onlinentt.com-Rote Ndao — Ada tanah yang menjadi tempat seseorang dilahirkan, tetapi ada pula tanah yang perlahan-lahan menjadi rumah bagi seluruh perjalanan hidupnya. Bagi Karolus Laga Masan, pria kelahiran Adobala, Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, 6 Juli 1967, Kabupaten Rote Ndao telah menjelma menjadi negeri kedua yang menyimpan begitu banyak cerita, perjuangan, berkat, dan pengabdian selama lebih dari tiga dekade.
Pria yang akrab disapa Karel ini telah mengabdikan dirinya sebagai pendidik di Rote Ndao sejak 1994. Selama 32 tahun, ia melewati perjalanan panjang sebagai guru, menyaksikan pergantian generasi, mengajar anak-anak daerah, dan mengambil bagian dalam pembangunan pendidikan di tempat yang dahulu mungkin hanya ia kenal sebagai lokasi penugasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kini, ketika masa pensiunnya sebagai aparatur sipil negara (ASN) semakin dekat pada Juli 2027, Karel justru memiliki pandangan yang berbeda tentang masa depan. Ia mengaku tidak ingin kembali menetap di kampung halaman. Bukan karena melupakan tanah kelahirannya, melainkan karena hatinya telah tumbuh bersama Rote Ndao.
Baginya, daerah ini telah memberikan banyak berkat dalam kehidupannya. Di tanah inilah ia membangun perjalanan karier, menjalankan tanggung jawab sebagai pendidik, membesarkan anak-anak, serta menemukan makna persaudaraan yang melampaui batas tempat kelahiran.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
Kalimat sederhana itu menjadi pegangan hidup yang terus ia ingat hingga hari ini. Sebuah pesan dari kedua orang tuanya, Lukas Sanga Bahon (almarhum) dan Martha Benga Boli (almarhumah), yang tidak hanya diwariskan sebagai nasihat, tetapi menjadi prinsip yang ia hidupi selama puluhan tahun.
Menurut Karel, ayahnya selalu mengajarkan bahwa kehidupan harus dijalani dengan hati yang ikhlas dan bersih. Dengan demikian, manusia dapat hidup damai bersama Tuhan, alam, dan sesama, di mana pun ia berada.
Nasihat itu tertanam kuat dalam dirinya. Ketika ia meninggalkan Adobala dan memulai perjalanan panjang di tanah rantau, pesan tersebut menjadi bekal yang menyertainya menghadapi berbagai tantangan. Ketika kemudian ia memperoleh kesempatan mengabdi di Rote Ndao, ia berusaha menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat yang menerimanya.
Bagi Karel, menghormati tanah tempat berpijak tidak cukup hanya melalui kata-kata. Penghormatan harus diwujudkan dalam kesediaan bekerja, menjalankan tanggung jawab, menghargai masyarakat setempat, serta memberikan manfaat bagi lingkungan tempat seseorang mencari kehidupan.
Prinsip itulah yang membuatnya memandang Rote Ndao lebih dari sekadar tempat bekerja. Tanah ini telah menjadi bagian dari identitas perjalanan hidupnya.
Perjuangan dari Adobala Adonara Timur Menuju Masa Depan
Perjalanan hidup Karel tidak dibangun dalam kemudahan. Ia tumbuh dalam keluarga yang mengajarkannya arti perjuangan, ketekunan, doa, dan kerja keras. Sebagai anak dari pasangan Lukas Sanga Bahon dan Martha Benga Boli, ia memahami bahwa cita-cita tidak datang dengan sendirinya.
Setiap langkah harus diperjuangkan, bahkan ketika jalan yang tersedia terasa berat.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Katolik Adobala, Adonara Timur, Flores Timur, dan diselesaikan pada 1980. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Katolik Phaladya Waiwerang hingga tamat pada 1983, sebelum meneruskan pendidikan ke SPG Katolik Podor, Larantuka, dan lulus pada 1986.
Sejak awal, dunia pendidikan telah menjadi jalan hidup yang ia pilih.
Pada 1986 hingga 1993, Karel mengawali karier sebagai guru honorer di SMP Katolik Lewolema, Adonara Timur, Flores Timur. Pengalaman itu menjadi fondasi awal pengabdiannya sebagai pendidik. Ia belajar bahwa menjadi guru tidak hanya berhubungan dengan kemampuan menyampaikan pelajaran, tetapi juga kesabaran, keteladanan, dan kesediaan membimbing orang lain.
Namun, Karel menyadari bahwa untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas pengabdiannya, pendidikan formal perlu dilanjutkan.
Pada 1993, ia meninggalkan kampung halamannya menuju Kupang untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, mengambil jurusan Pendidikan Biologi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Keputusan itu menjadi titik penting dalam hidupnya. Ia harus meninggalkan lingkungan yang dikenalnya sejak kecil dan memulai kehidupan baru di tempat yang jauh dari kampung halaman.
