Gubernur VBL : Industri di NTT Sulit Berkembang

86

onlinentt.com­-NTT- Gubernur Nusa Tenggara Timur, (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat, (VBL), mengaku salah satu penghambat bagi akselerasi ekonomi NTT, adalah tingginya ICOR, (Incremental Capital Output Ratio), atau rasio output modal tambahan yang masih tinggi.

 

ICOR NTT berada pada kisaran angka ke- 10. Artinya, untuk menghasilkan satu unit output PDRB di NTT, membutuhkan 10 modal tambahan investasi. Hal ini mengakibatkan ekonomi NTT inefisien. ICOR NTT lebih tinggi dari ICOR nasional yang sedang berada  pada kisaran angka 6. Inilah yang menyebabkan industri di NTT sulit berkembang.

 

Demikian perkataan Gubernur NTT, VBL ketika menerima audiensi Ketua Yayasan Alfa Omega, (YAO), Pdt. David Fina bersama rombongan di ruang kerjanya terkait Pengembangan Usaha Jus Tambaring di NTT, Selasa (10/11/2020).

 

Menurut VBL, dalam masa pemerintahannya, menghadapi ICOR yang tinggi dan targetnya mencapai angka 7 melalui strategi kolaborasi dengan pemerintah pusat, pencegahan korupsi pada jenjang pemerintah provinsi, kabupaten, kecamatan dan desa serta standar perizinan yang mudah dan cepat. Bersinergi dengan pihak pengusaha muda yang memiliki kapasitas di bidang Teknologi dan Informasi dalam mendesain supplay chain atau rantai pasok dan Wire House untuk memfasilitasi hasil produksi para petani yang masih dalam jumlah kecil agar terintergrasi dan dalam jumlah yang banyak untuk dipasarkan,” ungkapnya.

 

Dalam audiensi tersebut, Laiskodat merespon langsung kendala yang dihadapi YAO bersama para petani dengan  menghubungi  Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho, Kepala BRI Cabang Kupang Stevanus Juarto, dan Kepala Dinas Koperasi dan Nakertrans Provinsi NTT, Silvi Pekujawang untuk memfasilitasi YAO bersama para petaninya, baik dari aspek penguatan kelembagaan koperasi, aspek permodalan dari KUR dan kredit merdeka serta aspek pemasaran yang dimulai dari seluruh perhotelan di Kota Kupang dan Labuan Bajo serta keluar daerah NTT dengan menggandeng distributor Sophia.

 

Diharapkan Gubernur VBL, Yayasan Alfa Omega terus berinovasi dalam mengembangkan produk-produk yang berasal dari buah asam selanjutnya. Pemerintah daerah berfungsi untuk menghubungkan antar Para Pengusaha, lembaga keuangan di daerah serta sumber-sumber bantuan lainya untuk pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, (UMKM).

 

“Apresiasi Kepada YAO yang telah berinovasi menciptakan Inovasi mengolah Buah asam menjadi  bernilai ekonomis yakni Jus Tambaring. Selanjutnya YAO perlu identifikasi jumlah petani dan bentuk kelompok serta mengakses sumber pendanaan dari Bank BRI dalam bentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Bank NTT dalam bentuk kredit Merdeka, yang tanpa agunan serta  mudah di akses oleh masyarakat”, papar dia.

 

Direktur Yayasan Pelayanan dan Pengembangan Masyarakat Alfa Omega mengatakan, jumlah petani binaan sebanyak 200 orang. YAO juga  bersyukur karena mendapat solusi tepat dan cepat dari Gubernur dalam bentuk permodalan dan distribusi pasar.

 

“Terima kasih Bapak Gubernur yang telah merespon dengan cepat atas kendala yang kami alami. Saat ini harga asam tanpa biji adalah  4.000 rupiah per kilogram dan dijual keluar dengan harga 26.000 rupiah per kilogram. Jus Tambaring ini sistemnya kami ubah sesuai arahan bapak Gubernur yakni para petani mengakses Kredit Permodalan di Lembaga Keuangan dan YAO masuk dalam akses Perdagangan,” pungkas David.

 

Pasca kegiatan tersebut, Gubernur VBL mengarahkan Pihak YAO langsung bertemu Kepala  Dinas Koperasi, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTT Silvia Pekudjawang dan Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho serta Pimpinan BRI Cabang Kupang Stefanus Juarto  untuk mengakses informasi serta peluang pengembangan usaha dimaksud.

 

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT Nasir Abdullah, Pimpinan BRI NTT Cabang Kupang Stefanus Juarto. *Siaran Pers Biro Humas dan Protokol Setda NTT

Comments
Loading...