onlinentt.com – Rote Ndao – Ada orang yang kehadirannya meninggalkan kenangan, tetapi ada pula yang kepergiannya menyisakan jejak pengabdian yang akan terus hidup dalam hati banyak orang.
Fila Delfia Fiah, SE, adalah salah satu sosok yang dikenang bukan hanya karena perjalanan hidupnya, melainkan juga karena tanggung jawab, kasih sayang, dan kesetiaannya dalam melayani keluarga, masyarakat, serta Tuhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepergiannya pada Sabtu, 24 Oktober 2026, di RSUD Ba’a, Rote Ndao, membawa duka mendalam bagi keluarga besar, sahabat, masyarakat Pulau Ndao, serta jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Rajawali Leolutun.
Sosok yang selama hidupnya dikenal tenang, sabar, berkharisma, dan bertanggung jawab itu kini telah berpulang, meninggalkan kenangan yang tidak mudah dilupakan.
Bagi mereka yang mengenalnya secara dekat, Fila Delfia Fiah bukan semata-mata seorang mantan anggota DPRD atau tenaga pendamping masyarakat.
Ia adalah seorang ayah, kakek, saudara, sahabat, dan pelayan Tuhan yang berusaha menjalankan setiap tanggung jawab dengan kesungguhan hati.
Ungkapan “Bersenanglah di Rumah Bapa di Sorga” menjadi pesan perpisahan yang mengiringi kepergiannya.
Sebuah ungkapan iman yang menyimpan kesedihan sekaligus pengharapan bahwa kehidupan manusia tidak hanya dinilai dari berapa lama ia hidup, tetapi juga dari nilai yang ditinggalkannya bagi sesama.
Dari Kampung Mbiu, Pulau Ndao, Menapaki Jalan Pengabdian
Fila Delfia Fiah lahir di Kampung Mbiu, Pulau Ndao, pada 26 Februari 1973. Ia merupakan putra dari pasangan Thimotius Fiah (alm.) dan Ance Y. Dju Bunga (almh.), serta tumbuh dalam keluarga besar dengan sepuluh orang bersaudara.
Kehidupan dalam keluarga besar turut membentuk perjalanan pribadinya. Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana, tenang dalam menghadapi keadaan, serta memiliki kedekatan dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Pendidikan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia memulai pendidikan dasar di Mbiu, Ndao, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 4 Kupang Selatan dan SMEA Negeri Kupang, sebelum menempuh pendidikan tinggi di STIM Kupang hingga meraih gelar Sarjana Ekonomi (SE).
Bekal pendidikan dan pengalaman hidup itu kemudian membawanya memasuki ruang pengabdian yang lebih luas. Kepercayaan masyarakat mengantarkannya menjadi Anggota DPRD Kabupaten Rote Ndao periode 2009–2014.
Setelah menyelesaikan tugas sebagai wakil rakyat, ia melanjutkan pengabdian sebagai staf Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) dalam Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Kabupaten Rote Ndao.
Dua ruang pengabdian tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya di tengah masyarakat. Ia pernah berada dalam lembaga perwakilan rakyat dan kemudian menjalankan tugas pendampingan masyarakat desa.
Jabatan dan pekerjaan itu kini telah menjadi bagian dari masa lalu.
Namun, nilai pengabdian yang melekat pada perjalanan hidupnya menjadi salah satu alasan namanya tetap dikenang oleh orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
Di Rumah, Ia Adalah Ayah dan Kakek yang Dicintai
Di balik perjalanan pengabdiannya di tengah masyarakat, Fila Delfia Fiah memiliki kehidupan keluarga yang menjadi bagian penting dari dirinya.
Bersama istrinya, Yunita Sopacua, ia membangun rumah tangga dan dikaruniai tujuh orang anak, yakni Louis, Risa, Fila, Belinda, Grace, Juan, dan Abigail. Kebahagiaan keluarga mereka kemudian bertambah dengan kehadiran tiga orang cucu, yaitu Wiliam, Beby, dan Key.
