Di era perkembangan IPTEK, (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), belakangan ini, serat yang matang tersebut dapat dijadikan sirup. Begitu pula dengan nira lontar yang dimasak menjadi gula, sudah dapat diproses menjadi kecap.
Lalu bijinya dibiarkan begitu saja sampai mengering dalam rentan waktu yang lama. Kemudian pada musim penghujan mengeluarkan tunas hingga menjadi anakan lontar.
Terdapat dua jenis pohon lontar, yaitu : 1. Lontar/tua jantan, (laki), yang disebut, tua mane. 2. Lontar/tua betina, (perempuan), yang dinamai, tua fata/tua ina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertumbuhannya kadang tunggal dan bergerombolan. Hidup dan berkembang tidak mengenal kondisi alam, pohon ini bisa hidup di daerah-daerah berbatuan, gersang, panas, lembab dan basah.
Awal kehidupan para leluhur, pohon lontar dipercaya tumbuh secara alamiah, tidak di tanam oleh manusia melainkan oleh alam. Bagi yang hendak melakukan penanaman akan mengalami mati mendadak atau penyakit berbahaya lainnya.
*Syair Keramat Untuk Menyadap Lontar*
Tuturan para tetua adat di Rote Ti menyebutkan, bahwa untuk menghasilkan air tuak, (nira), dari kedua jenis tuak, baik tua mane maupun tua ina, maka perlu menjalani ritualnya tersendiri, yakni untuk jenis tua fata/tua ina, (red=pohon lontar betina), seseorang setelah sampai di atas pohon lontar, harus bersiul sebanyak tiga kali sambil berkata-kata bahwa: “Au nggou-nggou neu nori-nori dulu, fo bonggi susu norik.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

Ikuti Kami
Subscribe


















