Kendaraan Dinas Bukan Kendaraan Pribadi, Jam Dinas Usai Kembali ke Garasi ?

- Redaksi

Selasa, 22 September 2026 - 05:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : John Henuk Editor : Refaksi
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : John Henuk 

Catatan Kaki Redaksi Buat Bupati Rote Ndao 

onlinentt.com-Rote Ndao | Di tengah keterbatasan kemampuan keuanlgan daerah, efisiensi anggaran tidak boleh hanya menjadi slogan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Setiap rupiah APBD harus dikelola dengan prinsip kehati-hatian, efektivitas, efisiensi, transparansi dan akuntabilitas. Termasuk dalam hal penggunaan kendaraan dinas.

 

Mobil dinas bukan kendaraan pribadi. Kendaraan tersebut merupakan bagian dari Barang Milik Daerah (BMD) yang pengadaan, operasional dan pemeliharaannya menggunakan anggaran daerah.

 

Karena itu, ketika jam dinas telah berakhir dan tidak ada penugasan resmi di luar jam kerja, kendaraan dinas semestinya dikembalikan ke tempat penyimpanan atau garasi yang telah ditentukan.

 

Ini bukan sekadar persoalan parkir kendaraan. Ini menyangkut disiplin pengelolaan aset daerah dan perlindungan terhadap uang rakyat.

 

Permendagri Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Permendagri Nomor 7 Tahun 2024, mengatur penggunaan BMD harus berkaitan dengan tugas dan fungsi perangkat daerah.

 

Regulasi tersebut juga mengatur tanggung jawab pengguna kendaraan dinas, termasuk kewajiban mengembalikan kendaraan dinas operasional setelah jangka waktu penggunaan berakhir dan menyimpannya pada tempat yang telah ditentukan.

 

Dengan demikian, kendaraan dinas tidak boleh diperlakukan seolah-olah menjadi hak pribadi orang yang sehari-hari memegang atau menggunakannya.

 

Kunci kendaraan berada di tangan seorang pejabat atau pegawai tidak berarti kendaraan tersebut berubah status menjadi milik pribadi.

Baca Juga :  Sinergi Baru Dimulai dari Gerbang Rote Ndao, Bupati Paulus Henuk Sambut Kapolres Baru dengan Semangat Kolaborasi untuk Daerah yang Aman dan Maju

Aset tetap milik daerah.

Di sinilah pemerintah daerah perlu bersikap tegas.

 

Jika kendaraan dinas digunakan setelah jam kedinasan untuk menjemput anak, mengantar keluarga, berbelanja, menghadiri kepentingan pribadi atau aktivitas lain yang tidak berkaitan dengan tugas pemerintahan, maka penggunaan tersebut patut dipertanyakan dari sisi kepatutan dan pertanggungjawaban pemanfaatan BMD.

 

Pertanyaannya sederhana:

Siapa yang membayar BBM? Siapa yang menanggung biaya servis? Siapa yang membayar pergantian oli, ban, kampas rem dan komponen kendaraan yang mengalami keausan?

 

Jika seluruh biaya tersebut dibebankan kepada APBD, maka masyarakat berhak mendapatkan penjelasan mengenai dasar penggunaan kendaraan tersebut.

Sebab setiap perjalanan kendaraan mempunyai konsekuensi biaya.

 

Semakin sering kendaraan digunakan, semakin besar konsumsi BBM. Semakin panjang jarak tempuh, semakin cepat komponen kendaraan mengalami keausan.

 

Dan semakin tinggi intensitas penggunaan, semakin besar pula kebutuhan pemeliharaan.

Pada akhirnya, seluruh biaya itu kembali kepada APBD.

 

Permendagri 19 Tahun 2016 menempatkan pemeliharaan BMD sebagai bagian dari tanggung jawab pengelolaan aset. Pemeliharaan dilakukan agar barang tetap berada dalam kondisi baik, berfungsi dan siap digunakan.

 

Biaya pemeliharaan juga menjadi bagian dari belanja daerah.

Maka penggunaan kendaraan secara tidak terkendali bukan hanya persoalan teknis kendaraan. Itu adalah persoalan efisiensi anggaran.

 

Pemerintah daerah bahkan seharusnya mampu mengetahui kendaraan mana yang digunakan, berapa kilometer ditempuh, berapa BBM dikonsumsi, kapan kendaraan diservis dan untuk kepentingan apa kendaraan tersebut digunakan.

Baca Juga :  Oknum Anggota Polres Sabu Raijua Diduga Bersinah Dengan Istri Orang dan Dapat Anak

 

Jangan sampai kendaraan yang seharusnya menjadi instrumen pelayanan masyarakat justru berubah menjadi fasilitas kenyamanan pribadi.

 

Lebih ironis lagi apabila pemerintah sedang meminta seluruh perangkat daerah melakukan penghematan, sementara kendaraan dinas masih bebas digunakan tanpa pengendalian yang memadai.

 

Efisiensi tidak boleh hanya dibebankan kepada masyarakat atau dipotong dari program pelayanan publik.

Efisiensi harus dimulai dari dalam birokrasi sendiri.

 

Salah satu langkah sederhana adalah mempertegas kebijakan bahwa kendaraan dinas operasional harus kembali ke pool, garasi kantor atau tempat penyimpanan yang telah ditentukan setelah tugas kedinasan selesai.

 

Tentu terdapat pengecualian.

Kendaraan tetap dapat digunakan di luar jam kerja apabila terdapat tugas resmi, pelayanan masyarakat, keadaan darurat, perjalanan lapangan atau penugasan lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

Tetapi harus ada mekanisme yang jelas.

