Episode Terakhir, Tuturan Sejarah Tempat Sirih dan Pinang  Versi Orang Rote Ti

240

onlinentt.com-Rote Ndao-Kepada mereka, dia menanyakan prihal penguburan jasadnya setelah meninggal. Namun tidak satu pun yang menjelaskan mengena di hati. Hal tersebut semakin memperparah keadaan dan membuat dia hampir putus asa.

Tetapi di tengah keputusaaan, dia baru teringat kalau di Pulau Rote ada seseorang yang terkenal dan kesohor karena kepintarannya bernama, Tou Malelak Tehu Hatatak.

Sehingga ada keinginan untuk bertanya kepada Tou Malelak Te Hatatak, tetapi ketika hendak melakukannya, bayang-bayang permusuhan di antara mereka selalu membututi membuatnya menjadi sunkan.

Rasa bersalah itu hadir dan menghantui. Bahkan selalu teringat kalau dulu dia sering mengolok-olok Tou Malelak Te Hatatak, bahwa, walau dia seorang yang pintar tapi miskin dan hina dina.

Suatu hari, ketika sakitnya  semakin tambah parah, Tou Kamasu’ik Te Nggoak, tanpa ragu-ragu dan sunkan lagi,  menyuruh salah satu anaknya pergi menjempur Tou Malelak Tehu Hatatak.

“Pergi dan katakan pada orang pintar dan bodoh itu, bahwa ayah lagi perlu penting dan sangat membutuhkan kehadirannya,” kata Tou Kamasu’ik Te Hatatak kepada anaknya.

Tiba di sana, anak Tou Kamasuik Te Nggoak pun menyampaikan apa yang dikatakan oleh ayahnya.

Mendengar penyampaian itu, lalu Tou Malelak Te Hatatak, bertanya kepada anak Tou Kamasu’ik Te Nggoak, mengapa ayahnya yang sangat membenci dia tapi menjelang meninggal ingin bertemu.

Jawab anak itu, bahwa mungkin, menjelang meninggal, selain ingin bertanya sesuatu sekalian ayahnya ingin meminta maaf atas salahnya selama ini kepada Tou Malelak Te Hatatak.

Ucapan ini, menggugah hati Tou Malelak Te Hatatak untuk ingin menemui Tou Kamasu’ik Te Hatatak.

Setelah itu, Tou Malelek Te Hatatak bersama anak Tou Kamasuik Te Nggoak, lalu pergi.

Tiba di sana, Tou Malelak Te Hatatak, lalu menyapa Tou Kamasuik Te Nggoak, dan menanyakan perihal pemanggilan dirinya.

“Hai teman saya ke tempat kamu karena dijemput oleh anakmu bahwa kamu ingin bertemu. Kira kira apa yang bisa saya bantu dengan keberadaan miskin ini,” ucap Tou Malelak Te Hatatak.

Perkataan Tou Malelak Te Hatatak, yang sangat menyejukan suasana tersebut, kemudian mengawali perbincangan di antara mereka.

Lalu Tou Kamasu’ik Te Nggoak pun menceriterakan, bahwa dia menginginkan bila meninggal dunia nanti dikuburkan secara layak dan terhormat oleh anak dan cucunya. Namun ketika ditanya kepada mereka tak satu pun dapat menjawab mengena di hatinya. Dan karena orang-orang mengatakan ada Tou Malelak Te Hatatak, yang kesohor karena kepintarannya maka dia meminta tolong untuk ikut memikirkan hal ini.

Mendengar perkataan Tou Kamasuik Tehu Hatatak demikian, yang terkesan sangat mengharapkan dirinya, Tou Malelak Tehatatak,  lalu bertanya kepadanya, bahwa semenjak usia muda sampai dengan usia saat ini, sejauh mana saja melakukan pengembalaan.

Maka jawab Tou Kamasuik Te Nggoak, waktu masih muda dirinya melakukan pengembalaan dari ujung timor pulau Rote, ” Timu Dulu do Sepe Langga” hingga barat pulau Rote, ” Rene Kona do Tada Muri”.

Dirinya sering bertemu dengan semua umuran, baik anak-anak, perempuan dan laki-laki, maupun tua dan muda.

Mendengar jawaban itu, Tou Malelak Te Hatatak, kemudian meminta kepada Tou Kamasuik Te Nggoak, agar saat ini dapat menghadirkan seluruh anak laki-laki dan menantu laki-laki serta anak perempuan dan menantu  perempuan di hadapannya.

Setelah dikumpulkan, kepada mereka, Tou Malelak Te Hatatak, menegaskan agar bagi laki-laki segeralah memanjat  lontar dan mengambil daun lontar untuk dijemur hingga kering.

Untuk anak-anak perempuan dan para menantu perempuan, nanti daun-daun lontar yang  mengering, ambil ayamlah Ndunak dan Toundas.

Nanti setelah ayah mereka  meninggal, bagi teman, sahabat, kerabat atau keluarga mana yang datang dan menaruh pantatnya (red=duduk), di bangku atau kursi duka maka ambil dan kasihkan Ndunak dan Tondas, sebagai penyambutan dan penghormatan atas kehadirannya.

Selesai mengatakan demikian, Tou Kamasu’ik Te Nggoak, beberapa hari kemudian meninggal dunia, dan apa yang disarankan Tou Malelak Te Hatatak pun diterapkan oleh anak-anak Tou Kamasu’ik Te Nggoak.

Peristiwa ini lalu menjadi tradisi bagi etnis Rote di Pulau terselatan Indonesia sampai dengan saat ini. Bahwa siapa yang datang melayat orang yang meninggal atau datang di acara adat lainnya, begitu mendudukan pantatnya pada bangku atau pun kursi akan langsung disodorkan Ndunak dan Tondas. *Tamat.
Ikuti terus akan ada lagi ceritera rakyat yang lain. Hanya ada di onlinentt.com

Comments
Loading...