Kelewang itu ditaruh pada tumpukan batu, seperti bekas pagar rumah adat/tinggal. Penulis yang sempat mendatangi lokasi dan meraba fisik kelewang tersebut sudah terlihat berkarat karena tidak diperhatikan dan terurus dengan baik.
Penduduk setempat hingga hari ini tidak satu pun berani mendekat ke tempat yang dinamai, “Lere Kotan”.
Dari penelusuran penulis, siapa pun yang hendak mendekati lokasi tersebut akan pulang ke rumah dengan tertimpah sakit yang susah disembuhkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selanjutnya, kembali kepada “Batu Helianan”, dari penuturan yang diperoleh penulis, disampaikan, bahwa sisa keturunan dari nama leluhur Helianan, masih tersisa dan tidak pernah menghilangkan identitas mereka. Meski pun di zaman feodalisme, keturunan Helianan, diakui adalah masyarakat ex Kerajaan Termanu.
Dalam pesebarannya, terbanyak berada di Desa Lidamanu, menggunakan faham Helianak dan lainnya.
Pada suatu kesempatan, masih teringat, dua puluhan tahun lalu, ketika penulis menyambangi salah satu keluarga Helianak di Desa Lidamanu Kecamatan Rote tengah. Melalui beberapa tetua, mereka mengaku, leluhur mereka berasal dari Batu Helianan sehingga untuk tidak melupakan asal usul, sampai dengan generasi saat ini, mereka masih menggunakan faham Helianak.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

Ikuti Kami
Subscribe































