onlinentt.com-Rote Ndao-Limbe/Limba atau HUS Ndeo diakui merupakan salah satu yang paling tertua dan sakral di Kabupaten Rote Ndao.
Pasalnya, karena selain perayaannya pada setiap bulan Juli juga harus bertetapan dengan bulan purnama pertama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sejak dahulu acara HUS Nde’o sangat sakral. HUS ini sebagai sarana untuk memohon berkat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat atau hasil panen yang berlimpah”, papar Dominggus Fanggi, SH, kepada media ini di sela-sela perayaan HUS Ndeo di Desa Tasilo Kecamatan Loaholu, Rabu, (09/07/2025).
Dominggus Fanggi mengaku, dirinya sebagai salah satu keturunan salah satu tokoh penyelenggara HUS Nde’o dari suku Luna Fando, dikenal dengan Mane Lilo, bertugas membagi nasi dan daging, perlu menjaga dan melestarikan HUS Ndeo sebagai warisan leluhur yang sangat sakral.
Diterangkan Fanggi, dari sembilan sub suku dalam Kota Dalek ex Nusak Lai Lete, dibagi dalam dua kelompok suku besar, yaitu pertama disebut suku Kalimak dan Kahak.
Suku Kalimak, (red=ke-5), terdiri dari sub suku, Elo, Luna, Fando, Bolu dan Tasioe. Sedangkan sub suku Kahak, (red=ke-4), diantaranya, Todak, Mbauleo, Leseleon dan Leoanak,” urai dia.
Dominggus mengaku acara ritual adat HUS Nde’o merupakan wujud pernyataan syukur berkat, seperti ternak, misalnya babi, kambing, domba, kuda, kerbau dan lainnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Selain sebagai ucapan syukur, dijelaskan Kepala Desa Tasilo itu, momen HUS Ndeo juga dapat mempererat kekerabatan dan kekeluargaan,” tambahnya.
Dominggus menyampaikan pula terima kasih kepada Pemerintah Daerah, (=red=Pemda), Kabupaten Rote Ndao atas partisipasinya dalam penyelenggaraan HUS Nde’o kali ini.
Disebutkan Fanggi, bertindak selaku tokoh kunci dalam penyelenggaraan ritual adat HUS Nde’o adalah tiga sub suku, yakni, Elo sebagai Mane Hello, (red=penyair/penutur silsilah), Luna Fando dikenal Mane Lilo, bertugas
membagi nasi dan daging serta Tasioe sebagai Mane No, (red=pemberi air kelapa sekaligus merupakan tokoh kunci dari ritual adat HUS Nde’o. Tetapi karena adanya perubahan zaman maka ritual adat tidak diadakan lagi.
“Tokoh-tokoh kunci juga sudah meninggal dunia dan kini turunannya tidak bersedia lagi mengadakan ritual,”sebut dia. *











p



















