Episode Terakhir, Leluhur Etnis Rote Tinggal di Bulan

538

onlinentt.com-Rote Ndao, Sementara Bei Seuk yang berjalan mengikuti pasangnya air laut tidak juga berhenti menangkap ikan.

Hal itu mengakibatkan seluruh badan Bei Seuk, “mengelupas,”.

Mengetahui kondisinya demikian, kemudian Bei Seuk pun langsung bergegas pulang dengan
penuh amarah.

Tiba di rumah Bei Seuk tanpa kompromi langsung mengambil sutel/irus
atau sosodek, (red=sebutan dalam dialeg Rote Ti, dan memukul kepala salah satu cucunya. Pukulan tersebut mengakibatkan cucunya berubah wujud menjadi kera/kode.Sedangkan satunya mendapat pukulan pada pantat sehingga berubah menjadi burung tekukur.

Sampai saat ini oleh para orang tua di kalangan etnis Rote mempercayai bila jenis burung ini merindukan nenek Bei Seuk, maka selalu  memanggil-manggil nama Bei Seuk, dengan suara  yang terdengar Jelas, bahwa, “Seuk kou-kou”.Lebih dari itu, sampai dengan saat ini, kalangan etnis Rote juga masih mempercayai kalau memukul anak tidak boleh menggunakan sosodek.

Setelah memukul kedua cucunya, lalu Bei Seuk memungut alat pintal benangnya dan mengajak seekor anjing kesayangannya dan menaiki tangga ke langit.

Tiba di langit, Bei Seuk lalu menarik tangga/eda huk/edak lain sehingga tidak ada lagi perkunjungan ke bumi dan langit.

Saat itu,konon jarak langit dan bumi masih satu jingkal dan baru menjauh dari bumi, setelah para leluhur yang setiap waktu menumbuk padi sehingga alu/aluk mengena langit dan atau ulah manusia raksasa yang disebut tou lembis atau lera mengganjar langit.

Sehingga putuslah sudah hubungan penghuni langit dan bumi.

Terkait benar atau tidak ceritera mitos atau bisa dikatakan dongeng ini, tetapi pengakuan Neil Armstrong, salah seorang Astronot Amerika Serikat, yang pernah sampai di bulan Tahun 1968, bahwa saat, Apollo 11 mendarat di bulan, mereka melihat makluk-makluk aneh menatap mereka dari bebatuan cadas, kemudian lari menjauh dan menghilang.

Hal yang sama juga dibenarkan oleh pemberitaan sebuah media online nasional SINDO news.com, tertanggal, 14 Agustus 2014, pada rubrik internasional, dengan judul, Heboh, Makhluk Aneh Muncul di Bulan, bertempat di Washington.

Dalam pemberitaan media itu dikatakan makhluk aneh tersebut diyakini adalah alien yang muncul di permukaan bulan.

Penampakan itu terekam sebuah kamera dari Google Moon yang dilihat oleh seorang pengguna internet.

Penampakan makhluk aneh di bulan itu akan menjadi daya tarik baru untuk memunculkan teori konspirasi terkait misteri kehidupan di bulan.

Rekaman penampakan makhluk aneh di bulan tersebut telah diunggah ke YouTube.

Dalam video Wowforreel, disebutkan sesosok alien berjalan di permukaan bulan. Video itu telah dilihat lebih dari dua juta kali dalam waktu kurang dari sebulan terakhir.

Penampakan makhluk aneh itu juga bisa dilihat pada Google Moon pada koordinat 27 ° 34’26.35 “N 19 ° 36’4.75” W. (Lihat video penampakan makhluk aneh di bulan di sini)

Pihak Wowforreel juga menjelaskan, bahwa mereka mulai menyelidiki penampakan makhluk aneh itu, setelah menerima rekaman dari seorang pengguna internet bernama Jasenko.

”Sebuah tempat gelap berbentuk tidak teratur terlihat di Google Moon. Itu bisa jadi bayangan dari objek besar,” kata pihak Wowforreeel kepada UFO Sighting Daily.

”Pada awalnya kami pikir mungkin ada sesuatu yang menarik dalam gambar, tapi setelah melihat ke Google Moon, apa pun itu ternyata ada sesuatu di sana,” lanjut pernyataan Wowforreeel.

Gambar aneh di bulan itu tertangkap dari peralatan yang didukung Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Namun, pihak NASA seperti dikutip Daily Mail, semalam (13/08/2014) belum berkomentar atas penampakan makhluk aneh tersebut. *TAMAT

Tulisan ini hanya sebuah mitos atau dongeng dari generasi ke generasi dalam kalangan etnis Rote, khususnya orang Ti, yang dituliskan kembali berupa narasi untuk mempertahankan budaya tutur atau budaya ceritera.

Tulisan ini juga tidak ada kaitan dengan kepercayaan apapun atau sengaja dituliskan untuk  mempengaruhi anutan siapapun dalam bentuk apapun pula.

Ini murni adalah ceritera rakyat etnis Rote khususnya orang Ti, yang baru “hilang” sekitar Tahun 1990-an.

Di era Tahun 1970-an hingga 1980-an masih sering diceriterkan/diperdengarkan kepada anak-anak menjelang tidur di tempat tidur. Atau di perkampungan menjelang terang bulan, tikar jemur padi/betek/jagung, selalu di bentangkan bagi anak-anak, lalu orang tua, menceriterakannya.

Hal ini tidak hanya berlaku sekali melainkan berulang-ulang kali dan sampai larut malam.

Penulis pernah mengalami hal ini maka bila pembaca setia media syber onlinentt.com mengatakan ini dongeng atau mitos, semua dikembalikan kepada pembaca dalam memahaminya dan sejauh ini pula tidak ada kepentingan apapun terkait penulisan ini.

Lalu terkait beberapa tulisan, baik yang terpublish atau sementara bersambung, penulis selalu menggunakan kata versi orang Ti atau khususnya orang Ti ?, karena seluruh obyek materi tulisan berupa tuturan diperoleh dari ex nusak Ti Kecamatan Rote Barat Daya.

Dalam hal ini, penulis tidak berani mengklaim atas nama Rote, sebab tidak semua daerah memiliki tuturan yang sama.

Namun bila ada kesamaan dengan daerah lain maka dengan segala hormat mari kita berlomba mempertahankan budaya tutur atau ceritera melalui narasi tulisan agar tetap terjaga. Salam santun. Terima kasih.

Comments
Loading...