Leluhur Orang Rote Ti Tinggal di Bulan?

- Redaksi

Kamis, 14 Agustus 2025 - 20:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Johanes Henuk Editor : redaksi
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Istimewah 

Penggalan syair tersebut apakah sinkron dengan apa yang dimaksud Eda Huk, (red=tangga naik ke langit).

 

Tentu ini bila dipikir secara logika sangat tidak masuk akal tapi bagaimana pula pemahaman pembaca terhadap manusia setengah dewa atau dewa ?.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

 Selain itu, alkhisah yang berkembang dalam masyarakat Rote Ti hingga kini, bahwa keberadaan situs Edak Huk memiliki kisah unik dan berbau mistis serta pada tahapan ceritera tertentu dianggap sakral dan pantang untuk disebutkan.

 

Berikut ceritera legendanya, bahwa dahulu kala. Dalam ceritera ini tidak disebutkan secara pasti tahunnya. Hidup seorang nenek separoh baya, dikenal bernama Bei Se’uk bersama kedua orang cucu di atas Puncak Gunung Kokolo. Karena sering makan nasi tanpa lauk.

 

Pada suatu hari, nenek ini berkeinginan untuk pergi melaut guna mencari ikan, kepiting, gurita, kerang, keong, taripang dan sayuran disaat laut  surut.

 

Sebelum pergi, sang nenek berpesan agar kedua cucunya bila menanak nasi, maka ambil sepertiga dari satu biji beras.

 

Waktu itu  konon tumbuhan dan pepohonan masih berdaun, berbuah dan berbiji satu. Sehingga satu biji beras dapat ditanak seperdua, sepertiga, atau seperempat untuk menghasilkan nasi sesuai jumlah yang diinginkan. Setelah itu, Be’i Se’uk pun bergegas pergi.

 

Kepergiannya, merupakan kebebasan bagi kedua cucu leluasa bermain congkak, (red=sejenis permainan anak-anak tempo dulu menggunakan batu kerikil yang dimasukan dalam 12 lubang kecil di atas permukaan tanah).

 

Asyik dan seruh dengan permainan congkak tak terasa waktu hampir menjelang sore pertanda sebentar lagi nenek mereka akan kembali dari melaut.

 

Maka dengan tergesa-gesa bercampur aduk ketakutan, mereka baru mulai menanak nasi tanpa mengingat pesan Bei Se’uk. Hal itu mengakibatkan nasi yang ditanak mengembang melebihi ukuran wadah. (red=Dahulu tempat yang dipakai menanak nasi terbuat dari tanah) membuat air nasi meluap bagai banjir menuju ke laut.

 

Luapan tersebut ternyata membuat air laut menjadi panas sehingga mengakibatkan kulit badan Bei Se’uk terkelupas dan luka. Hal ini membuat Bei Seuk bergegas pulang dengan penuh amarah.

 

Setiba di rumah, Bei Seuk tanpa basa basi menghajar kedua cucunya itu dengan menggunakan sutel/irus atau sosodek, (red=sebutan dalam dialeg Rote Ti, dan langsung memukul kepala salah satu cucunya.

Gambar Istimewah 

Pukulan tersebut mengakibatkan cucunya itu berubah wujud menjadi kera/kode/monyet Gambar istimewah Sedangkan satunya mendapat pukulan pada bagian pantat sehingga berubah menjadi burung tekukur.

Hingga saat ini oleh para orang tua di kalangan Suku Rote Ti mempercayai  jenis burung ini bila merindukan nenek Bei Seuk selalu memanggil nama Bei Seuk, dengan suara  yang terdengar jelas, “Seuk kou-kou kou”.

Baca Juga :  Bupati Rote Ndao dan Kapolres Silahturahmi ke Kemah Pemuda Rote Ke-4

 

Lebih dari itu, sampai dengan saat ini, kalangan Suku Rote Ti juga masih mempercayai, (red=tidak boleh), memukul anak menggunakan sosodek.

Berawal dari pemukulan terhadap kedua cucunya, lalu Bei Seuk pun pergi meninggalkan mereka dengan memungut alat pintal benang, mengajak seekor anjing kesayangannya dan menaiki tangga, (=edahuk) ke langit.

Gambar Istimewah

Tiba di langit, Bei Seuk lalu menarik tangga/eda huk maka tidak ada lagi perkunjungan ke bumi dan langit.