Di tengah tanggung jawab pekerjaan dan pelayanan, keluarga tetap menjadi bagian yang dekat dengan kehidupannya. Bagi anak-anak dan cucu-cucunya, ia bukan hanya sosok kepala keluarga, melainkan juga tempat memperoleh kasih sayang, nasihat, dan perhatian.
Kini, ketika sosok itu telah tiada, kenangan tentang kehadirannya akan menjadi bagian dari kehidupan keluarga yang ditinggalkan.
Ada ruang yang tidak lagi dapat diisi oleh kehadiran fisiknya.
Ada percakapan yang hanya tinggal dalam ingatan. Namun, kasih sayang dan nilai-nilai yang diwariskannya akan tetap menjadi bagian dari perjalanan anak-anak, cucu-cucu, dan seluruh keluarga besar.
Kehilangan seorang ayah dan kakek bukanlah peristiwa yang mudah diterima. Di tengah duka, keluarga harus belajar melanjutkan kehidupan dengan membawa kenangan tentang sosok yang pernah hadir, mendampingi, dan memberi arti bagi perjalanan mereka.
Ketika Pelayanan Menjadi Bagian dari Kehidupan
Tahun 2021 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan iman Fila Delfia Fiah. Pada tahun itu, ia mempersembahkan hidupnya bagi pekerjaan Tuhan dan turut menjadi salah satu pendiri GPdI Rajawali Leolutun.
Kepercayaan kemudian diberikan kepadanya untuk melayani sebagai sekretaris gereja. Tanggung jawab tersebut dijalankannya dengan kesungguhan dan komitmen terhadap kehidupan pelayanan jemaat.
Dalam kehidupan bergereja, tugas pelayanan tidak hanya berkaitan dengan jabatan atau tanggung jawab organisasi.
Di dalamnya terdapat kesediaan untuk meluangkan waktu, bekerja bersama, menjaga kepercayaan, serta hadir ketika jemaat membutuhkan dukungan.
Nilai-nilai itulah yang melekat pada sosok Fila Delfia Fiah sebagaimana dikenang oleh lingkungan pelayanannya.
Bagi GPdI Rajawali Leolutun, kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang pengurus gereja. Jemaat kehilangan seorang rekan pelayanan yang telah mengambil bagian dalam perjalanan gereja sejak awal pembentukannya.
Pengabdian yang dimulai pada 2021 itu menjadi bagian dari kisah hidupnya hingga menjelang akhir hayat. Ia meninggalkan keluarga yang dicintainya dan jemaat yang pernah dilayaninya, dengan kenangan tentang tanggung jawab serta kesetiaan dalam menjalankan tugas.
Pulang ke Pulau Ndao, Kembali ke Tanah Asal
Kabar duka pada 24 Oktober 2026 membawa keluarga memasuki masa perpisahan yang berat. Setelah mengembuskan napas terakhir di RSUD Ba’a, jenazah Fila Delfia Fiah dibawa kembali ke Pulau Ndao, tempat ia dilahirkan dan menghabiskan bagian awal kehidupannya.
Sebelum pemakaman, GPdI Rajawali Leolutun menggelar ibadah bersama pada Minggu, 25 Oktober 2026, sebagai kesempatan bagi gembala dan jemaat untuk memberikan penghormatan terakhir.
Dalam suasana penuh haru, jemaat berkumpul untuk mengenang seorang pribadi yang telah mengambil bagian dalam kehidupan gereja.
Ia tidak lagi hadir seperti biasanya, tetapi kenangan tentang kebersamaan dan pelayanan yang pernah dijalani tetap menyatukan mereka dalam suasana duka.
Sehari kemudian, Senin, 26 Oktober 2026, Fila Delfia Fiah dimakamkan di Pulau Ndao. Ratusan orang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada putra Ndao tersebut.
Kepulangannya ke tanah kelahiran seakan menutup lingkaran perjalanan hidupnya. Dari pulau tempat ia dilahirkan, ia menempuh pendidikan, membangun keluarga, menjalani pengabdian, dan melayani Tuhan, sebelum akhirnya kembali untuk beristirahat.
