Leluhur Etnis Rote Tinggal di Bulan?

- Redaksi

Kamis, 18 Februari 2021 - 23:05 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : Johanes Henuk 

Alumni SMA Negeri 2 Oemilan Rote Barat Laut  Angkatan Ke- II

onlinentt.com-Setiap etnis, suku, kampung dan pulau tentu mempunyai ceritera mitos/rakyat atau legenda. Hal itu, tidak terlepas dari etnis Rote, khususnya orang Rote Ti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut sejumlah tetua di Ex Nusak Ti Kecamatan Rote Barat Daya, bahwa
di awal kehidupan leluhur pertama etnis Rote, khususnya orang Ti, mereka masih bergantung hidup pada perburuan binatang liar, (hutan), dan kelautan, perikanan serta hidup dalam lubang-lubang jurang atau goa, yang dalam tuturan dialeg syair setempat dikatakan, “ara bei bambi leak ma ara bei soru luak do ara bei folu buluk ma ara bei raa matak.

Makna syair tersebut menjelaskan, bahwa “mereka, (red=para leluhur), masih berlindung di dalam lubang-lubang jurang dan goa serta masih mengkonsumsi daging mentah berbulu.

Baca Juga :  Output Lulusan Pendidikan Vokasi Harus Mandiri dan Sukses

Kondisi seperti itu karena para leluhur belum mengenal api sebagai sarana untuk bakar dan rebus, di  mana hubungan persahabatan dengan penguasa langit belum terbangun, yang oleh masyarakat Rote, khususnya orang Ti, mengenalnya dengan nama Telukaman Lai Londa. Sehingga para leluhur belum mengetahui dan mengambil api di petir, kilat dan guntur.

Menurut tuturan klasik yang diperoleh penulis dari salah satu tetua adat Rote Ti, yang juga merupakan opa dari penulis, Es Pandie, (86 tahun) yang telah almarhum, dikatakan ada dua fase persahabatan yang dibangun oleh para leluhur orang Rote, khususnya orang Ti, pertama dengan raja langit dan kedua, raja laut.

Setelah terjalin persahabatan Telukaman Lai Londa, (penguasa langit), dan Hakaman Lepa Dae, (penguasa bumi), barulah para leluhur dapat memperoleh dan mengambil api di petir kilat dan guntur.

Baca Juga :  Menag RI Didampingi Wagub, Nae Soi Resmikan IAKN Kupang

Untuk mengambil api pun, di era itu hanya oleh orang-orang pilihan yang direstui atau mendapat mandat karena mempunyai kelebihan khusus.

Terkait siapa orang-orang yang diberi mandat, penutur enggan menyebutkan nama mereka karena dipercaya sangatlah sakral.

Sedangkan hal yang sama dibenarkan pula oleh dua orang tokoh adat Ti, AH, (72 tahun), AS, (60 tahun).

Penulis menggunakan inisial penutur untuk menjaga nara sumber sebelum penerbitan bukunya penulis..

Menurut kedua tokoh ini, sampai dengan sekarang masih ada bukti, bahwa pernah ada hubungan kekerabatan antara penghuni langit dan bumi, misalnya, pertama, masih berdirinya sebuah gundukan tanah beberapa tingkat di Kokolo Dusun Soruk, yang dikenal masyarakat setempat bernama, “Eda Huk/Edak Lain, (red=tangga naik ke langit dan turun ke bumi).

Baca Juga :  Episode ke II, Legenda Tenggelamnya Pulau Kima Rou do Nara Fai

Tuturan itu diperkuat dengan sebuah syair tua yang mengatakan, “Ara bei tuti henur ma ara bei pa”a lilor fo ara raba ma ara kai. Ara reu ma ara mai,”. Artinya, “Mereka masih menyambung muti dan mereka juga masih mengikat emas untuk bisa naik dan turun”.

Kedua, masih ada sebuah batu lebih kurang 80×80 centi meter di Sandale Dusun Soruk Desa Oebafok Kecamatan Rote Barat Daya, oleh masyarakat Dusun Soruk disebut, “Batu Telukaman Lai Londa”

Dahulu, sebelum agama masuk ke Pulau Rote, khususnya daerah Ti, masyarakat setempat, menjelang musim tanam, bila meminta hujan, selalu menyembah berhala, (red=ritual adat), kepada batu tersebut lalu hujan turun. *

Bersambung ke episode  berikutnya…ikuti terus karena hanya ada di onlinentt.com.

Berita Terkait

SMKN 1 Lobalain Buka Gerbang Masa Depan Generasi Muda Rote Ndao, Pendaftaran Tahap I Dimulai 24 Juni
KKN UGM Hadir di Rote Ndao, Bupati Paulus Henuk Dorong Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat untuk Percepatan Pembangunan
Bupati Paulus Henuk Tegaskan Integritas Pendidikan, Kepala Sekolah Sepakati Komitmen Transparansi Dana BOS
1.420 Guru dan Nakes Resmi Sandang Jabatan Fungsional, Bupati Paulus Henuk Tekankan Profesionalisme Pelayanan
Mahasiswa KKN Undana Tinggalkan Jejak Positif di Rote Ndao, Bupati Paulus Henuk Beri Apresiasi
Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk Matangkan Sejumlah Agenda Strategis Sektor Pendidikan
Bupati Henuk Sikapi Persoalan Hak Guru PPPK, Natsun Johanis Anin
Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk Perkuat Sinergi Pendidikan Bersama Komunitas Rote Mengajar
Tag :
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 01:14 WITA

Kolaborasi Bangun Ekonomi Pesisir, Bupati Paulus Henuk Sambut Investasi Tambak Garam di Pukuafu

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:07 WITA

471 PPPK Paruh Waktu Resmi Terima SK, Bupati Paulus Henuk Tegaskan Komitmen Penguatan Pelayanan Publik

Rabu, 24 Juni 2026 - 17:48 WITA

Dubes RI untuk Australia Tinjau K-SIGN, Rote Ndao Kian Diperhitungkan sebagai Lumbung Garam Nasional

Selasa, 23 Juni 2026 - 13:53 WITA

Sinergi Pemda dan Yayasan TLM Diperkuat, Hadirkan Program Pemberdayaan untuk Masyarakat Rote Ndao

Sabtu, 20 Juni 2026 - 03:13 WITA

Investor Energi Surya Tinjau Potensi Rote Ndao, Pemkab Dorong Pengembangan Energi Berkelanjutan Menulis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 02:49 WITA

Bupati Paulus Henuk Perkuat Pengawasan Pembangunan K-SIGN Demi Dorong Sektor Perikanan Rote Ndao

Jumat, 19 Juni 2026 - 03:12 WITA

Bupati Paulus Henuk Dorong Transformasi Pelayanan Ketenagakerjaan untuk Masyarakat Rote Ndao

Jumat, 19 Juni 2026 - 02:53 WITA

Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Rote Ndao, Melalui Kepala Bidang Kelembagaan dan Sarana Prasarana, Ajak Petani Segera Tebus Pupuk Bersubsidi untuk MT II dan MT III

Berita Terbaru