sulit dihindari, bahwa apakah hasil akhirnya bagi petani Rote Ndao?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya membutuhkan keberanian dan keterbukaan data. Sebab bantuan pemerintah bukanlah tujuan akhir pembangunan.
Bantuan hanyalah alat.
Tujuan akhirnya adalah produksi meningkat, lahan semakin produktif, biaya usaha tani menurun dan pendapatan petani bertambah.
Kalau traktor bertambah tetapi lahan produktif tidak bertambah, maka ada persoalan yang harus dicari penyebabnya.
Kalau pompa air tersedia tetapi indeks pertanaman tidak meningkat, maka pemerintah perlu mengevaluasi pemanfaatannya.
Kalau bantuan terus datang tetapi pendapatan petani tidak mengalami perubahan berarti, maka publik berhak bertanya: di mana letak masalahnya?
Jangan Hanya Hitung Traktor, Hitung Juga Hasilnya
Selama ini ukuran keberhasilan program alsintan sering kali berhenti pada pertanyaan:
“Berapa unit bantuan yang sudah diberikan?”
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Berapa hektare lahan yang berhasil diolah karena bantuan itu?”
Kemudian:
“Berapa ton produksi yang bertambah?”
Lalu:
“Berapa rupiah tambahan pendapatan petani?”
Tiga pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah traktor yang terparkir di halaman kelompok tani.
Kabupaten Rote Ndao memiliki potensi pertanian yang tidak kecil.
Terdapat sekitar 12.968 hektare areal lahan basah yang telah dimanfaatkan untuk padi sawah dan sekitar 10.668 hektare untuk padi gogo.
Sementara lahan kering yang dimanfaatkan untuk berbagai komoditas agribisnis mencapai sekitar 4.531 hektare. Tetapi potensi tidak otomatis menjadi kesejahteraan.
Lahan yang luas tidak berarti produksi tinggi jika produktivitas rendah.
Alsintan yang banyak tidak otomatis berarti pertanian maju jika pemanfaatannya tidak maksimal.
Karena itu, pemerintah perlu menunjukkan hubungan yang jelas antara bantuan → pemanfaatan → produksi → pendapatan petani.
Pertanyaan yang Semestinya Dijawab oleh Pemda
Redaksi ingin mengajukan sejumlah pertanyaan terbuka kepada Pemerintah Kabupaten Rote Ndao:
Pertama, berapa total unit alsintan yang telah diterima Kabupaten Rote Ndao sejak berdirinya daerah ini sebagai kabupaten otonom?
Kedua, berapa total nilai bantuan atau investasi negara yang telah masuk melalui program alsintan tersebut?
Ketiga, dari seluruh bantuan itu, berapa unit yang masih berfungsi dengan baik?
Keempat, berapa yang rusak ringan, rusak berat dan tidak dapat digunakan?
Kelima, berapa luas lahan yang benar-benar dilayani oleh seluruh alsintan tersebut?
Keenam, apakah terdapat data perbandingan produksi sebelum dan sesudah penggunaan alsintan?
Ketujuh, berapa persen peningkatan produksi padi, jagung, sorgum, bawang merah, cabai, semangka dan kacang tanah?
Kedelapan, berapa hektare lahan yang sebelumnya tidak produktif kemudian dapat diolah?
Kesembilan, berapa biaya usaha tani yang berhasil ditekan melalui mekanisasi?
Dan pertanyaan paling penting:
Berapa nilai ekonomi tambahan yang diterima masyarakat sebagai dampak dari bantuan alsintan tersebut?
Jika Pemda memiliki datanya, perlu untuk publikasikan karena tentu menjadi tolak ukur keberhasilan kepemimpinan.
Jika belum memiliki datanya, mulailah menghitung.
Sebab tanpa data tersebut, masyarakat hanya mengetahui bahwa bantuan telah datang, tetapi tidak mengetahui seberapa besar manfaat yang telah dihasilkan.
Jangan Sampai Bantuan Hanya Hidup di Atas Kertas
Ada kekhawatiran yang harus dijawab pemerintah.
Jangan sampai keberhasilan program hanya terlihat dalam laporan:
“Bantuan telah disalurkan kepada kelompok tani.”
Selesai.
Padahal setelah itu tidak pernah dihitung lagi berapa kali alat digunakan, berapa luas lahan yang dikerjakan, berapa produksi yang dihasilkan dan berapa pendapatan petani yang meningkat.
Jika sebuah traktor diberikan kepada kelompok tani, maka seharusnya pemerintah dapat mengetahui:
Di mana traktor itu sekarang?
Siapa yang mengoperasikan?
Berapa hektare lahan yang dikerjakan?
Berapa musim tanam dilayani?
Berapa biaya operasionalnya?
Berapa manfaat ekonominya?
Jika alat rusak, kapan rusaknya?
Apa penyebabnya?
Siapa yang bertanggung jawab melakukan pemeliharaan?
Apakah sudah diperbaiki?
Jika tidak dapat diperbaiki, bagaimana status aset tersebut?
Pertanyaan seperti ini bukan untuk mempersulit petani.
Justru sebaliknya.
Ini untuk memastikan bantuan pemerintah tidak menjadi barang mati.
62 Persen Sawah Tadah Hujan: Traktor Saja Tidak Cukup
Rote Ndao juga menghadapi persoalan klasik pertanian: air.