Di hadapan pusara, perpisahan menjadi kenyataan yang tidak dapat dihindari. Namun, bagi keluarga dan jemaat yang percaya, kematian tidak harus menjadi akhir dari pengharapan.
Pesan Gembala: Kehidupan Harus Diperbaiki di Hadapan Tuhan
Dalam ibadah penghiburan, Gembala GPdI Rajawali Leolutun, Pdt. Anatje Tomimomor, menyampaikan pesan firman Tuhan yang mengajak jemaat merenungkan arti kehidupan dan kematian.
“Kita yang hidup, perbaiki hidup kita untuk selalu bersama Tuhan.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi setiap orang bahwa kehidupan manusia memiliki batas. Tidak seorang pun dapat memastikan panjangnya perjalanan hidup, tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, melakukan kebaikan, dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan.
Dalam konteks kepergian Fila Delfia Fiah, pesan itu tidak hanya menjadi penghiburan bagi keluarga yang berduka. Pesan tersebut juga mengajak setiap orang yang hadir untuk melihat kembali perjalanan hidupnya sendiri.
Bagi Pdt. Anatje Tomimomor, Fila Delfia Fiah merupakan sosok yang memiliki rasa tanggung jawab dalam pelayanan dan pekerjaan Tuhan. Karena itu, kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi GPdI Rajawali Leolutun.
Duka yang dirasakan jemaat menjadi bukti bahwa setiap kebersamaan memiliki arti. Selama seseorang masih hadir, mungkin banyak hal terasa biasa. Namun, ketika ia pergi untuk selamanya, hal-hal sederhana yang pernah dilakukan justru menjadi kenangan yang paling berharga.
Pengabdian Berakhir, Kenangan Tetap Hidup
Kepergian Fila Delfia Fiah meninggalkan kehilangan dalam beberapa ruang kehidupan sekaligus. Keluarga kehilangan seorang ayah dan kakek. Saudara-saudaranya kehilangan seorang saudara.
Masyarakat kehilangan sosok yang pernah mengambil bagian dalam pengabdian publik. Sementara GPdI Rajawali Leolutun kehilangan seorang pelayan Tuhan yang turut membangun perjalanan gereja.
Tidak ada kata-kata yang sepenuhnya mampu menghapus kesedihan akibat perpisahan. Namun, di tengah air mata, keluarga dan jemaat dapat menemukan kekuatan melalui kenangan, kebersamaan, dan iman kepada Tuhan.
Perjalanan hidup Fila Delfia Fiah mengingatkan bahwa pengabdian dapat hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang dijalankan melalui tanggung jawab sebagai wakil rakyat, ada yang diwujudkan melalui pekerjaan pemberdayaan masyarakat, ada yang tumbuh dalam kasih sayang kepada keluarga, dan ada pula yang dinyatakan melalui kesetiaan melayani Tuhan.
Kini, seluruh tugas itu telah menjadi bagian dari perjalanan yang selesai di dunia. Yang tersisa adalah kenangan, nilai kehidupan, dan jejak pengabdian yang akan terus diceritakan oleh mereka yang mengenalnya.
Selamat jalan, Fila Delfia Fiah, SE.
Terima kasih atas pengabdian yang telah diberikan kepada masyarakat, kasih sayang yang dicurahkan kepada keluarga, dan kesetiaan dalam pelayanan di GPdI Rajawali Leolutun.
Semoga keluarga yang ditinggalkan memperoleh kekuatan dan penghiburan dari Tuhan dalam melewati masa duka ini.
Beristirahatlah dengan tenang di dalam kasih Tuhan.
Bersenanglah di Rumah Bapa di Sorga.
Namamu akan tetap dikenang. Jejak pengabdianmu akan tetap hidup dalam hati keluarga, masyarakat, dan jemaat yang pernah berjalan bersamamu.
Selamat jalan, P. Fiah. Sampai berjumpa kembali dalam kemuliaan-Nya di Yerusalem baru.*


















