Hal yang berbeda, juga dikatakan oleh sumber tuturan lain, kalau Mboe Ain, adalah sekelompok orang, dahulu merupakan masyarakat Oenale yang telah melebur dan mendeklarasikan diri melalui sebuah sumpah serapah menjadi masyarakat Rote Ti. Sementara Lutu Ain sendiri adalah masyarakat asli Ti.
Sehingga Kerajaan Ti dahulunya, merupakan gabungan dua kelompok besar masyarakat Oenale dan Ti.
Lain dari itu, sebagian orang menduga kalau nama Mboe Ain, adalah nama seorang leluhur bernama, Mboe Dai, yang dahulunya mendiami sebuah dusun bernama, “Oe Dai, ” di Desa Oebou Kecamatan Rote Barat Daya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Maka, hal serupa tidak beda jauh dengan Kerajaan Dengka, yang adalah gabungan tiga kelompok besar masyarakat, yakni Ndau, Lidor dan Lai Lete. Akan tetapi terkait kebenaran penuturan Mboe Ain dan Lutu Ain tersebut, perlu dilakukan penelusuran lebih serius, baik dalam kalangan masyarakat Ti maupun Oenale.
Baru, pada Tahun 1500 Masehi, setelah dilakukan pembagian klen dan sub klen oleh Saku Nara, salah seorang Mane Lai, anak dari leluhur Nara Resi, masyarakat Rote Ti, akhirnya, terbagi dalam dua klen besar, yaitu Taratu dan Sabarai. Nama dua klen ini berasal dari nama dua leluhur, yakni Ratu Nara dan Saba Nara. Keduanya merupakan anak dari leluhur Nara Resi.

