 

Saat itu, menurut tuturan sejumlah tetua di ex Nusak Rote Ti, langit dan bumi saat itu masih berjarak sejingkal dan baru menjauh dari bumi, pasca peristiwa ini.

Suku Rote Ti pun selalu mengagung-agungkan Bulan dan Matahari dalam syair tertentu, misalnya mereka menyebut,” Bulak Mana Ketu Parani ma Mane Sain mana suri Sui, artinya, ” Bulan pemberi kekuatan dan matahari pembagi harta  kekayaan,”.

 

Untuk mengenang kedua benda langit tersebut sebagai simbolnya dalam mendirikan rumah adat atau tinggal, selalu ada dua tiang nok, (red=penyangga). Kedua tiang ini juga dipercaya sebagai simbol nenek moyang mereka.

 

Lebih dari itu, sebelum masuknya agama Kristen ke Pulau Rote, kepercayaan semacam itu dianggap sangat sakral dan mistis. Dan dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan selain kekuatan kekebalan dan kekayaan juga lainnya sesuai kebutuhan.

 

Biasanya pada salah satu tiang nok diikatkan kain merah dan menggantung sebuah botol yang berisi moke atau sopi.

Menyambung hal ini dalam tuturan silsilah Suku Rote Ti diuraikan pula bahwa ada salah seorang leluhur perempuan bernama Lusi Oka pergi dan menetap di kayangan/langit ke-9, dan melakukan perkawinan dengan Ndela Olanda, lalu memperanak Silu Ndela, (red=Pusara Petir).

 

Sementara, sekedar diketahui, penulis yang kesempatan dalam penelitian di atas Gunung Kokolo, situs Eda Huk berbentuk seperti punden berundak diameternya bila dilihat secara kasat mata dari bagian bawa maka lebih kurang ukurannya sebesar sebuah rumah besar.

 

Di sekitarnya tidak ditemui tumbuh-tumbuhan semak belukar atau pepohonan. Tapi pada bagian depan sebelah kiri terlihat sebuah kuburan kuno yang tidak diketahui siapa yang dikubur dan sub suku mana sebagai pemilik kuburan tersebut.

 

Terkait benar atau tidak ceritera ini, tetapi pengakuan Neil Armstrong, salah seorang Astronot Amerika Serikat, yang pernah sampai di bulan Tahun 1968, bahwa saat, Apollo 11 mendarat di bulan, dia melihat makluk-makluk aneh menatap mereka dari bebatuan cadas, kemudian lari menjauh dan menghilang.

Hal itu juga dibenarkan oleh pemberitaan sebuah media online nasional SINDO news.com, tertanggal, 14 Agustus 2014, pada rubrik internasional, dengan judul, Heboh, Makhluk Aneh Muncul di Bulan, bertempat di Washington, dikatakan bahwa makhluk aneh tersebut diyakini adalah alien yang muncul di permukaan bulan.

Baca Juga :  Balik Nama Sertipikat Tak Lagi Menunggu Tanpa Kepastian, ATR/BPN Hadirkan PERINTIS 10 Hari

 

Begitu pun, dalam kutipan salah satu media online ternama di Indonesia, suara.com, mengungkapkan, bahwa bulan saat ini tandus dan sepi, tetapi jutaan tahun silam satelit bumi diduga pernah ada kehidupan, demikian dikatakan para ilmuwan dari Washington State University, Amerika Serikat.

 

Dalam studi yang diterbitkan jurnal Astrobiology baru-baru ini, merilis pakar astrobiologi Dirk Schulze-Makuch, menduga kehidupan pernah berkembang di Bulan dalam dua periode berbeda.

 

Sedangkan menurut Schulze-Makuch, kondisi permukaan bulan sangat cocok mendukung perkembangan mahluk-mahluk hidup sederhana sekitar 4 miliar tahun lalu – ketika bulan baru saja terbentuk dan pada 3,5 juga tahun lalu, saat aktivitas vulkanis di bulan sedang tinggi-tingginya.

 

Pada dua periode itu, Bulan memuntahkan banyak gas bersuhu tinggi, termasuk uap air, ke permukaannya. Gas dalam jumlah besar ini, terang Schulze-Makuch, diduga telah membentuk danau-danau dan atmosfer di Bulan selama jutaan tahun.

