Ceritera  Asal-Usul Sembilan Bahan Pokok Versi Etnis Rote

235

Penulis :Johanes Yoseph Henuk

onlinentt.com-Sembilan bahan pokok atau sering disingkat sembako adalah sembilan jenis kebutuhan pokok manusia.

Tanpa sembako manusia tak dapat berbuat apa-apa dan mungkin bisa dikatakan meninggal dunia karena kelaparan.

Bagi etnis Rote dalam mempertahankan hidup, selain nira lontar dan gulanya sebagai bahan konsumsi sehari-hari, sembako juga merupakan aikon terpenting.

Tentu dalam pengenalan sembilan bahan pokok atau sembako, setiap daerah dan suku, etnis dan bangsa memiliki fase dan ceritera asal-usulnya masing-masing.

Hal tersebut tidak terpisahkan dari Etnis Rote di Kabupaten Rote Ndao. Ada sejumlah ceritera/tuturan asal-usulnya, baik itu menurut versi Ti, Landu, Belu Ba/Bilba, Termanu, Keka, Talae, Bokai, Diu, Lelenuk, Lelalin, Baa, Dengga/Dengka, Lole, Lelain, Oenale dan Ndao.

Tapi dalam kesempatan penulisan kali ini, penulis lebih  menggunakan dua versi tuturan, yaitu Ti dan Belu Ba, (Bilba), misalnya,

I. Versi Belu Ba, (Bilba)

Menurut salah satu tetua adat di ex Nusak Belu Ba, LP, (73 tahun), yang berkesempatan bertemu dengan penulis belasan tahun lalu, bahwa pembibitan sembilan bahan pokok pertama terjadi di atas Gunung Lakamola.

Gunung ini adalah hasil timbunan tanah oleh salah seorang leluhur etnis Rote bernama, Mengge Bulan.

Sementara, sumber yang lain, mengatakan bahwa leluhur Mengge Bulan, adalah manusia titisan ular, yang pada siang hari berubah wujud menjadi seekor ular besar, (likusaen), sedangkan pada malam hari, berganti rupa menjadi manusia biasa.

Saat malam, ketika berganti wujud sebagai manusia, dia bekerja menimbun tanah hingga menjadi bukit dan akhirnya jadi sebuah gunung.

Mengge Bulan merupakan salah satu anak dari leluhur Bula Kai.

Berikut sekilas silsilahnya, Langga Ose Kama, (red=Suku Sandi di ex Nusak Ti), beranak Oka Meda beranak Lai Oka beranak Hu Ina Lai, ( ke ex Nusak Dengga/Dengka), beranak Batu Hu Ina beranak Oebatu, (ke ex Nusak Ti), beranak Mbene Oe beranak Langga Mbene beranak Dulu Langga beranak Fino-Fino Dulu, (menetap di ex Nusak Ti), beranak Tua Fino-Fino beranak Batu Tua, (menetap di ex Nusak Ti), beranak Lai Batu beranak Tapa Sili Lai beranak Betu Tapa Sili beranak Dua Batu beranak Dusi Dua beranak Kilo Nama Dusi beranak Kai Kilo Nama beranak tiga orang anak laki-laki, masing-masing, antara lain, pertama, Bula Kai. Kedua, Fala Kai. Ketiga, Nggala Kai.

Bula Kai beranak sepuluh orang anak laki-laki dan satu orang perempuan, yakni, pertama, Lakamola Bula, (red=menetap di Lomang Baa dan keturunanya melebur ke dalam Suku Ene). Kedua, Mengge Bula, (keturunannya melebur dan membentuk Suku Ello di ex Nusak Dengga/Dengka). Ketiga, Ma Bula, (menetap di ex Nusak Termanu), Keempat, Patola Bula, (menetap di ex Nusak Bokai, Lelenuk dan Diu), lalu sebagian keturunannya pergi dan menetap di beberapa ex Nusak, seperti Lelain membentuk Suku Tadi. Sebagian ke ex Nusak Ti membentuk Suku Meoleok. Di ex Nusak Dengga/Dengka Suku Boai. Sebagian ke ex Nusak Ndao membentuk Suku Opoteti. Kelima, Ndu Bula, menetap di Baa dan melebur dan membentuk Suku Felama dan sebagian ke Dengga/Dengka, (red=perlu ditelusuri). Keenam, Masana Bula, ke ex Nusa Dengga/Dengka bentuk Suku Manggi. Ketujuh, Besi Bula, pergi ke ex Nusak Ti melebur dengan keturunan Dato Nara dan membentuk Suku Mandato, (red=sebagian juga exodus ke ex Nusak Dengga/Dengka). Kedelapan, Batu Bela Bula menetap di Ringgou. Kesembilan,  Mula Tafa Bula menetap di Bilba. Kesepuluh, Makasene Bula, (red=seorang perempuan kawin dengan Raja Ndana, Taka La’a).