Kesempatan lain datang pada Desember 1993, ketika penerimaan calon pegawai negeri sipil daerah (CPNSD) untuk guru sekolah dasar dibuka. Karel turut mendaftar dan mengikuti seleksi yang ketika itu diikuti 759 peserta.
Persaingan berlangsung ketat. Dari ratusan peserta tersebut, hanya 19 orang yang dinyatakan lolos, termasuk dirinya.
Kelulusan itu membuka lembaran baru. Di tengah perjalanan kuliahnya yang masih berlangsung, Karel memperoleh kesempatan menjadi guru berstatus pegawai negeri. Pada 1994, ia ditempatkan di SD Inpres Danolon, Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao.
Sejak saat itulah perjalanan panjangnya bersama Rote Ndao dimulai.
Dari Guru Sekolah Dasar hingga Mengabdi di SMA Negeri 1 Lobalain
Menjalankan tugas sebagai guru tidak membuat Karel melupakan cita-cita akademiknya. Ia tetap berusaha menyelesaikan pendidikan tinggi yang sempat berjalan bersamaan dengan tanggung jawabnya sebagai ASN.
Dengan izin untuk melanjutkan pendidikan, ia menyelesaikan kuliah di Unwira Kupang dan diwisuda pada 2000. Setelah memperoleh gelar sarjana Pendidikan Biologi, ia mengikuti penyesuaian ijazah yang kemudian membuka jalan baginya untuk beralih dari guru sekolah dasar menjadi guru sekolah menengah atas.
Pada September 2002, Karel dimutasi ke SMA Negeri 1 Lobalain. Sekolah tersebut kemudian menjadi tempat pengabdian utamanya hingga menjelang masa pensiun.
Di sekolah ini, ia menjalani berbagai peran sesuai kebutuhan dan kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan sekolah dari masa ke masa.
Pada era kepemimpinan almarhum Marthen Luther Henuk, Karel pernah menjalankan tugas sebagai guru Biologi. Pada masa kepemimpinan Frans Zakarias, ia dipercaya mengampu mata pelajaran Seni.
Ketika Rishard A. Soeki memimpin sekolah, Karel mendapat kepercayaan sebagai bendahara dana Rintisan Biaya Operasional Sekolah (RBOS) dan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Kepercayaan itu berlanjut pada era kepemimpinan Jermias Manafe. Ia kembali menjalankan tugas sebagai bendahara dana BOS serta mengemban tanggung jawab terkait pembagian gugus depan (gudep) sekolah dalam program bantuan sosial dan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, pernah menjabat Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana Prasarana Tahun 2021 sampai dengan 2025.
Sementara itu, di bawah kepemimpinan kepala sekolah saat ini, Alberd W. Dano, Karel dipercayakan menjadi ketua panitia pembangunan revitalisasi gedung SMA Negeri 1 Lobalain.
Rangkaian tanggung jawab tersebut menggambarkan perjalanan seorang pendidik yang tidak hanya menjalankan tugas mengajar di kelas, tetapi juga mengambil bagian dalam pengelolaan program dan pembangunan sarana pendidikan.
Selama bertahun-tahun, kepercayaan dari berbagai pimpinan sekolah menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya. Setiap periode menghadirkan tanggung jawab yang berbeda, tetapi semuanya bermuara pada satu hal: menjalankan pekerjaan dengan kesungguhan dan menjaga amanat yang diberikan.
Bagi seorang guru yang telah puluhan tahun bekerja, perjalanan karier tidak selalu diukur melalui jabatan. Ada nilai lain yang lebih penting, yakni kesediaan untuk terus bekerja, belajar, dan memberikan kontribusi sesuai kemampuan.
Rote Ndao, Negeri Ayah dan Ibu Kedua
Tiga puluh dua tahun hidup dan bekerja di Rote Ndao telah membangun ikatan emosional yang sulit dijelaskan hanya melalui hitungan waktu.
Karel datang sebagai seorang pendidik yang ditempatkan untuk menjalankan tugas negara. Namun, seiring berjalannya waktu, daerah ini menjadi bagian penting dari kehidupannya. Masyarakat, lingkungan kerja, dan generasi muda yang ia temui selama perjalanan pengabdiannya telah membentuk kenangan yang tidak mudah dilepaskan.
Ia pun mengakui bahwa Rote Ndao telah memberikan banyak berkat dalam hidupnya.
Karena itulah, ketika masa pensiun pada Juli 2027 semakin dekat, ia tidak serta-merta memandang masa tersebut sebagai waktu untuk meninggalkan daerah tempatnya mengabdi. Sebaliknya, ia merasa memiliki ikatan batin yang membuatnya ingin tetap tinggal di Rote Ndao.
Sikap tersebut berangkat dari kesadaran bahwa kehidupan seseorang tidak hanya ditentukan oleh tempat ia dilahirkan. Tanah kelahiran memang menyimpan akar, kenangan masa kecil, dan sejarah keluarga. Namun, tempat seseorang menghabiskan sebagian besar hidupnya juga dapat tumbuh menjadi rumah yang memiliki arti mendalam.