Siapa yang menugaskan?

Untuk kegiatan apa?

Ke mana kendaraan digunakan?

Berapa lama?

 

Siapa yang bertanggung jawab?

Berapa jarak tempuhnya?

Dan apakah penggunaan tersebut tercatat?

 

Dengan sistem seperti itu, pemerintah daerah tidak hanya menghemat BBM, tetapi juga dapat mengendalikan biaya pemeliharaan dan memperpanjang usia ekonomis kendaraan.

 

Yang lebih penting, pemerintah dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa pengelolaan aset daerah dilakukan secara tertib.

 

Kebijakan ini juga perlu disertai logbook kendaraan, pencatatan kilometer, pengawasan BBM, jadwal pemeliharaan dan pemeriksaan berkala terhadap kendaraan yang berada dalam penguasaan masing-masing perangkat daerah.

 

Jika ada kendaraan yang secara rutin keluar setelah jam kerja tanpa penugasan resmi, maka penggunaan tersebut patut menjadi objek pengawasan internal.

Baca Juga :  Hari Ini Paulus Henuk dan Apremoi Dudelusi Dethan Ditetapkan Sebagai Bupati dan Wakil Bupati Rote Ndao

 

Inspektorat maupun pengelola barang daerah memiliki peran penting memastikan aset tidak hanya tercatat di atas kertas, tetapi benar-benar digunakan sesuai ketentuan.

 

Sebab pengelolaan BMD bukan hanya soal berapa jumlah kendaraan yang dimiliki pemerintah.

 

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kendaraan itu digunakan dan siapa yang bertanggung jawab atas penggunaannya.

 

Kendaraan dinas harus kembali kepada fungsi dasarnya: menunjang tugas pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Bukan menjadi kendaraan antar-jemput keluarga.

 

Bukan kendaraan untuk kepentingan pribadi. Bukan pula fasilitas yang dapat digunakan tanpa batas hanya karena seseorang memiliki jabatan atau kewenangan atas kendaraan tersebut.

 

Di tengah keterbatasan APBD, pemerintah daerah perlu berani memulai budaya baru: setelah tugas selesai, kendaraan kembali ke garasi.

Jika ada tugas resmi, silakan digunakan.

 

Jika ada keadaan darurat, silakan dikeluarkan. Tetapi jika tidak ada kepentingan kedinasan, untuk apa kendaraan pemerintah masih berkeliaran di luar jam kerja?

 

Pada akhirnya, persoalan kendaraan dinas bukan hanya tentang mobil.

Ini tentang bagaimana pemerintah menghormati uang rakyat.

 

Satu liter BBM adalah uang rakyat. Satu kilometer perjalanan adalah biaya daerah. Satu komponen yang aus adalah beban APBD.

 

Karena itu, semakin terbatas anggaran daerah, semakin kuat pula alasan untuk memperketat penggunaan kendaraan dinas.*

Berita Terkait

Perkuat Kepastian Hukum Aset Pertahanan, Kantor Pertanahan Rote Ndao Serahkan Sertipikat Hak Pakai kepada Kementerian Pertahanan
Dari Ruang Aspirasi ke Jalan Damai, Paulus Henuk Temui Warga Loman dan Buka Ruang Mediasi
Sekda Rote Ndao Tidak Sediakan Buku Tamu Bagi Setiap Orang yang Bertamu
Juknis Sudah Jelas, Mengapa Kepsek Joseph Liu Sulit Bentuk P2SP dan Rekrut Guru?
66 Tahun Peringatan UUPA, Kementerian ATR/BPN Akselerasi Sejumlah Program Strategis di Bidang Pertanahan dan Tata Ruang
Sertipikat Tanah Wakaf Buka Jalan Lebih Lebar bagi Pendidikan Muhammadiyah di Pohuwato
Paulus Henuk Bahas Perlindungan ASN Rote Ndao di Papua Mulai Mendapat Titik Terang
Kantor Pertanahan Rote Ndao dan Bank NTT Bangun Kolaborasi, Dorong Pelayanan Masyarakat Makin Terintegrasi

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 10:42 WITA

Lapas Baa Salurkan Paket Sembako kepada Keluarga Warga Binaan

Sabtu, 7 November 2026 - 10:35 WITA

Panen Tomat di Kebun SAE, Warga Binaan Lapas Baa Dibekali Keterampilan Pertanian untuk Masa Depan

Kamis, 5 November 2026 - 22:24 WITA

Warga Negara Australia Meninggal di Pantai Oemau Desa Bo’a Kecamatan Rote Barat

Minggu, 1 November 2026 - 19:15 WITA

Purna Tugas Obet Koroh, Kalapas Kupang Apresiasi Dedikasi dan Loyalitas dalam Pengabdian

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:00 WITA

Adakah Agen atau Pengecer Siluman?

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:19 WITA

Ada Dugaan Uang Pelicin di Meja Scan Barcode SPBU

Senin, 19 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Ketika BBM Menghilang di Penjualan Eceran, Sebagian Anak Anak Tidak Bersekolah, Bangku Sekolah Kosong

Minggu, 18 Oktober 2026 - 12:08 WITA

Ke Mana BBM dari Antrean Panjang SPBU Sanggaoen? Warga Menunggu, Minyak Eceran Justru Menghilang

Berita Terbaru

Uncategorized

Lapas Baa Salurkan Paket Sembako kepada Keluarga Warga Binaan

Sabtu, 7 Nov 2026 - 10:42 WITA