 

“Jika air dan atmosfer ada pada periode awal Bulan dan bertahan dalam waktu cukup lama, maka menurut kami permukaan Bulan pernah memiliki kehidupan, meski tidak permanen,” jelas Schulze-Makuch.

 

Untuk mencapai kesimpulan itu, Schulze-Makuch menganalisis sejumlah penelitian terhadap contoh batuan dan tanah yang diambil dari Bulan. Sampel-sampel itu menunjukkan bahwa Bulan tak sekering atau segersang yang diduga sebelumnya.

 

Pada 2009 dan 2010, tim peneliti internasional menemukan ratusan juta ton air dalam bentuk es di permukaan Bulan.

 

Selain itu juga ditemukan bukti kuat adanya air dalam jumlah besar di mantel Bulan. Kandungan air itu diduga merupakan sisa-sisa dari awal terbentuknya Bulan.

 

Bulan juga tadinya diyakini diselimuti medan magnet, mirip seperti Bumi. Medan magnet melindungi mahluk hidup dari angin Matahari yang mematikan. Schulze-Makuch menduga kehidupan di Bulan dibawa oleh meteor.

 

Di Bumi sendiri ada dikenal cyanobacteria, yang fosilnya berusia 3,5 sampai 3,8 miliar tahun. Bakteri ini diduga dibawa oleh meteor, yang menghempas Bumi dan melemparkan serpihan-serpihan kecil ke Bulan.

Schulze-Makuch menambahkan, meski demikian untuk membuktikan dugaannya itu perlu digelar “ekspolrasi agregsif” di Bulan.

 

Begitu juga dengan media CNN Indonesia.com dalam publishkasinya Rabu, 25 Jul 2018 08:10 WIB, dengan judul berita, “Peneliti Ungkap Tanda Kehidupan di Bulan Milliaran Tahun Lalu,” Jakarta, CNN Indonesia -Studi terbaru yang diungkap oleh peneliti dari Washington State University dan University of London bahwa bulan sempat menjadi tempat hunian bagi makhluk hidup jutaan tahun lalu.

 

Meski saat ini permukaannya kering dengan temperatur fluktuatif, namun bulan diduga pernah menjadi tempat yang layak huni pada dua periode yakni ketika baru terbentuk dan saat mencapai puncak aktivitas vulkanik.

 

Dugaan mengenai adanya kehidupan di bulan diungkap setelah adanya temuan sumber panas dan energi dalam jumlah besar. Bulan terbentuk dari puing-puing setelah Bumi bertabrakan dengan protoplanet bernama Theian.

Baca Juga :  KPU Distribusi Logistik Pemilu Kada Ke 273 TPS di Rote Ndao

 

Setelah tabrakan itu, terdapasat uap air dalam jumlah sangat banyak yang seharusnya cukup untuk membuat bulan memiliki atmosfer dan air di permukaannya.

 

Aktivitas vulkanik yang tinggi juga menyebabkan atmosfer bulan disokong oleh uap air berasal dari bagian dalam perut bulan.

 

Peristiwa ini diduga terjadi sekitar empat miliar tahun lalu, sehingga menjadikan bulan sebagai tempat berkembang biaknya mikroba. Namun, setelah jutaan tahun atmosfer dan kandungan airnya mengering menjadikannya sebagai tempat kering dan tak layak huni lagi.

 

Kemudian, sekitar 500 juta tahun setelahnya, aktivitas vulkanik di bulan memuncak yang menyebabkan keluarnya miliaran ton gas yang sanggup membentuk lapisan atmosfer baru dan kembali menghadirkan air di permukaannya.

 

Periode ini diperkirakan bertahan selama beberapa juta tahun. “Sangat memungkinkan bahwa pada periode ini bulan layak dihuni,” kata Dirk Schulze-Makuch dari Washington State University seperti dikutip dari New Atlas.

 

“Bisa saja ada mikroba yang berkembang digenangan-genangan air di bulan sampai permukaannya kering dan mati.”

 

Hingga saat ini, dugaan adanya kehidupan di bulan masih sebatas teori. Namun peneliti mengatakan bahwa misi ke bulan di masa depan dapat mencari sampel yang bisa membuktikan bahwa pernah ada air dan kehidupan di sana. (evn/evn).

 

Tulisan ini tidak ada kaitan dengan kepercayaan apapun atau sengaja dituliskan untuk  mempengaruhi anutan siapapun dalam bentuk apapun pula, ini murni adalah ceritera Suku Rote Ti, yang baru “hilang” sekitar Tahun 1990-an.