Kesebelas, Liu Lai Bula beranak Lai Hamek Liu Lai, (seorang raksasa di zamannya), beranak tiga orang anak, yaitu, pertama, Hendak Oke Liu Lai, kemudian keturunannya terkenal dengan sebutan Hendak Anan, mendiami Rote bagian barat. Sementara, kedua, Lamak Oke Liu Lai, keturunannya juga terkenal dengan sebutan Lamak Anan, mendiami Rote bagian timur. Ketiga, Maka Pedu Liu Lai pergi dan lalu menetap di ex Nusak Dengga/Dengka.

Awalnya, kesebelas orang anak Bula Kai ini menetap di bawa lereng Gunung Lakamola. Namun suatu ketika mereka lalu berseteru karena persoalan pembagian harta warisan.

Lalu mereka berpisah satu dengan lainnya, termasuk leluhur Mengge Bula, yang telah berjasa menimbun tanah jadi  gunung kemudian berpindah ke tempat yang sekarang diurnal demean nama ex Muzak Dengga/Dengka.

Konon, nama Gunungnya baru berubah menjadi Gunung Lakamola, setelah leluhur Lakamola Bula menetap di atas puncaknya.

Sejak terpisah, kakak beradik ini  kemudian menyebut kelompoknya masing-masing sesuai wilayah tempat tinggal.

Yang mendiami bagian timur Pulau Rote, dipanggil Hatahorir/orang-orang Dae Duluk/tanah bagian timur.  Sebaliknya yang menetap di bagian barat dikatakan, Hatahorir Dae Murir/orang-orang tanah bagian barat.

Penuturan lain lagi, menyebutkan perseteruan di massa itu, berujung pada perang tanding secara besar-besaran, yang memakan waktu cukup lama antara Rote bagian timur dan barat.

Perang tersebut terus berkecamuk sampai dengan keturunan Lai Hamek Liu Lai, yaitu Hendak Oke Liu Lai dan, Lamak Oke Liu Lai.

Leluhur Lamak Oke Liu Lai menempati Rote bagian timur, keturunannya dikenal dengan nama, pemakan belalang/Manaa Lamak, sedangkan Hendak Oke Liu Lai, mendiami Pulau Rote bagian barat, generasinya disebut pemakan buah pandan/Manaa Handsla Boak.

Sekitar Tahun 1980-an dan Tahun 2008, penulis pernah makan kedua jenis makanan peninggalan leluhur ini.

Rasa daging belalang, seperti udang sungai atau laut. Sementara, isi pohon pandan, persis isi kacang tanah. (red=Untuk kedua jenis makanan ini, bila ada yang makan dan tidak cocok badannya bisul dan bernanah).

Stigma ini terkesan mengisyaratkan sebuah pengklaiman terhadap kepemilikan wilayah yang bermuatan ego sentris sangat kuat.

Seterusnya, seperti dikisahkan oleh salah seorang sejarawan lokal Rote Ndao, yang juga telah menerbitkan sejumlah tulisan, berupa buku sejarah, tentang Rote Ndao, Opa Paulus Haning, ( 85 tahun), dalam kesempatan diskusi dengan penulis menyatakan, orang pertama yang melakukan pembibitan, (red=rakamora) adalah leluhur Lakamola Bula, bertempat di atas puncak gunung yang saat ini diketahui bernama, Rakamora/Lakamola.

Namun saat itu, pembibitan baru sebanyak tujuh bibit, yaitu pertama, mbelak, (jagung). Kedua, mbelahiak, (sorgun), ketiga, turis, (kacang turis).Keempat, lena, (wijen). Kelima, titimu langgaduik, (Labu).
Keenam, fufue lutu, (kacang hijo), dan ketujuh, fufue ngga, (kacang nasi).

Waktu itu belum ada hade, (padi), dan betek, (botok). Kedua jenis makanan ini baru dikenalkan oleh dua orang leluhur Rote, yaitu Masu Pasu dan Hele Ha’ik.

Dan karena diperkenalkan oleh kedua leluhur ini maka ketika hasil panen hendak dimasukan ke rumah/lumbung, selalu  bersyair demean menyebut, “kae mai na mai hene mai na mai te hele ha’ik uman nai ia ma masu pasu loon nai ia.

Artinya, kalau mau masuk rumah maka segeralah masuk sebab ini rumahnya Hele Ha’ik dan Masu Pasu. *

Ikuti sambungannya….hanya ada di onlinentt.com. Tidak ada di .media online manapun.

Comments
Loading...