onlinentt.com-Jakarta – Dari sebuah pulau di ujung selatan Indonesia, nama Rote Ndao kini memperoleh panggung di mata dunia. NIHI Rote, resor yang berdiri di Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), masuk dalam daftar 20 Best New Hotels in the World atau 20 hotel baru terbaik di dunia versi majalah National Geographic.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengakuan internasional yang dipublikasikan pada 2 September 2026 itu menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat Rote Ndao. Sebab, di balik nama sebuah resor mewah yang berada di kawasan pesisir, tersimpan peluang untuk memperkenalkan kekayaan alam dan potensi pariwisata daerah kepada masyarakat internasional.
Dalam daftar Best of the World 2026, NIHI Rote menempati urutan ke-10 dari 20 properti yang direkomendasikan National Geographic. Pencapaian ini menempatkan Pulau Rote dalam percakapan pariwisata dunia, berdampingan dengan sejumlah destinasi dan hotel di berbagai negara.
Bagi Rote Ndao, perhatian tersebut bukan hanya tentang sebuah resor yang memperoleh pengakuan, melainkan juga kesempatan untuk membawa nama daerah semakin jauh melampaui batas geografisnya.
Pulau yang selama ini dikenal dengan bentangan pantai, karakter ombak, hamparan alam, serta kehidupan masyarakat yang khas itu memiliki modal pariwisata yang dapat terus dikembangkan. Masuknya NIHI Rote dalam daftar bergengsi tersebut menjadi salah satu pintu untuk memperluas perhatian wisatawan terhadap keunikan Pulau Rote.
National Geographic menyoroti sejumlah daya tarik NIHI Rote, mulai dari lanskap alam, vila berukuran luas, fasilitas spa, hingga Rote Hospitality Academy yang memberikan pelatihan perhotelan bagi generasi muda setempat.
Keberadaan unsur-unsur tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman wisata yang ditawarkan tidak hanya bertumpu pada fasilitas penginapan, tetapi juga pada karakter lingkungan dan upaya menyiapkan sumber daya manusia lokal.
NIHI Rote merupakan pengembangan resor mewah yang meneruskan kiprah NIHI Sumba, yang lebih dahulu beroperasi sejak 2015 di Pulau Sumba, NTT. Meski berada dalam satu provinsi, kedua pulau ini memiliki karakter alam berbeda yang memberikan pengalaman perjalanan tersendiri.
Sumba dikenal dengan bentang perbukitan dan lanskap alamnya yang luas, sedangkan Rote menawarkan hamparan daratan relatif datar, persawahan, pesisir, serta suasana pulau yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar.
Di kawasan resor, penataan lingkungan dengan tanaman oleander, bougainvillea, dan palem turut memperkuat suasana tropis. Keterpencilan Pulau Rote, yang bagi sebagian orang mungkin menjadi tantangan perjalanan, justru menjadi daya tarik bagi wisatawan yang mencari ketenangan dan pengalaman dekat dengan alam.
NIHI Rote memiliki 21 vila berukuran luas, fasilitas spa, dan Nammo Beach Club. Berbagai fasilitas itu dirancang untuk menghadirkan pengalaman menginap yang memadukan kenyamanan, relaksasi, dan suasana alam pesisir.
Namun, salah satu aspek yang patut mendapat perhatian lebih luas adalah keberadaan Rote Hospitality Academy, lembaga pelatihan perhotelan yang didirikan pada 2023 untuk memberikan kesempatan belajar kepada generasi muda Rote.
Akademi tersebut berada di pusat kawasan resor dan menjadi bagian dari upaya menyiapkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan di bidang hospitality. National Geographic juga menyoroti bahwa lulusan akademi itu telah bekerja di NIHI Rote.
Informasi tersebut memberikan gambaran bahwa pengembangan pariwisata juga dapat membuka ruang bagi peningkatan kapasitas masyarakat lokal. Anak-anak muda tidak hanya menjadi penonton ketika destinasi wisata berkembang, tetapi memiliki kesempatan untuk mempelajari keterampilan dan mengambil bagian dalam industri yang tumbuh di daerahnya sendiri.
Meski demikian, peluang tersebut perlu terus diperluas agar manfaat pariwisata dapat menjangkau masyarakat secara lebih merata, termasuk pelaku usaha kecil, penyedia jasa lokal, perajin, petani, nelayan, serta komunitas yang menjaga kekayaan budaya Rote Ndao.
National Geographic turut menyinggung rencana koneksi helikopter antara NIHI Rote dan NIHI Sumba dengan perkiraan waktu perjalanan sekitar satu jam. Apabila terealisasi, koneksi tersebut berpotensi memberikan pilihan perjalanan tambahan bagi wisatawan yang ingin menikmati pengalaman berbeda di dua pulau dalam satu rangkaian kunjungan.
Rencana itu sekaligus mengingatkan bahwa aksesibilitas merupakan bagian penting dalam pengembangan pariwisata. Destinasi dengan daya tarik kuat membutuhkan dukungan transportasi, infrastruktur, informasi perjalanan, dan pelayanan yang memadai agar semakin mudah dijangkau wisatawan.
Bagi Pemerintah Kabupaten Rote Ndao dan para pemangku kepentingan pariwisata, perhatian internasional terhadap NIHI Rote dapat menjadi momentum untuk memperkuat promosi daerah secara lebih menyeluruh.
Sebab, daya tarik Rote Ndao tidak berhenti pada satu kawasan resor. Pulau ini memiliki potensi pantai, ombak, budaya, tradisi, serta kehidupan masyarakat yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata yang autentik.
Tantangannya adalah bagaimana perhatian dunia terhadap NIHI Rote dapat ikut memperkenalkan destinasi lain, membuka peluang usaha bagi masyarakat, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan maupun identitas budaya setempat.
Promosi yang terarah, peningkatan kualitas infrastruktur, kemudahan akses perjalanan, penguatan kapasitas masyarakat, serta kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas lokal menjadi unsur penting agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Masuknya NIHI Rote dalam daftar 20 hotel baru terbaik dunia versi National Geographic merupakan kabar yang membanggakan bagi Rote Ndao. Namun, nilai terbesarnya akan semakin terasa apabila pengakuan itu berlanjut menjadi kesempatan nyata bagi masyarakat untuk berkembang bersama sektor pariwisata.
Dari Pulau Rote, perhatian dunia kini tertuju pada sebuah destinasi di Nusa Tenggara Timur. Momentum ini membuka peluang bagi Rote Ndao untuk semakin dikenal, bukan hanya sebagai tempat untuk dikunjungi, tetapi juga sebagai daerah dengan kekayaan alam, budaya, dan potensi manusia yang layak diperhitungkan di panggung pariwisata internasional.*


