Bagi Karel, Flores Timur tetap menjadi tanah kelahiran yang berharga. Di sanalah ia dilahirkan, dibesarkan, memperoleh pendidikan awal, dan menerima nasihat dari kedua orang tuanya.
Akan tetapi, Rote Ndao telah menjadi tempat ia menjalankan sebagian besar perjalanan profesional dan kehidupannya sebagai orang dewasa. Tanah ini menyaksikan perjuangannya dari guru sekolah dasar hingga menjadi pendidik di SMA Negeri 1 Lobalain.
Di sini pula ia menunaikan amanat orang tuanya dengan berusaha menghormati lingkungan tempatnya hidup dan bekerja.
Karena itu, sebutan “negeri ayah dan ibu kedua” bukan sekadar ungkapan untuk menggambarkan lamanya ia tinggal. Sebutan tersebut mencerminkan rasa terima kasih kepada tanah yang telah menerimanya, memberikan kesempatan untuk berkembang, dan menjadi saksi pengabdiannya.
Ada pula ikatan keluarga yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Karel pernah membina rumah tangga dan dikaruniai dua orang anak, Monica Korauman, kini berusia 25 tahun, dan Maria Korauman, berusia 19 tahun. Perjalanan keluarganya turut menjadi bagian dari kisah panjang yang ia jalani selama berada jauh dari kampung kelahiran.
Kini, menjelang masa purnabakti, Karel memandang pengabdian sebagai sesuatu yang tidak otomatis berakhir ketika seseorang meninggalkan status ASN. Masa pensiun memang menandai berakhirnya tugas formal, tetapi rasa memiliki, persaudaraan, dan keinginan untuk tetap menjadi bagian dari masyarakat dapat terus hidup.
Amanat Orang Tua yang Tak Pernah Pudar
Di balik seluruh perjalanan itu, ada dua sosok yang tetap memiliki tempat istimewa dalam ingatan Karel: ayah dan ibunya.
Keduanya telah tiada, tetapi pesan yang diwariskan masih menyertainya hingga hari ini. Nasihat tentang keikhlasan, kebersihan hati, dan penghormatan terhadap tempat seseorang berpijak menjadi pegangan yang tidak lekang oleh waktu.
Karel memahami bahwa perjuangan hidup tidak selalu menghasilkan jalan yang mudah. Ada pengorbanan, air mata, dan kerinduan yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan. Namun, selama seseorang menjalani hidup dengan niat baik dan tidak melupakan tanggung jawabnya, setiap langkah akan memiliki makna.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menjadi kalimat yang merangkum seluruh perjalanan tersebut.
Bagi Karel, pepatah itu mengandung pesan agar seseorang tidak datang ke suatu daerah hanya untuk mengambil manfaat, tetapi juga harus menghormati masyarakat, menjaga hubungan dengan sesama, dan memberikan kontribusi yang baik bagi tempat ia hidup.
Prinsip itu pula yang membuatnya tidak merasa harus kembali ke kampung halaman hanya karena masa pengabdiannya sebagai ASN akan berakhir. Ia tetap menghargai Flores Timur sebagai tanah kelahirannya, tetapi juga mengakui bahwa Rote Ndao telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidupnya.
Mungkin, setelah pensiun nanti, tidak ada lagi jadwal mengajar, urusan administrasi sekolah, ataupun tanggung jawab formal yang selama ini memenuhi hari-harinya. Namun, kenangan tentang ruang kelas, rekan-rekan guru, para siswa, dan perjalanan panjang di SMA Negeri 1 Lobalain akan tetap menjadi bagian dari kisah hidupnya.
Karel telah membuktikan bahwa pengabdian tidak selalu membutuhkan seseorang untuk lahir di tanah yang sama. Ketulusan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap masyarakat dapat menumbuhkan rasa memiliki yang kuat, bahkan di tempat yang dahulu hanya menjadi tujuan perantauan.
Dari Adobala, Adonara Timur, ia membawa bekal pendidikan dan pesan kedua orang tuanya. Di Rote Ndao, ia menjalani perjalanan panjang, membangun karier, dan memberikan pengabdian selama 32 tahun.
Kini, ketika masa pensiun berada di depan mata, ia memilih untuk tidak terburu-buru meninggalkan tanah yang telah memberinya begitu banyak arti.
Sebab, bagi Karolus Laga Masan, ada tempat yang akan selalu menjadi tanah kelahiran, tetapi ada pula tempat yang tumbuh menjadi rumah karena kesetiaan dan pengabdian.
Rote Ndao adalah negeri tempat ia mengabdi, tanah yang memberinya banyak berkat, dan negeri ayah serta ibu keduanya. Di sanalah ia berusaha menjaga amanat terakhir yang terus hidup dalam ingatannya: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.*



















