Episode Ke-II, Leluhur Etnis Rote Tinggal di Bulan?

292

onlinentt.com- Pada fase pertama, persahabatan para leluhur dengan penghuni langit, terdapat sebuah Eda Huk/Edak Lain, berguna sebagai tumpuan/ tangga bagi penghuni langit dan bumi untuk saling mengunjungi.

Tali persahabatan itu setelah terbina dan terjalin sekian abad, lalu ke dua penguasa ini mengangkat sumpah.

Sumpah serapah tersebut berbunyi, bahwa sepanjang keturunan mereka dilarang saling mencuri/mengambil kepunyaan masing-masing, baik di langit dan bumi.Bagi siapa yang melakukannya akan tersambar petir, kilat, guntur, serta rumah, kebun, ladang, tanaman, perahunya, akan tersapu oleh badai, angin puting beliung dan banjir bandang.Hingga sekarang, kepercayaan tersebut masih berlaku di beberapa tempat di Pulau Rote, khususnya Ti dan Dengka, di mana bila ada barang berharga dan atau hewan peliharaan mereka yang hilang, cenderung mereka lebih memilih melakukan ritual kepada petir, kilat dan atau guntur, untuk mencari siapa yang mencuri atau mengambilnya. Sehingga tidak heran, bila ada yang mencuri atau mengambil maka akan terkena sambar petir atau kilat.

1 Langit Menjauh dari Bumi

Generasi lepas generasi, kemudian suatu ketika, datang pada kehidupan salah seorang leluhur etnis Rote, khususnya Rote Ti, yang diketahui bernama, Bei Se’uk/Se’u Randa/Bula Se’uk/Bula Randa.

Bei sebutan dalam dialeg etnis Rote, khususnya Ti, untuk seseorang wanita, lebih tua dari seorang ibu/mama, yang berarti nenek/oyang. Sedangkan, kata Seuk, dalam dialeg Rote secara umum atau Rote Ti, artinya, memintal/menyulam/menjahit. Sehingga bila digabungkan kedua kata tersebut akan bermakna, “nenek pemintal/penyulam/penjahit”.

Dituturkan Bei Se’uk/Se’u Randa/Bula Se’uk/Bula Randa, hidup bersama dua orang cucunya di bumi tetapi sering melakukan perkunjungan juga ke langit.

Bersambung ke episode berikutnya hanya ada di onlinentt.com.

Semua Materi tulisan penulis telah dilindungi Undang-Undang Hal Cipta.

Comments
Loading...