Episode V, Menapaki Sejarah Pohon Lontar Versi Orang Rote Ti

- Redaksi

Jumat, 12 Februari 2021 - 11:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perspektif Orang Rote Ti Terhadap Pohon Lontar

onlinentt.com-Bagi etnis Rote secara umum, khususnya orang Rote Ti, pohon lontar memiliki manfaatnya dan keunikan tersendiri, misalnya,

1. Batang Pohon Lontar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Batang pohon lontar dapat dijadikan usuk, papan, dan balok, yang dipergunakan sebagai material bangunan.

Pada kehidupan leluhur pohon lontar hanya dapat dipergunakan sebagai tiang penyangga rumah ataupun bangku panjang untuk duduk dan tidur.

Kini dengan perkembangan teknologi di bidang pertukangan, batang lontar dapat digunakan sebagai material mubeler atau aksesoris rumah tangga dan kantoran, misalnya meja, kursi, piring, gelas dan lainnya tergantung kreativitas pendesain dan pesanan pembeli.

Konon, dahulu kala, para leluhur mempercayai bahwa setiap orang Rote Ti yang meninggal dunia, peti matinya harus terbuat dari pohon lontar.

Bila tidak maka dipercaya arwahnya tidak dijemput oleh para leluhur yang telah meninggal mendahului di alam dunia orang mati.

Dan di era Tahun 1980-an, batang lontar masih dijadikan peti mati tetapi budaya ini kemudian terkikis oleh perkembangan zaman.

Konon juga, yang lebih dahulu mengenal batang lontar dijadikan material peti mati adalah orang Rote bagian barat.

Hal itu dapat dibuktikan dengan sebuah bahasa syair sindiran kepada salah satu suku tertentu di Rote bagian tengah, bahwa……nama suku…… mana hasa mamates.

Suku ini mendapat stigma sebagai pembeli mamates/jasad orang mati.

Baca Juga :  NTT Bisa Bangkit dan Sejahtera Bisa Melalui Gelar Pentas Seni Tradisional

Dalam uraian tulisan ini, penulis enggan menyebut nama suku itu karena sejauh ini banyak anak-anak sukunya telah menjadi orang-orang terhormat atau terpandang di Kabupaten Rote Ndao.

Menurut tuturan yang penulis dapatkan, bahwa dahulu, ada dua orang leluhur suku ini yang hobbinya berburu. Suatu hari keduanya berburu ke arah barat pulau Rote dan sampailah di daerah yang diketahui saat ini, bernama ex Nusak Ti.

Kehadiran keduanya bersama dua ekor anjing yang tidak pantas penulis sebutkan nama mereka karena nama kedua anjing tersebut dipecaya sangat sakral/keramat.

Di ex Nusak Ti, kedua pemburu ini melihat kerumunan orang yang memeluk gelondongan  lontar yang telah dibalut selimut dan bernyanyi sambil membanting tubuh ke sana kemari. Suara mereka merdu dan indah sekali.

Fenomena ini membuat mereka ingin mendekat guna mengetahui apa yang telah terjadi.

Setelah mendekat, keduanya semakin terperangah dan terheran-heran.

Kemudian keduanya berbisik, bahwa peristiwa ini merupakan hal baru yang belum ada di negeri mereka. Maka kedua leluhur inipun diam-diam sepakat dan berencana harus membawa gelondongan lontar yang telah berbalut selimut tersebut.

Rencana mereka akhirnya terlaksana, kedua anjing pemburu milik mereka, lalu dibarter dengan gelondongan lontar yang berbalutkan selimut tersebut.

Setelah mendapatkannya, dengan segala upaya dan susah payah, gelondongan kayu ini digotong hingga sampailah di daerah asal mereka.

Di sana, keduanya menceriterakan semua kejadian yang dilihat  kepada keluarga dan family mereka.

Baca Juga :  Keterbatasan Anggaran Jadi Kendala Mengexplore Pariwisata di Sumba Tengah

Ceritera mereka lalu membuat keluarga dan family ikut penasaran dan mendesak agar gelondongan yang berbalut selimut ini perlu dibuka guna mengetahui apa yang ada di dalamnya.

Akhirnya, mereka pun membukanya, dan ternyata ketika selimut -selimut tersebut terbuka, gelondongan kayu yang disangka itu adalah sebuah peti yang berisikan jasad orang mati. Kemudian, hal itu menjadi aib bagi suku ini sebagai pembeli jasad orang meninggal.

2. Nira Lontar

Lebih dari itu, air atau nira  pohon lontar telah dianggap sebagai pengganti air susu ibu, (asi).

Di kehidupan nenek moyang, setiap anak yang baru dilahirkan; air lontar atau gula air harus diteteskan pada pangkal lidahnya, dipecaya kelak sang anak itu dewasa nanti dan pergi merantau tidak akan pernah melupakan negeri asalnya.

Tradisi tersebut meski pun hingga hari ini tidak berlaku lagi tetapi seperti meninggalkan sebuah kekuatan magis yang masih terasa dikalangan etnis Rote secara umum.

