Alkisah Leluhur Belu Bongga dari ex Nusak Ti, Exodus Ke Puncak Lete Diu

- Redaksi

Selasa, 1 Juli 2025 - 11:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Istimewah 

onlinentt.com-Rote Ndao-Kehidupan leluhur orang Rote dahulu selalu berpindah-pindah, (nomaden), dari satu tempat ke tempat yang lain. Perpindahan tersebut disebabkan oleh sejumlah indikator, misalnya; pertama; mencari tempat yang sulit dijangkau agar  lebih aman dari serangan oleh suku/klen/sub klen/marga lain atau musuh, seperti puncak gunung, lubang gua, jurang dan perbukitan terjal atau hulu sungai.

 

Kedua, mencari tempat yang cukup sumber air dan rumput bagi ternak peliharaan. Ketiga, berladang dan atau berkebun, (belum mengenal pertanian model sawah). Keempat, terjadinya pertengkaran atau permusuhan antara saudara akibat harta peninggalan/warisan orang tua. Kelima, ketersinggungan dalam interaksi sosial lain antara sesama saudara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Keenam, akibat perkawinan lalu mengikuti istri ke tempat asal dan melebur ke dalam silsilah/suku/klen/sub klen/marga istri.

 

Ketujuh, mencari pekerjaan di negeri lain, (red=kariang//dahulu yang biasa melakukannya orang Rote Ti), kemudian tidak kembali ke negeri asal.

 

Kedelapan, membantu suku/klen/sub klen/marga lain dalam peperangan lalu enggan lagi kembali karena diberikan ulayat tanah dan harta benda lainnya.

 

Kesembilan, ditawan (ditangkap), saat terjadi peperangan antara suku/klen/sub klen/marga.

Di Rote Ndao ada sejumlah orang yang berhasil ditangkap atau ditawan dan menetap di nusak tertentu. Dalam tulisan ini, penulis enggan menuliskan leluhur/suku/klen/sub klen/marga mana.

 

Kesepuluh, melakukan pelanggaran terhadap adat istiadat lalu didenda, (sanksi). Biasanya denda ini, berupa harta benda, misalnya hewan/binatang, emas, muti dan lain sebagainya.

 

Lalu bila tidak sanggup membayar denda ada suku/klen/sub klen/marga lain yang membantu membayarnya maka berpindah ke suku/klen/sub klen/marga tersebut.

 

Kesebelas, akibatnya terjadi gempa atau banjir bandang sehingga tempat tinggal yang sudah tidak layak dihuni atau ditempati.

 

Kedua belas, melakukan pembukaan lahan pertanian baru, seperti ladang dan kebun dan enggan kembali ke tempat asal.

 

Dari kedua belas indikator tersebut, kemudian ada beberapa kemungkinan leluhur tersebut dapat berdiri sendiri atas nama suku/klen/sub klen/marga asalnya di tempat lain dan atau melebur ke dalam klen/sub klen tertentu di tempat lain dengan tujuan dapat mempermudah tali kekerabatan, atau lebih dikenal dengan sebutan, (nalusek). Istilah nalusek bermakna harafiah

Baca Juga :  Komisi IV DPR RI : Karantina Miliki Peran Penting Dalam Menjaga Ketahanan Pangan Nasional

membungkus/merangkul/menyatukan/ melebur.

 

Nalusek ke dalam suku tertentu juga dapat berdampak baik dan tidak. Misalnya, dari sisi baiknya, dengan adanya peleburan ke dalam suku/klen/sub klen/marga tertentu dapat mempererat kekerabatan, memperkuat tali kekeluargaan, mempermudah interaksi sosial, budaya dan adat istiadat, memperkuat persatuan dan kesatuan, (parani tati batu ela mana nggeo dea)/memperoleh dukungan kekuatan apabila terjadi perang tanding antara suku/klen/sub klen/marga dan meringankan beban kegiatan gotong royong atau sosial lainnya, seperi arisan belis karena peningkatan pendapatan kumpul keluarga yang meningkat, (tu’u belis), dan sebaginya.

 

Sisi negatifnya, pertama, bila melebur diri ke suku/klen/sub klen/marga tertentu dan silsilahnya tidak dituturkan atau dituliskan, (stambum), secara baik maka setelah keturunan berikutnya akan kabur/tidak jelas atau tidak diketahui lagi asal muasal suku/klen/sub klen/marga aslinya serta setelah berada dilingkup suku/klen/sub klen/marga tertentu keturunannya jauh lebih berkembang  dengan ketika masih berada di suku/klen/sub klen/marga aslinya.

