onlinentt.com-Rote Ndao-Dentuman tambur dan pukulan gong tak henti-henti, disertai sesekali pekikan ala Rote terdengar seola-ola membangkitkan spirit.
Suara orang-orang yang memadati pusara HUS itu begitu riuh entah apa yang diperbincangkan. Terkadang terlihat ada yang saling rangkul, mencium, dan tertawa. Terkesan seperti mereka sangat gembira dengan momentum perayaan HUS hari ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka tak peduli dengan sengat terik matahari yang membakar kulit dan raut wajah.
Sesekali terdengar suara dalam dialek/aksen Rote Dengka di telinga, bahwa ‘Bupati ana mai ena do”, artinya Bupati sudah datang atau belum. Sementara, terlihat setiap mata sedang menatap jalanan dan mencari sesosok yang belum juga tiba.
Dan waktu pun terus berdetak seakan ingin menjawab setiap hati yang lagi resah dan gelisah menunggu di sini.
Tepat pukul 14.32 wita, terlihat beberapa mobil plat merah pun beriringan memasuki area parkir HUS.
Hal itu membuat situasi semakin riuh dan masyarakat yang hadir saling berdesakan ingin menyaksikan dan melihat kehadiran seorang anak yatim piatu asal Desa Tasilo, (dahulu Desa Boni), Kecamatan Loaholu, yang kini menjadi, Bupati Rote Ndao Rote, Paulus Henuk, SH.
Dari setiap penumpang yang turun dari mobil-mobil berplat merah ini diamati tapi sosok yang dinanti nantikan tidak pernah muncul.
Sementara, sengatan matahari terasa panas dan tiupan angin yang kincang seolah-olaht memberi teka teki di mana keberadaan sosok yang ditunggu.
Baru lebih kurang 25 menit, kemudian terlihat debu-debu jalan beterbangan dan terdengar ramai pekikan ala orang Rote serta bunyi derap kaki kuda terdengar keras di jalan, sedang mendekat arena HUS.
Dan semua mata terbelanga dan takjub, ternyata sosok yang ditunggu dan dinanti tidak ingin memasuki tempat yang dianggap sakral dengan kemewahan melainkan kesederhanaan seperti apa yang telah ditanamkan oleh para leluhur.
Saat memasuki arena HUS, (pacuan), kuda yang ditunggangi Bupati Rote Ndao diapit oleh kuda kuda lain diikuti dengan pekikan spirit orang Rote Ndao.
Di tengah pusara HUS, Bupati Rote Ndao ini disambut dengan suguhan tarian adat dan tutur adat oleh Archimes Molle, S.Th, MA, didampingi oleh Sembilan Maneleo dari Sembilan Suku di Kota Dalek ex Nusak Lai Lete.
Menurut Archimes Molle dalam kesempatannya, bahwa momentum HUS kali ini kiranya dapat menjadi perhatian bagi pemerintah daerah agar ke depan dapat menjadi salah satu aikon destinasi yang dapat berkontribusi bagi masyarakat Desa Tasilo Kecamatan Loaholu.
Disamping itu, ditambahkan Archimes, salah satu maneleo Koordinator Leo Luna dan Fando ini, selain HUS, rumah adat merupakan identitas suku. Oleh karena itu rumah adat sembilan suku di ex Nusak Lai Lete perlu diperhatikan untuk dibangun kembali agar ketika HUS dijadikan sebagai salah satu destinasi budaya maka menjadi lengkap, terang lelaki yang biasa disapa Memo itu.
Sementara, Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, S.H dalam sambutannya mengatakan kegiatan HUS merupakan warisan tradisi yang ditinggalkan leluhur tentu memiliki nilai historis yang sangat sakral dan panjang bagi masyarakat Rote Ndao.
“Sehingga layak untuk kita beri penghormatan sebagai bentuk identitas diri,” terang dia.
Menurut Paulus, kegiatan HUS bagi masyarakat Rote Ndao juga merupakan perpaduan atraksi budaya dalam bentuk suka cita pasca panen hasil pertanian.
“setiap tradisi, tarian bagian dari cerita diri kita maka jangan mencederainya. Semua pihak perlu menjaga persatuan dan kesatuan dalam bertradisi,” pungkas dia
Di penghujung acara, dilanjutkan dengan penyerahan hadiah adat oleh Bupati Rote Ndao kepada 14 orang penunggang kuda sebagai perwakilan tokoh adat dan peserta festival kuda. *

Ikuti Kami
Subscribe









p



