Di mana, sehebat apapun atau sejauh mana merantau seseorang etnis Rote tetapi selalu merindukan kampung  halamannnya. Bahkan selalu teringat saat minum air/nira lontar bersama sanak saudara dan family, sehingga terkadang bersedih atau menangis.

Lebih dari itu, siapapun dia baik orang kaya, miskin, pejabat atau masyarakat biasa, tetapi adalah etnis Rote atau orang Rote Ti setiap mengunjungi sanak family, keluarga, kenalan, teman atau handai touland selalu membawa gula air, gula lempeng, atau gula semut, gula hela, dalam tempat tertentu, misalnya jerigen atau lainnya sebagai ole -ole khas Rote.

Baca Juga :  Stay at home, Kepsek Mengaku Berkomunikasi Aktif Dengan Kabid Pendidikan Menengah

Di zaman kehidupan leluhur, karena belum ada gula pasir, susu, teh dan kopi, air atau nira lontar sebagai satu-satunya minuman silahturahmi atau persatuan dengan keluarga, kerabat, teman, kawan, kenalan dan handai touland menjelang pagi, siang dan sore.

Hal yang sama, bayi yang baru dilahirkan, bila susu ibunya tidak mencukupi untuk menyusui, air atau nira lontar sebagai satu-satunya minuman pengganti asi.

Dasar itulah, air atau nira dari pohon lontar oleh etnis Rote telah dianggap sebagai pohon kehidupan yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan mereka.

Air atau nira lontar selain dapat diminum langsung juga dapat dimasak lagi menjadi gula kental atau encer yang disebut, gula air, atau dalam dialeg Rote dikenal dengan nama, tua nasu atau tua meni.

Dari tua nasu dapat diolah lagi menjadi gula lempeng, atau dalam bahasa rote disebut, tua batuk. Selanjutnya, dari tua batuk bisa diolah menjadi gula semut.

Gula air, gula lempeng dan gula semut sebagai pemanis pembuatan minuman es sirup dan lainnya serta pemanis berbagai jenis kue.

Bersambung ke episode berikutnya. Ikuti Terus Sejarah Pohon Lontar Karena hanya ada di onlinentt.com

Berita Terkait

Pendidikan Jadi Investasi Masa Depan, Bupati Paulus Henuk Kawal Persiapan Rote Ndao Mengajar
Touring Nusantara Berlabuh di Rote Ndao, Bupati Paulus Henuk: Pariwisata Tumbuh Saat Daerah Mampu Menjadi Tuan Rumah yang Baik
Bupati Paulus Henuk Pastikan Pameran UMKM Siap Digelar, Lapangan Christian Nehemia Dillak Dipoles Menjadi Pusat Kebangkitan Ekonomi Rakyat
Dari Rujab Bupati, Aspirasi Tesabela Mengarah pada Pusat Pelayanan Baru dan Kampung Nelayan Modern
Bupati Paulus Henuk, SH, Sambangi Pengrajin Alat Musik Tradisional Sasandu
Ada Kesamaan Budaya, Adat dan Bahasa, Orang Madagaskar Diduga Miliki Hubungan Leluhur Dengan Orang Rote
Raih Sejumlah Prestasi di Ajang Kompetisi Prestisius Pemilihan Putera Puteri Ekowisata Nasional Tahun 2025, Timothy dan Elisabeth Kembali ke Tanah Air, Disambut “Bak Pangeran dan Ratu”
Raih Prestasi, Elisabet Dollok dan Timothy Sihotang, Pewakilan Putera dan Puteri Ekowisata Prov NTT Tahun 2025, “Jadi Kebanggaan”, Kabupaten Rote Ndao
Tag :
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 07:10 WITA

Dari Jakarta untuk Nusa Lontar: Paulus Henuk Ajak Ketua Yayasan Pendidikan Astra Hadir di Rote Mengajar

Kamis, 30 Juli 2026 - 03:56 WITA

Satukan Gagasan dari Kupang, Paulus Henuk Matangkan Langkah Besar Program Rote Mengajar

Selasa, 28 Juli 2026 - 22:17 WITA

Rote Ndao Siapkan Putra Daerah Menjadi Tenaga Profesional di Kawasan Industri Garam Nasional

Rabu, 22 Juli 2026 - 05:40 WITA

Paulus Henuk Bangkitkan Gerakan “Mai Fali Nusa Rote”, Pulangkan Hati dan Pikiran Diaspora untuk Mendidik Generasi Emas

Rabu, 8 Juli 2026 - 07:46 WITA

Bupati Paulus Henuk Dorong Kolaborasi Strategis dengan UNDIP, Buka Peluang Pendidikan dan Percepatan Pembangunan Rote Ndao

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:37 WITA

SMKN 1 Lobalain Buka Gerbang Masa Depan Generasi Muda Rote Ndao, Pendaftaran Tahap I Dimulai 24 Juni

Selasa, 23 Juni 2026 - 14:24 WITA

KKN UGM Hadir di Rote Ndao, Bupati Paulus Henuk Dorong Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat untuk Percepatan Pembangunan

Selasa, 23 Juni 2026 - 13:41 WITA

Bupati Paulus Henuk Tegaskan Integritas Pendidikan, Kepala Sekolah Sepakati Komitmen Transparansi Dana BOS

Berita Terbaru