 

Di era Tahun 1970 hingga 1990 masih sering diceriterkan atau diperdengarkan kepada anak-anak menjelang tidur pada  bulan purnama.

 

Kebiasaannya adalah dengan membentangkan tikar daun lontar atau daun pandan, (red=biasa dipakai untuk jemuran padi/betek/jagung), kemudian anak-anak duduk atau tidur sambil mendengarkan ceritera dari para orang tua.

 

Hal ini tidak hanya berlaku sekali melainkan berulang-ulang kali dan sampai larut malam, bahkan sampai anak-anak tertidur pulas.

 

Penulis pernah mengalami hal ini maka bila pembaca setia mengatakan ini ceritera dongeng, legenda atau mitos, tergantung sudut pandang dari pemahaman pembaca dalam mencerna tulisan ini sebab tidak ada kepentingan apapun dalam penulisan ini.

 

Lalu terkait, penulis yang lebih menggunakan kata versi Rote Ti atau khususnya orang Tii karena seluruh  refrensi tulisan ini berasal tuturan para tetua ex nusak Ti  di Kecamatan Rote Barat Daya.

 

Dalam hal ini, penulis tidak berani mengklaim atas nama Rote, sebab tidak semua ex nusak di Pulau Rote memiliki legenda tentang bulan. *

 

Berita Terkait

Di Tengah Duka, Keluarga Besar SMAN 1 Lobalain Hadir Menguatkan Keluarga Berkat Ngulu
Disdik Rote Ndao Sepi Pegawai dan Pengunjung, Ada Apa?
Sinergi Pemkab Sumba Timur dan DPR RI Diperkuat, Usman Husin Dorong Aspirasi Petani Tembus Pemerintah Pusat
Kepala SMAN 1 Lobalain Apresiasi Paulus Henuk: Mai Fali dan Rote Mengajar Hadir Menyalakan Mimpi Generasi Muda
Balik Nama Sertipikat Tak Lagi Menunggu Tanpa Kepastian, ATR/BPN Hadirkan PERINTIS 10 Hari
Pesan Paulus Henuk Menembus Batas Pulau: “Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi” Menggema dari Rote untuk Dunia
Sertipikat Tanah Wakaf Jadi Benteng Kepastian Hukum dan Penjaga Amanah Umat
Tutup Rote Mengajar, Paulus Henuk Titip Pesan: Bangun Rote Ndao Bersama

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 20:28 WITA

Kehilangan yang Tak Mudah, Bupati Paulus Henuk Sampaikan Belasungkawa dan Doa Penguatan bagi Charli Lian dan Keluarga

Kamis, 3 September 2026 - 19:01 WITA

Dari Evaluasi Menuju Aksi, Wabup Rote Ndao Dorong Dinas PMD Perkuat Tata Kelola Pemerintahan Desa

Selasa, 1 September 2026 - 05:14 WITA

Bukan Sekadar Pameran, Paulus Henuk Dorong Expo UMKM Jadi Mesin Perputaran Ekonomi dan Ruang Tumbuh Talenta Muda Rote Ndao

Selasa, 1 September 2026 - 04:58 WITA

Bupati Paulus Henuk Pacu Optimalisasi PAD, Tekankan Kolaborasi Lintas OPD untuk Kejar Target Pendapatan Daerah

Minggu, 30 Agustus 2026 - 08:34 WITA

Setengah Ton Beras Jadi Simbol Kepedulian, Jane Natalia Suryanto Kembali Dekat dengan Warga

Minggu, 30 Agustus 2026 - 06:58 WITA

Bikin Pengunjung Terpukau, Tarian Kebalai SMPN 1 Lobalain Jadi Magnet di Expo UMKM 2026

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 03:44 WITA

Bupati Paulus Henuk Buka Ruang Kolaborasi, Klasis Rote Barat Daya Bahas Persiapan Sidang Klasis

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 03:31 WITA

Bupati Paulus Henuk Tegaskan Pemerintah Harus Hadir, Aspirasi Petani Jadi Dasar Kebijakan

Berita Terbaru

Lintas Nusa

Disdik Rote Ndao Sepi Pegawai dan Pengunjung, Ada Apa?

Jumat, 4 Sep 2026 - 09:47 WITA