onlinentt com-Rote Ndao-Sebagai pemegang kunci kebijakan nomer satu di Kabupaten terselatan Indonesia, yakni Rote Ndao. Paulus Henuk, SH, bukanlah sosok yang gampang dan mudah melupakan setiap perjalanan hidupnya, khususnya masa-masa, di mana; saat menggeluti pendidikan yang penuh dengan perjuangan tetes keringat.
Ada pengakuan tulus masih terlintas dalam memori yang begitu kuat, bahwa karena didikan, ajaran, asuhan dan asahan dari mantan para guru, menjadi bekal bagi setiap alumni, termasuk dirinya yang kini menjabat sebagai Bupati Rote Ndao.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Memori saya masih cukup kuat tentang sekolah ini. Dan saya punya kesan, bahwa setiap masa ada orangnya. Begitu pula, setiap orang ada masanya. Sehingga kita sama-sama tahu pula, bahwa setiap orang itu juga punya kekurangan dan kelebihan, ” pungkas Paulus Henuk, SH, dalam sekapur sirihnya pada perayaan HUT Ke-42 Tahun SMANSA Lobalain, Sabtu, (30/08/2025).
Menurut Paulus, karena kemampuan para mantan guru yang sangat berkualitas dan berkompeten, ketika tamat dari sekolah ini Tahun 1997 dan merantau ke Jakarta, sangat tidak heran kalau dirinya mendengar sejumlah mantan guru-gurunya, seperti almarhum Marthen Luther Henuk, Jonas C. Lun, dan Pius Mali menempati sejumlah jabatan strategis di lingkup Pemda Rote Ndao waktu itu.
“Kalau bicara tentang pendidikan di Rote Ndao masa lalu, tentu kami yang alami dan bisa bercerita tapi adik-adik yang masih aktif bersekolah saat ini tentu tidak bisa berceritera,”, terang dia.
Bupati Paulus Henuk juga mengaku, untuk mendapatkan pendidikan dalam meraih masa depan tidaklah mudah dan gampang, seperti membalikan telapak tangan; melainkan penuh dengan pertarungan dan perjuangan. Perjalanan setiap orang pasti berbeda-beda tetapi bila berbicara tentang kesusahan dalam meniti pendidikan maka dirinya termasuk salah satu yang pernah mengalami hal tersebut. Di mana waktu itu masih kelas dua SD, bapak dan ibunya sudah meninggal dunia. Sehingga dia terpaksa terus mengampuh dengan orang untuk terus melanjutkan pendidikan.
“Jadi kalau bicara susah dalam menekuni pendidikan , saya sudah alami itu dari sejak SD kelas dua. Jadi saya paham tentang bagaimana kita menekuni pendidikan untuk meraih masa depan. Karena sesuatu yang baik itu mudah atau gampang diperoleh begitu saja,”aku Henuk. *




















