Dari syair-syair tersebut para leluhur orang Rote selalu mendewakan Matahari dan Bulan, juga sama persis dengan bangsa Cina yang menyebut Yin dan Yan. Begitu juga, Jepang, yang dalam setiap pagi mereka memberi hormat kepada Matahari disaat terbit.
Lain dari itu, mereka juga mengakui, bahwa bumi dan langit, masing-masing memiliki penguasanya. Segala sesuatu yang terjadi baik di langit atau bumi pun harus atas ijin keduanya.
Lebih anehnya, menurut mereka, awalnya kehidupan dimulai dari Matahari dan Bulan. Bahkan hal itu sulit dipercaya secara nalar. Tetapi di Rote khususnya di Ti Kokolo Kecamatan Rote Barat Daya, terdapat sebuah situs yang mirip anak tangga, oleh masyarakat Ti Rote Barat Daya, menyebutnya, “Eda Huk”, artinya, “Tangga”, sebagai bukti, dan dipercaya hingga saat ini sebagai anak tangga para leluhur pergi dan kembali mengambil api di petir dan kilat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dahulu berdasarkan tuturan yang diperoleh penulis, para leluhur selalu saling berkunjung, baik di bumi maupun langit. Sebagai pengingat, berikut syairnya, “Ara tuti henur ma ara sambu lilor do paa habas sara fo Ara raba ma ara kai fo ara reu ma ara mai”, artinya, mereka menyambung muti, emas atau habas untuk pergi ke langit dan pulang ke bumi”, karena kabarnya, waktu itu sebagai pusat api baru ada di rumah leluhur ndela elu anak dari elu tonggo. Berikut sekilas silsilahnya, tata lain, memperanak lai tata memperanak tonggo lai memperanak elu tonggo memperanak ndela elu, (petir). *sambung
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

Ikuti Kami
Subscribe


















