onlinentt.com–Ba’a — Demokrasi tidak selalu harus berlangsung di gedung parlemen atau ruang pemungutan suara dalam pemilu.
Di SMA Negeri 1 Lobalain, Kabupaten Rote Ndao, nilai-nilai demokrasi justru mulai diperkenalkan dari lingkungan sekolah melalui sebuah pesta demokrasi mini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebanyak 1.152 warga sekolah mengikuti pemilihan Ketua dan Sekretaris OSIS SMA Negeri 1 Lobalain periode 2026/2027, Senin (21/9/2026).
Lima pasangan calon berkompetisi
memperebutkan kepercayaan warga sekolah.
Mereka adalah pasangan nomor urut 1, Ayra Ismail dan Marsya Mada; nomor urut 2, Satya Keluanan dan Awen Pah; nomor urut 3, Putra Fadlin dan Jeclyn Poeh; nomor urut 4, Bevan Tasilima dan Michelle Sayd; serta nomor urut 5, Niander Fanggidae dan Arthyka Tulle.
Kelima pasangan calon diberikan ruang dan kesempatan yang sama untuk memperkenalkan diri serta memperoleh dukungan dari pemilih.
Yang menarik, pelaksanaan pemilihan OSIS tersebut dibuat sedemikian rupa menyerupai proses pemungutan suara dalam pemilu.
Kotak suara dan bilik suara bahkan mendapat dukungan logistik dari KPU Kabupaten Rote Ndao.
Kehadiran Komisioner KPU Kabupaten Rote Ndao, Zifyohn D. Sanu dan Deddy I. Rondo, semakin memberikan nuansa edukatif dalam pelaksanaan pesta demokrasi di sekolah tersebut.
KPU memberikan arahan kepada warga sekolah mengenai mekanisme serta tata cara pemungutan suara yang baik dan benar.
Kehadiran penyelenggara pemilu itu sekaligus menjadi bagian dari pendidikan demokrasi bagi generasi muda.
KPU Kabupaten Rote Ndao juga memberikan apresiasi kepada SMA Negeri 1 Lobalain yang telah menghadirkan praktik demokrasi secara langsung di lingkungan sekolah.
Bagi SMA Negeri 1 Lobalain, pemilihan OSIS bukan sekadar agenda rutin pergantian kepengurusan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi peserta didik untuk mengalami sendiri bagaimana sebuah proses demokrasi berlangsung.
Kepala SMA Negeri 1 Lobalain, Alberd W. Dano, S.Pd., didampingi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Yedid Y. Bessie, S.Th., mengajak seluruh peserta didik yang memiliki hak pilih untuk menggunakan hak suaranya.
Ia menegaskan, partisipasi siswa dalam pemilihan merupakan bagian penting dari pembelajaran demokrasi.
“Dengan memberikan hak suara, kita sudah berkontribusi dalam demokrasi,” ujar Alberd.
Pesan tersebut menjadi penting karena demokrasi tidak hanya berbicara tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Di dalamnya terdapat proses belajar mengenai keberanian menentukan pilihan, menghormati pilihan orang lain, menerima hasil serta menjalankan tanggung jawab setelah sebuah keputusan ditetapkan.
Karena itu, pemilihan OSIS di SMAN 1 Lobalain menjadi semacam laboratorium demokrasi bagi para siswa.
Di tempat inilah para peserta didik belajar bahwa satu suara memiliki arti.
Mereka juga belajar bahwa kepemimpinan tidak hanya membutuhkan popularitas, tetapi juga kepercayaan dan tanggung jawab dari mereka yang memberikan mandat.
Pelaksanaan kegiatan tersebut dipersiapkan oleh panitia yang diketuai Melkiul Lonis, S.Pd., bersama Pembina OSIS.
Berbagai kebutuhan telah disiapkan, mulai dari administrasi pemilih, tempat pemungutan suara hingga perlengkapan pendukung lainnya.
Dengan jumlah pemilih mencapai 1.152 orang, pemilihan Ketua dan Sekretaris OSIS periode 2026/2027 menjadi salah satu momentum penting dalam kehidupan organisasi siswa di SMA Negeri 1 Lobalain.
Dari bilik suara sederhana di lingkungan sekolah itu, para siswa belajar sebuah pelajaran besar: demokrasi membutuhkan partisipasi.
Mereka tidak hanya belajar memilih seorang pemimpin, tetapi juga belajar bertanggung jawab terhadap pilihan, menghargai perbedaan dan menerima proses yang telah disepakati bersama.
Melalui pesta demokrasi mini tersebut, SMA Negeri 1 Lobalain menunjukkan bahwa pendidikan demokrasi dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan sekolah.
Sebab, sebelum menjadi pemilih dalam pemilu di masa mendatang, generasi muda perlu terlebih dahulu belajar menjadi pemilih yang memahami arti sebuah suara, menghormati perbedaan pilihan dan menjunjung tinggi proses demokrasi.*




