Sekitar 62 persen sawah merupakan sawah tadah hujan.
Karena itu, tidak realistis jika modernisasi pertanian hanya mengandalkan traktor.
Tanah bisa dibajak.
Tetapi tanpa air, tanaman tetap sulit tumbuh
.
Maka Pemda perlu melihat alsintan dalam satu ekosistem pembangunan pertanian.
Traktor harus berjalan bersama pompanisasi.
Pompanisasi harus didukung sumber air.
Sumber air harus didukung embung atau jaringan irigasi.
Produksi harus didukung benih dan pupuk.
Dan setelah produksi meningkat, petani harus mendapatkan pasar dengan harga yang menguntungkan.
Kalau mata rantai ini tidak dibangun, maka modernisasi pertanian hanya akan berjalan setengah jalan.
Saatnya Menghitung Return on Investment Petani
Ada satu pendekatan yang patut dipertimbangkan Pemda Rote Ndao.
Setiap bantuan alsintan harus dihitung dampak ekonominya.
Misalnya, jika satu unit traktor mampu mengolah ratusan hektare lahan dalam setahun, maka berapa biaya pengolahan tanah yang berhasil dihemat petani?
Jika pompa air memungkinkan petani menambah satu musim tanam, berapa tambahan produksi yang dihasilkan?
Jika tambahan produksi mencapai sekian ton, berapa nilai rupiahnya?
Dari sana pemerintah dapat menghitung secara sederhana:
Berapa investasi negara yang dikeluarkan dan berapa manfaat ekonomi yang dihasilkan?
Itulah yang disebut pembangunan berbasis hasil.
Bukan sekadar:
“Berapa bantuan yang dibagikan?”
Tetapi:
“Berapa manfaat yang kembali kepada masyarakat?”
Paulus Henuk Memiliki Momentum untuk Membenahi Data
Pemerintahan Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, SH saat ini memiliki momentum untuk melakukan pembenahan.
Tidak perlu menunggu bertahun-tahun.
Dinas Pertanian dapat mulai melakukan inventarisasi seluruh alsintan yang pernah masuk ke Rote Ndao.
Mulai dari bantuan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten hingga bantuan yang diperjuangkan melalui lembaga legislatif.
Semua harus masuk dalam satu database.
Setiap alat memiliki identitas.
Setiap alat memiliki lokasi.
Setiap alat memiliki kelompok penerima.
Setiap alat memiliki status kondisi.
Dan yang paling penting:
Setiap alat memiliki catatan manfaat.
Dengan sistem tersebut, Pemda akan memiliki data kuat ketika memperjuangkan tambahan bantuan kepada pemerintah pusat.
Pemerintah juga dapat mengetahui kecamatan mana yang kekurangan alsintan, alat apa yang paling dibutuhkan, serta kelompok mana yang benar-benar produktif.
Jangan Takut Membuka Kekurangan
Justru pemerintah yang berani membuka data akan lebih dipercaya.
Kalau ada alsintan rusak, katakan rusak.
Kalau ada yang tidak optimal, katakan tidak optimal.
Kalau distribusinya belum merata, katakan belum merata.
Kalau produksi belum meningkat sesuai harapan, katakan belum meningkat.
Sebab keterbukaan bukan tanda kegagalan.
Keterbukaan adalah pintu menuju perbaikan.
Yang berbahaya justru jika semua terlihat baik dalam laporan, tetapi di lapangan petani masih mengeluhkan kesulitan mengolah lahan, kekurangan air dan rendahnya pendapatan.
Redaksi media onlinentt.com selalu menunggu jawaban klarifikasi tertulis dari Pemda Rote Ndao melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Rote Ndao.
Pada akhirnya, Redaksi tidak sedang mempertanyakan apakah pemerintah sudah memberikan bantuan karena
Kita tahu bantuan itu ada.
Yang sedang dipertanyakan adalah:
Apa yang sudah berubah setelah bantuan itu diberikan?
Apakah luas lahan produksi bertambah?
Apakah produksi meningkat?
Apakah biaya petani menurun?
Apakah indeks pertanaman naik?
Apakah lahan tidur berkurang?
Apakah pendapatan petani meningkat?
Dan yang paling penting:
Apakah kehidupan ekonomi keluarga petani Rote Ndao benar-benar menjadi lebih baik?
Inilah ukuran yang seharusnya menjadi laporan terbesar dari program alsintan.
Bukan jumlah traktor.
Bukan jumlah proposal.
Bukan jumlah serah terima.
Tetapi jumlah hektare yang menjadi produktif, jumlah ton produksi yang bertambah dan jumlah rupiah yang masuk ke kantong petani.
Jika pemerintah mampu menunjukkan angka-angka itu, maka masyarakat akan semakin yakin bahwa investasi negara di sektor pertanian Rote Ndao benar-benar menghasilkan.
Tetapi jika data tersebut belum tersedia, maka sekaranglah waktunya Pemda mulai menghitung.
Karena setelah lebih dari dua dekade bantuan alsintan mengalir ke Rote Ndao, masyarakat berhak mengetahui: sudah sejauh mana investasi itu mengubah wajah pertanian dan ekonomi rakyat?
Traktor boleh terus datang.
Tetapi produksi harus ikut naik.
Lahan harus semakin produktif.
Dan kesejahteraan petani harus menjadi bukti akhirnya.




















