Episode III, Menapaki Sejarah Pohon Lontar Versi Orang Ti

271

onlinentt.com-Artinya, saya mengambil penjepit mayang jantan agar saya menjepit mayangnya. Karena mayang jantan bukanlah muara yang biasanya kering. Kemudian tempayan airnya tidak mengering karena terbuka hulu mayang agar mengisi penampung nira. Setelah selesai ritual, barulah melakukan penyadapan.

Sementara untuk mendapatkan air nira yang banyak, seorang penyadap bisa menyadap lebih kurang 50 sampai dengan 100 buah pohon namun tergantung juga pada kemampuan fisik seorang penyadap.

Waktu atau jadwal penyadapan pun dibagi menjadi dua tahapan waktu, yaitu menyadap pagi dimulai dari pukul 10.00 wita (malam), hingga pukul 11. 00 wita (siang).

Sementara jadwal menyadap pada sore hari dimulai dari pukul 01.00 wita, (pagi), sampai dengan pukul 11.00 wita, (malam).

Musim dan volume penyadapan biasanya full pada akhir bulan Maret hingga awal Desember atau dikenal dengan ungkapan fanduk.

Pantangan bagi seorang penyadap dikalangan etnis Rote untuk tidak  menyakiti sesama, saudara, mencuri terutama orang tua agar menghindari kutukan. Sebab bagi yang melakukannya, akan terkena murkah, dimana yang bersangkutan, (penyadap), bisa terjatuh dari pohon lontar/tuak, atau disebut, tuda tua tepa langgak, artinya jatuh pohon lontar patah leher/kepala.

Pada pukul 12.00 wita, (siang), merupakan waktu yang biasanya dimanfaatkan untuk tidur, bermain sasandu, (khusus bagi yang tahu bermain alat musik sasandu), atau membuat haik, sambak dan sosorok.

Haik adalah alat penadah air nira yang keluar dari mayang lontar. Sedangkan sambak merupakan tempat penadah air nira setelah diambil dari haik.

Bagi kaum perempuan berkewajiban, selain memikul dan memasak gula, juga mengumpulkan kayu bakaran. Biasanya kayu -kayu tersebut diperoleh di hutan, hasil tebang pohon milik sendiri atau orang lain yang nantinya dibarter dengan gula sesuai kesepakatan bersama antara penyadap dan pemilik kayu.

Sementara sosorok adalah tempat untuk meletakan haik, (penampung air nira di atas pohon lontar berukuran kecil),.

Seseorang penyadap lontar biasanya bermain sasandu bertetapan dengan waktunya menyadap pohon lontar, merupakan suatu kebiasaan orang Rote Ti, yang dipercaya untuk membujuk rayu mayang tuak agar berair saat disadap. Karena pada hakekatnya, “Bunyi Sasandu”, telah mendapat stigma sebagai pembujuk rayu. Atau dalam syair setempat dikatakan, “Deta Hitu Mana Kokoek,”, yang Berarti, “Tujuh Tali Pembujuk Rayu,”.

Rayuan yang dimaksud saat bermain Sasandu adalah kepada angin agar meniup manja mayang tuak agar mengeluarkan air/nira yang banyak. *jh

Ikuti terus sejarahnya pohon lontar karena hanya ada di onlinentt.com

Comments
Loading...