 

Dan sadar atau tidak, ke depannya suku/klen/sub klen/marga yang menjadi tampungan, (nalusek), pertama, generasi lepas generasi akan perlahan lahan punah dan atau tidak berkembang. Selain itu juga akan berdampak atau berpotensi terjadinya klaim atas tanah warisan, (pusaka/ulayat) atau lainnya antara suku asli dan yang dinalusek.

 

Berkaitan dengan itu, ada seorang leluhur bernama Belu Bongga atau biasanya disapa juga dengan nama lainnya Belu Langga mendiami sebuah tempat di ex Nusak Ti Kecamatan Rote Barat Daya atau tepat di Dusun Soruk Desa Persiapan Desa Soruk, atau dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Bai Tota. Leluhur ini dalam trah silsilah Rote Ti berasal dari Leo Sabala’e.

Baca Juga :  TNI AU Berkontribusi Nyata Terhadap Pemulihan di Provinsi Kalsel dan Sulbar

 

Dari penelusuran penulis, leluhur ini memiliki dua saudara kandung namun dalam tulisan ini, penulis tidak menguraikannya karena alasan tertentu .

 

Menurut penuturan salah seorang tetua di Dusun Soruk Desa Persiapan Soruk Kecamatan Rote Barat Daya bernama Bai Tu tus, bahwa dahulu kedua leluhur itu hidup berdampingan dan saling menyayangi. Namun tersebutlah di suatu hari, seekor kambing milik leluhur Belu Bongga memakan tanaman sirih milik saudaranya hingga tidak ada satu daun pun yang tersisa.

 

Akibatnya hal itu memancing kemarahan bagi saudaranya dengan mengambil tombak dan menombak kambing milik Belu Bongga hingga mati. Kematian kambing tersebut lalu menjadi pemicu timbulnya pertikaian yang diikuti dengan pembunuhan antara saudara.

 

Sebagian laki-laki dalam keturunan Belu Bongga/Belu Langga yang pulang dari melaut, (red=makan meting/dialeg lokal), setempat, dibunuh dan untuk memudahkan dan melumpuhkan mereka, baru dibunuh, bagian tubuh yang menjadi sasaran adalah tumit yang oleh orang  Rote Ti menyebutnya Sosoruk.

 

Dari nama Sosoruk ini kemudian tempat di mana keturunan leluhur Belu Bongga pernah mendiaminya dikenal hingga saat ini dengan nama Ba’i Tota di Dusun Soruk Desa Persiapan Soruk Kecamatan Rote Barat Daya.

 

Akibat dari peristiwa saling membunuh ini mengakibatkan sebagian keturunan Belu Bongga/Belu Langga lalu pergi dan kepergian ini pun dikenang dengan nama “Belu Ba”, artinya “Belu Pergi”.

 

Sedangkan lainnya tidak pergi dan hingga saat ini mereka masih mendiami Dusun Soruk Desa Persiapan Soruk Kecamatan Rote Barat Daya dan mendirikan Suku Sabalae, salah satu suku besar, yakni Sabarai yang di dalamnya terdapat 13 sub suku.

 

Kepergian mereka bukanlah akhir dari pertikaian atau pembunuhan melainkan terus dikejar menggunakan kuda hingga ke ex Nusak Lole Kecamatan Lobalain.

 

Di sana, sebagian terhindar dari pembunuhan karena disembunyikan oleh orang-orang ex Nusak Lole Kecamatan Lobalain yang sedang bekerja sawah ke dalam lumpur bajakan hewan. Sedangkan sebagiannya berhasil  meloloskan diri dan sampailah mereka di Lelenuk Desa Lenupetu Kecamatan Pantai Baru Selatan.

Baca Juga :  Dandim 1604/Kupang Bekerjasama Komunitas Peduli NTT Bagikan Sembako Kepada Warga Kurang Mampu

 

Di tempat ini mereka juga masih dikejar dan sebagian dibunuh. Sementara lainnya meloloskan diri.

 

Ditambahkan Ba’i Tuu tus, bahwa setelah membunuh, kelewang yang digunakan kemudian dicuci dan oleh orang setempat dikenal dengan Lelenuk yang asal muasal dari kata Lelenu Tava.

 

Dari nama Lelenu ini selanjutnya berubah menjadi Lelenuk dan setelah pembentukan nusak, lalu dinamai Nusak Lelenuk hingga hari ini.

