Leluhur Etnis Rote Tinggal di Bulan?

961

Penulis : Johanes Henuk 

Alumni SMA Negeri 2 Oemilan Rote Barat Laut  Angkatan Ke- II

onlinentt.com-Setiap etnis, suku, kampung dan pulau tentu mempunyai ceritera mitos/rakyat atau legenda.

Hal itu, tidak terlepas dari etnis Rote, khususnya orang Rote Ti.

Menurut sejumlah tetua di Ex Nusak Ti Kecamatan Rote Barat Daya, bahwa
di awal kehidupan leluhur pertama etnis Rote, khususnya orang Ti, mereka masih bergantung hidup pada perburuan binatang liar, (hutan), dan kelautan, perikanan serta hidup dalam lubang-lubang jurang atau goa, yang dalam tuturan dialeg syair setempat dikatakan, “ara bei bambi leak ma ara bei soru luak do ara bei folu buluk ma ara bei raa matak.

Makna syair tersebut menjelaskan, bahwa “mereka, (red=para leluhur), masih berlindung di dalam lubang-lubang jurang dan goa serta masih mengkonsumsi daging mentah berbulu.

Kondisi seperti itu karena para leluhur belum mengenal api sebagai sarana untuk bakar dan rebus, di  mana hubungan persahabatan dengan penguasa langit belum terbangun, yang oleh masyarakat Rote, khususnya orang Ti, mengenalnya dengan nama Telukaman Lai Londa. Sehingga para leluhur belum mengetahui dan mengambil api di petir, kilat dan guntur.

Menurut tuturan klasik yang diperoleh penulis dari salah satu tetua adat Rote Ti, yang juga merupakan opa dari penulis, Es Pandie, (86 tahun) yang telah almarhum, dikatakan ada dua fase persahabatan yang dibangun oleh para leluhur orang Rote, khususnya orang Ti, pertama dengan raja langit dan kedua, raja laut.

Setelah terjalin persahabatan Telukaman Lai Londa, (penguasa langit), dan Hakaman Lepa Dae, (penguasa bumi), barulah para leluhur dapat memperoleh dan mengambil api di petir kilat dan guntur.

Untuk mengambil api pun, di era itu hanya oleh orang-orang pilihan yang direstui atau mendapat mandat karena mempunyai kelebihan khusus.

Terkait siapa orang-orang yang diberi mandat, penutur enggan menyebutkan nama mereka karena dipercaya sangatlah sakral.

Sedangkan hal yang sama dibenarkan pula oleh dua orang tokoh adat Ti, AH, (72 tahun), AS, (60 tahun).

Penulis menggunakan inisial penutur untuk menjaga nara sumber sebelum penerbitan bukunya penulis..

Menurut kedua tokoh ini, sampai dengan sekarang masih ada bukti, bahwa pernah ada hubungan kekerabatan antara penghuni langit dan bumi, misalnya, pertama, masih berdirinya sebuah gundukan tanah beberapa tingkat di Kokolo Dusun Soruk, yang dikenal masyarakat setempat bernama, “Eda Huk/Edak Lain, (red=tangga naik ke langit dan turun ke bumi).

Tuturan itu diperkuat dengan sebuah syair tua yang mengatakan, “Ara bei tuti henur ma ara bei pa”a lilor fo ara raba ma ara kai. Ara reu ma ara mai,”. Artinya, “Mereka masih menyambung muti dan mereka juga masih mengikat emas untuk bisa naik dan turun”.

Kedua, masih ada sebuah batu lebih kurang 80×80 centi meter di Sandale Dusun Soruk Desa Oebafok Kecamatan Rote Barat Daya, oleh masyarakat Dusun Soruk disebut, “Batu Telukaman Lai Londa”

Dahulu, sebelum agama masuk ke Pulau Rote, khususnya daerah Ti, masyarakat setempat, menjelang musim tanam, bila meminta hujan, selalu menyembah berhala, (red=ritual adat), kepada batu tersebut lalu hujan turun. *

Bersambung ke episode  berikutnya…ikuti terus karena hanya ada di onlinentt.com.

Comments
Loading...