onlinentt.com – Rote Ndao | Lahir dari keluarga petani sederhana, Yedid Yakobus Bessie, S.Th., membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah akhir dari sebuah impian.
Berbekal iman, kerja keras, dan doa orang tua, ia menapaki perjalanan panjang dari Kampung Lekioen, Rote Ndao, hingga meraih gelar Sarjana Theologi dan mengabdikan diri sebagai guru, pendidik, serta pelayan Tuhan di tanah kelahirannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yedid lahir pada 16 Juli 1976 di Kampung Lekioen, Desa Mokdale, Kabupaten Rote Ndao.
Namun, selepas SMA, impian melanjutkan pendidikan tinggi nyaris terkubur oleh keadaan. Dengan lima adik yang masih membutuhkan biaya sekolah, Yedid memilih bekerja membantu orang tua.
Ia menjadi kondektur bus, membersihkan kebun milik orang lain, hingga mengumpulkan uang demi meringankan beban keluarga.
Titik balik hidupnya datang pada Juli 1995 ketika seorang mantan gurunya, M.L. Henukh, menawarkan kesempatan melanjutkan pendidikan di STT SETIA Jakarta.
Kesempatan kuliah dengan dukungan asrama dan biaya yang dapat disesuaikan dengan kemampuan menjadi pintu bagi Yedid untuk mengejar impian yang sempat dianggap mustahil.
Dengan bekal seadanya, ia meninggalkan Rote pada 10 Juli 1995. Empat hari kemudian, ia berlayar menuju Jakarta menggunakan kapal laut Dobonsolo.
Perjalanan itu menjadi awal perjuangan baru yang jauh dari keluarga dan kampung halaman.
Kesulitan hidup terus menguji keteguhannya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mencari kesempatan melayani di gereja, membantu membersihkan rumah ibadah, bahkan sesekali mengamen di dalam bus.
Ada masa ketika ia harus menahan lapar karena tidak memiliki makanan yang cukup. Namun, perjuangan itu tidak memadamkan tekadnya untuk menyelesaikan pendidikan.
Pada Agustus 2000, Yedid akhirnya diwisuda sebagai Sarjana Teologi (S.Th.). Pencapaian tersebut menjadi buah dari kerja keras, pengorbanan keluarga, dan keyakinannya bahwa pertolongan Tuhan selalu hadir dalam perjalanan hidup.
Setelah menyelesaikan studi, Yedid sempat menghadapi pilihan penempatan pelayanan di Kalimantan Barat. Namun, ketika Kabupaten Rote Ndao terbentuk sebagai daerah otonom pada 2002, ia memutuskan kembali ke tanah kelahirannya untuk mengabdikan ilmu dan hidupnya bagi masyarakat Rote.
Sejak 2003, Yedid mengajar Pendidikan Agama Kristen di SMA Negeri 1 Lobalain. Pengabdiannya kemudian berkembang dalam berbagai bidang pendidikan, pelayanan gereja, dan sosial. Ia pernah menjadi staf ahli DPRD Kabupaten Rote Ndao, Kepala Sekolah TK Kristen Anugerah Ba’a, Ketua sekaligus dosen STT Paulus Jakarta kelas filial Rote Ndao, serta Ketua LK3 Dinas Sosial Kabupaten Rote Ndao. Pada 2012, ia diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN).
Di SMA Negeri 1 Lobalain, ia juga dipercaya menjadi pembina OSIS selama bertahun-tahun dan kini mengemban tugas sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.
Dalam bidang profesional, ia kembali dipercaya memimpin Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Kristen Kabupaten Rote Ndao periode 2026–2030.
Di luar sekolah, Yedid tetap aktif dalam pelayanan gereja, menjadi pembicara renungan di Radio Swara Malole, serta melayani melalui khotbah, seminar, dan kegiatan misi di sejumlah daerah di Indonesia.
Baginya, mengajar dan melayani merupakan dua jalan pengabdian yang saling menguatkan.
Di balik pencapaiannya, Yedid tidak melupakan pengorbanan keluarganya, terutama sang kakak perempuan,
Meilince Bessie, yang rela menghentikan pendidikan setelah tamat SMP demi bekerja membantu perekonomian keluarga dan membiayai pendidikan adik-adiknya.
Pengorbanan itu turut membuka jalan bagi beberapa saudaranya untuk menyelesaikan pendidikan dan berkarier sebagai pendidik maupun tenaga profesional.
Kehilangan sang ibu pada 2018 menjadi salah satu luka terdalam dalam hidupnya. Ia mengenang sosok ibu yang tidak hanya bekerja keras, tetapi juga mengambil peran besar dalam membesarkan anak-anak ketika ayah mereka harus bekerja sebagai buruh.
Kenangan tentang doa, keteguhan, dan kasih sang ibu terus menjadi sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan.
Dalam rumah tangganya bersama Rosminaria Lely Siahaan, Yedid dikaruniai tiga anak, yakni Alma Stefanie Bessie yang menempuh pendidikan psikologi, Ananda Eunika Bessie di bidang teknik sipil, serta Kaleb Difandro Hasudungan Bessie yang bersiap melanjutkan pendidikan tinggi.
Perjalanan hidup Yedid Yakobus Bessie mengajarkan bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari kemudahan.
Ada pengorbanan yang tidak terlihat, air mata yang tidak diceritakan, dan doa yang terus dipanjatkan ketika keadaan terasa sulit.
Baginya, seluruh pencapaian itu terangkum dalam motto keluarganya, “Eben-Haezer: Sampai di sini Tuhan menolong”.
Sebuah ungkapan syukur atas perjalanan panjang dari kesederhanaan menuju pengabdian, sekaligus pengingat bahwa masih banyak tugas pelayanan dan tanggung jawab yang menanti di masa depan.
Dari Kampung Lekioen, Yedid telah membuktikan bahwa impian yang dirawat dengan iman, ketekunan, dan kerja keras dapat membawa seseorang melampaui keterbatasan.
Sebab, baginya, setiap proses memiliki waktunya sendiri dan segala sesuatu akan indah pada waktu Tuhan.*

