 

Bagi yang meloloskan diri akhirnya tiba dan berdiam di tempat yang bernama Lete Diu, (gunung orang Diu). Rombongan itu dipimpin oleh seorang perempuan yang diketahui bernama, Ndii Teon.

 

Kenapa harus perempuan yang memimpin?, karena semua laki laki telah dibunuh dan tersisa hanya perempuan dan anak-anak sebanyak lebih kurang 16 orang.

 

Sementara, sebagian keturunan yang telah mendiami puncak Gunung/Letek Diu, hingga sekarang. Lalu karena mereka tidak pernah menyimpan amarah dan dendam terhadap peristiwa yang dialami maka oleh leluhur orang Rote umumnya selalu bertutur syair, ‘Lete diu dema-dema oo diu hada malole” dan dalam syair lainnya juga disebut, “dolo heni beba diu na sodo falik beba diu ma tuda heni batu kana na fua falik batu kana, ama boso madale dua ma Ama boso ma tei telu. Ama liuk esa ma Ama lelek esa. Fo ama esa rada redo esa ma esa tia kara esa leo ina esa bobonggin ma ama esa raraen.

Berikut silsilah keturunan Belu Bongga/Belum Langga sampai dengan Ndii Teon,

Belu Ba Langa memperanak Nafatama Belu memperanak Koko Nafatama memperanak Lai Lua Koko memperanak Piu Lai Lua memperanak Besi Piu memperanak Moi Besi memperanak
Bolla Moi memperanak Manafe Bola.*

 

Berita Terkait

Di Tengah Duka, Keluarga Besar SMAN 1 Lobalain Hadir Menguatkan Keluarga Berkat Ngulu
Disdik Rote Ndao Sepi Pegawai dan Pengunjung, Ada Apa?
Sinergi Pemkab Sumba Timur dan DPR RI Diperkuat, Usman Husin Dorong Aspirasi Petani Tembus Pemerintah Pusat
Kepala SMAN 1 Lobalain Apresiasi Paulus Henuk: Mai Fali dan Rote Mengajar Hadir Menyalakan Mimpi Generasi Muda
Balik Nama Sertipikat Tak Lagi Menunggu Tanpa Kepastian, ATR/BPN Hadirkan PERINTIS 10 Hari
Pesan Paulus Henuk Menembus Batas Pulau: “Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi” Menggema dari Rote untuk Dunia
Sertipikat Tanah Wakaf Jadi Benteng Kepastian Hukum dan Penjaga Amanah Umat
Tutup Rote Mengajar, Paulus Henuk Titip Pesan: Bangun Rote Ndao Bersama
Tag :
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 20:28 WITA

Kehilangan yang Tak Mudah, Bupati Paulus Henuk Sampaikan Belasungkawa dan Doa Penguatan bagi Charli Lian dan Keluarga

Kamis, 3 September 2026 - 19:01 WITA

Dari Evaluasi Menuju Aksi, Wabup Rote Ndao Dorong Dinas PMD Perkuat Tata Kelola Pemerintahan Desa

Selasa, 1 September 2026 - 05:14 WITA

Bukan Sekadar Pameran, Paulus Henuk Dorong Expo UMKM Jadi Mesin Perputaran Ekonomi dan Ruang Tumbuh Talenta Muda Rote Ndao

Selasa, 1 September 2026 - 04:58 WITA

Bupati Paulus Henuk Pacu Optimalisasi PAD, Tekankan Kolaborasi Lintas OPD untuk Kejar Target Pendapatan Daerah

Minggu, 30 Agustus 2026 - 08:34 WITA

Setengah Ton Beras Jadi Simbol Kepedulian, Jane Natalia Suryanto Kembali Dekat dengan Warga

Minggu, 30 Agustus 2026 - 06:58 WITA

Bikin Pengunjung Terpukau, Tarian Kebalai SMPN 1 Lobalain Jadi Magnet di Expo UMKM 2026

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 03:44 WITA

Bupati Paulus Henuk Buka Ruang Kolaborasi, Klasis Rote Barat Daya Bahas Persiapan Sidang Klasis

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 03:31 WITA

Bupati Paulus Henuk Tegaskan Pemerintah Harus Hadir, Aspirasi Petani Jadi Dasar Kebijakan

Berita Terbaru

Lintas Nusa

Disdik Rote Ndao Sepi Pegawai dan Pengunjung, Ada Apa?

Jumat, 4 Sep 2026 - 09:47 WITA