onlinentt.com-Rote Ndao-Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 Klasis Lobalain di GMIT Menggelama, Jumat (28/09/2026), menjadi momentum penuh syukur sekaligus ruang untuk mempererat persekutuan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat di Kabupaten Rote Ndao.
Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, SH, hadir dalam perayaan tersebut bersama unsur pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, serta jemaat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran pemerintah daerah dalam momentum tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi dan hubungan yang semakin erat dengan gereja serta seluruh elemen masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Bupati Paulus Henuk menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak dapat hanya bertumpu pada pemerintah.
Kolaborasi dengan tokoh agama dan tokoh adat dinilai penting agar berbagai program pembangunan dan pelayanan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, ke depan sinergi tersebut akan diwujudkan secara lebih konkret, terarah dan kolaboratif.
Pemerintah ingin memastikan setiap program maupun dukungan yang diberikan tidak berhenti pada perencanaan, tetapi benar-benar tepat sasaran dan dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.
“Kita ingin memastikan bahwa setiap program dan dukungan yang diberikan benar-benar tepat sasaran, menyentuh masyarakat, jemaat, umat, serta anak Leo yang membutuhkan,” demikian pesan yang disampaikan dalam momentum tersebut.
Bagi pemerintah daerah, gereja dan tokoh agama memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat.
Kehadiran gereja bukan hanya menjadi bagian dari kehidupan iman, tetapi juga memiliki ruang penting dalam membangun kepedulian sosial, memperkuat persaudaraan dan mendorong masyarakat untuk bersama-sama menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Hal yang sama juga berlaku bagi tokoh adat. Nilai-nilai adat dan kearifan lokal merupakan kekuatan sosial yang dapat menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan sekaligus mendukung pembangunan daerah.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao terus membuka ruang komunikasi dan kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat. Sinergi antara pemerintah, gereja, tokoh adat dan masyarakat diharapkan mampu melahirkan program yang lebih responsif terhadap kebutuhan di tingkat bawah.
“Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Dengan membangun sinergi bersama tokoh agama, tokoh adat, dan seluruh elemen masyarakat, kita berharap pelayanan dan pembangunan di Rote Ndao semakin inklusif, berkeadilan, dan menghadirkan manfaat nyata bagi mereka yang membutuhkan,” tegasnya.
Perayaan HUT ke-50 Klasis Lobalain pun tidak hanya menjadi catatan perjalanan lima dekade pelayanan gereja.
Momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa membangun daerah membutuhkan kebersamaan, kepedulian dan keterlibatan seluruh pihak.
Pada akhirnya, pembangunan tidak semata-mata diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi dari seberapa jauh program tersebut mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan menghadirkan perubahan yang dirasakan secara nyata.
“Karena pada akhirnya, pembangunan bukan hanya tentang apa yang kita kerjakan, tetapi juga tentang siapa yang kita layani dan seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” pungkasnya.*




















