onlinentt.com – ALOR – Kalender politik Kabupaten Alor memang masih menyisakan waktu sekitar tiga tahun sebelum pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) kembali digelar. Namun, denyut politik di Negeri Sejuta Kenari perlahan mulai terasa.
Di berbagai pelosok desa, dari pesisir hingga pegunungan, masyarakat mulai berbicara tentang sosok-sosok yang dinilai layak memimpin Alor pada masa depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Percakapan itu berlangsung sederhana.
Tidak di ruang-ruang mewah, melainkan di bale-bale kampung, beranda rumah, warung kopi, hingga usai kegiatan keagamaan dan adat.
Dari obrolan-obrolan itulah lahir berbagai pandangan mengenai figur yang dinilai memiliki kemampuan, pengalaman, dan ketulusan untuk membawa Alor menjadi daerah yang semakin maju.
Di antara sejumlah nama yang mulai disebut, Octovianus Ore, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Octo Ore, menjadi salah satu figur yang mendapat perhatian cukup besar dari masyarakat.
Putra asal Alor Timur itu bukanlah nama baru. Kiprahnya selama ini dalam dunia pendidikan telah menjadikannya dikenal luas sebagai sosok yang memiliki kepedulian terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Baginya, membangun daerah harus dimulai dari membangun manusia yang berkarakter, berintegritas, dan berdaya saing.
Tidak hanya dikenal sebagai tokoh pendidikan, Octovianus Ore juga disebut memiliki peran besar dalam memperluas akses pendidikan di Kabupaten Alor.
Dalam perjalanan pengabdiannya, ia berkontribusi membuka dan mendorong berdirinya sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di berbagai wilayah.
Kehadiran sekolah-sekolah tersebut memberikan kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak Alor untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan kampung halamannya.
Pengabdiannya juga melampaui dunia pendidikan. Dalam kehidupan sosial dan keagamaan, Octo Ore dikenal sebagai sosok yang aktif membantu pembangunan rumah-rumah ibadah sebagai bentuk nyata komitmennya menjaga persatuan dan kerukunan umat beragama.
Kontribusinya disebut hadir dalam proses pendirian maupun pengembangan sejumlah gereja dari berbagai denominasi, baik Kharismatik, Protestan, maupun Katolik. Bahkan, kepeduliannya juga dirasakan oleh umat Islam melalui dukungan terhadap pembangunan beberapa masjid di Kabupaten Alor.
Sikap yang merangkul seluruh golongan tanpa membedakan latar belakang agama tersebut menjadi salah satu alasan mengapa dirinya mendapat penghormatan dari berbagai kalangan masyarakat.
Selain aktif di bidang pendidikan, Octo Ore juga dikenal memiliki dedikasi dalam pelayanan spiritual. Kedekatannya dengan berbagai lapisan masyarakat membuat dirinya dipandang sebagai pribadi yang rendah hati, mudah bergaul, dan mampu menjalin komunikasi dengan siapa saja tanpa membedakan latar belakang.
Banyak warga menilai bahwa rekam jejak pengabdian seperti inilah yang dibutuhkan Alor saat ini. Mereka menginginkan pemimpin yang tidak sekadar hadir menjelang pemilihan, tetapi sosok yang telah lama bekerja, melayani, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Fenomena menguatnya nama Octovianus Ore juga menunjukkan adanya perubahan cara pandang masyarakat dalam melihat calon pemimpin.
Jika dahulu popularitas sering menjadi ukuran utama, kini publik mulai menempatkan integritas, pengalaman, dan rekam jejak pengabdian sebagai pertimbangan penting.
Meski belum ada deklarasi ataupun langkah politik resmi, nama Octo Ore terus bergulir dalam berbagai diskusi masyarakat. Hal ini menjadi sinyal bahwa masyarakat Alor mulai memetakan figur-figur potensial jauh sebelum tahapan Pilkada dimulai.
Sejumlah tokoh masyarakat menilai, waktu yang masih cukup panjang menjadi kesempatan bagi setiap figur untuk terus menunjukkan karya dan pengabdiannya. Masyarakat pun memiliki ruang yang luas untuk menilai siapa yang benar-benar layak dipercaya memimpin Kabupaten Alor lima tahun ke depan.
Di tengah dinamika tersebut, nama Octovianus Ore terus bergema dari bale-bale ke bale-bale. Bukan karena kampanye, melainkan karena rekam jejak yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Kiprahnya dalam membangun pendidikan, mendukung kehidupan keagamaan lintas agama, serta kedekatannya dengan masyarakat menjadi modal sosial yang terus diperbincangkan.
Bagi sebagian warga, kepemimpinan bukan sekadar soal jabatan, tetapi tentang keteladanan, pengabdian, dan kemampuan menyatukan seluruh elemen masyarakat untuk membangun Alor yang lebih maju.
Perjalanan menuju Pilkada memang masih panjang dan berbagai dinamika politik tentu akan terus berkembang. Namun, satu hal mulai terlihat jelas, nama Octovianus Ore telah menjadi bagian dari percakapan publik mengenai masa depan kepemimpinan Kabupaten Alor.
Waktu nantinya yang akan menjawab apakah gaung tersebut akan bermuara pada sebuah kontestasi politik atau tetap menjadi harapan yang hidup di tengah masyarakat.
Sementara Octovianus Ore, yang dimintai komentarnya oleh media ini di kediamannya, terkait animo masyarakat tersebut, Senin, (20/07/2026), mengaku bahwa masyarakat berhak memberikan aspirasi dan itu patut dihargai namun dirinya tidak berani berkomentar karena saat ini masih berstatus PNS aktif.
“Saya hargai aspirasi masyarakat namun saat ini saya masih aktif. Dua atau tiga tahun lagi baru saya pensiun. Selain itu, untuk Pilkada itu butuh uang dan saya tidak punya uang adik. Meski pun dilain sisi kita ada keluarga atau basis,” pungkas dengan nada merendah. *




















