Disampaikan, bahwa media api kala itu hanya ada/dikuasai oleh nama di atas. Sehingga untuk memperolehnya, para leluhur harus ke langit.
Peristiwa itu terkenang dalam syair yang mengatakan, “ara sambu lilor ma ara tuti henur fo ara raba ma ara kai, ara reu ma ara mai, “. Artinya, “mereka mengikat dan menyambung emas dan muti sebagai tangga naik dan turun, “.
Menurut legendanya, jalinan emosional yang begitu kuat, kemudian berbuah biologis, yaitu perkawinan puteri daratan dan pangeran laut. Berbeda dengan legenda bokai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bermula dari perkawinan ini, lalu hadirlah kerbau bercorak putih atau belang-belang dan tanduk lebar serta panjang. Konon, awalnya dberi oleh raja laut, (naga terbang), kepada leluhur suku Tolaumbuk namun karena tipu muslihat di antara dua sahabat karib, yang selalu melakukan pengembalaan bersama, yakni suku Nalle Feoh, maka jenis kerbau oleh masyarakat setempat, disebut kamba susura kafeak, pertama kali dimiliki oleh suku Nalle Feoh.
Lokasi dari legenda tersebut hingga hari ini berdasarkan tuturan yang diperoleh penulis, terletak di Dusun Batutua Desa Batutua Kecamatan Rote Barat Daya. Atau tepatnya, di belakang bekas kantor pertama camat Rote Barat Daya yang didirikan Tahun 1972.

































