onlinentt.com-Rote Ndao – Alam terbuka Mata Air Oemetina, Desa Persiapan Suesama, Kecamatan Lobalain, menjadi ruang belajar yang berbeda bagi 85 anggota Pramuka Penegak Gugus Depan 005-006 SMA N 1 Lobalain, Ambalan Soekarno–Fatmawati.
Di tempat inilah para peserta mengikuti Perkemahan Kamis Jumat Sabtu Minggu (PERKAJUSAMI) yang berlangsung pada 23–27 September 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan mengusung tema “Penegak Tangguh, Mandiri, Berkarakter, dan Siap Mengabdi”, kegiatan tersebut diarahkan tidak hanya untuk memperkuat keterampilan kepramukaan, tetapi juga membentuk karakter peserta didik melalui pengalaman nyata di alam terbuka.
Bagi para Penegak, perkemahan menjadi kesempatan untuk keluar sejenak dari rutinitas ruang kelas.
Mereka belajar hidup bersama, mengatur kebutuhan kelompok, menjaga lingkungan, menyelesaikan persoalan secara bersama-sama, serta menjalankan tanggung jawab yang diberikan.
Nilai-nilai itulah yang menjadi ruh PERKAJUSAMI Gudep 005-006 SMA N 1 Lobalain.
Kegiatan resmi dimulai melalui upacara pembukaan yang berlangsung khidmat dan penuh semangat. Kepala SMA N 1 Lobalain sekaligus Majelis Pembimbing Gugus Depan (Mabigus), KK Alberd Wilson Dano, S.Pd., bertindak sebagai pembina upacara sekaligus membuka secara resmi pelaksanaan PERKAJUSAMI.
Kepemimpinan peserta juga mendapat ruang dalam prosesi tersebut. KK Timothy Nununitu, selaku Ketua Ambalan Soekarno, bertindak sebagai pemimpin upacara.
Sementara KK Reyhan Suarjana dipercaya sebagai pemegang bendera Merah Putih, KK Brayen Limbak membawakan Sandi Ambalan, dan KK Mayumi Bessie mengucapkan Dasa Dharma.
Suasana pembukaan semakin kuat dengan dilaksanakannya prosesi Buka Adat yang dipimpin oleh pemangku adat putra, KK Albert Edon, dan pemangku adat putri, KK Maria Leba.
Prosesi tersebut berlangsung lancar dan penuh semangat, sebelum akhirnya ditutup dengan semboyan yang menjadi napas perjuangan anggota Pramuka:
“Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan.”
“Sekali Pramuka, Tetap Pramuka.”
Pesan yang terkandung dalam semboyan tersebut menjadi penting bagi para peserta. Sebab, menjadi anggota Pramuka bukan hanya tentang mengenakan seragam, mengikuti upacara, atau menguasai berbagai keterampilan kepramukaan. Di dalamnya terdapat proses pembentukan sikap untuk belajar setia pada tanggung jawab dan bersedia memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Pembukaan PERKAJUSAMI turut dihadiri unsur pemerintah setempat, masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, tokoh adat, para guru, serta anggota OSIS SMA N 1 Lobalain. Rangkaian pembukaan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Pdt. Demis N.K.
Di balik kegiatan tersebut, para pembina memiliki peran penting dalam memastikan seluruh proses berjalan aman, tertib, dan memiliki nilai pembelajaran.
Pendampingan dilakukan oleh Ibu Martha Teuf, S.Pd. (Kak Martha), Ibu Angriyani Lololau, S.Pd. (Kak Novi), dan Ibu Marlina Feroh, S.Pd. (Kak Marlin).
Para pembina tidak hanya memberikan arahan teknis, tetapi juga melakukan pengawasan dan penilaian terhadap proses yang dijalani peserta selama kegiatan berlangsung.
Kak Martha Teuf, S.Pd., menjelaskan bahwa PERKAJUSAMI merupakan bagian dari proses pembinaan karakter anggota Pramuka.
Menurutnya, kegiatan di alam terbuka memberikan pengalaman yang tidak selalu diperoleh peserta didik melalui pembelajaran di dalam kelas.
Peserta belajar mengelola diri, bekerja sama dengan kelompok, bertanggung jawab terhadap tugas, sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
Dengan demikian, pengalaman selama perkemahan diharapkan tidak berhenti ketika kegiatan berakhir. Nilai disiplin, kemandirian, tanggung jawab, kepemimpinan, persaudaraan, dan semangat pengabdian diharapkan dapat dibawa kembali ke lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Hal tersebut turut dirasakan Devian Ndun, salah seorang peserta PERKAJUSAMI.
Ia mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Baginya, perkemahan memberikan pengalaman berharga untuk belajar menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan mandiri.
Pengalaman seperti itu menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang Penegak. Mereka tidak hanya belajar dari materi yang diberikan pembina, tetapi juga dari kehidupan bersama selama berada di lokasi perkemahan.
Menariknya, kegiatan tersebut juga mendapat sambutan positif dari masyarakat sekitar.
Kehadiran para siswa di Mata Air Oemetina dinilai memberikan warna tersendiri bagi lingkungan setempat. Lokasi yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dimanfaatkan sebagai ruang belajar generasi muda untuk mengenal alam sekaligus membangun komunikasi dengan masyarakat.
Setelah upacara pembukaan, rangkaian PERKAJUSAMI dilanjutkan dengan sosialisasi dari unsur Kodim dan BNN, selain berbagai kegiatan pembinaan, keterampilan, dan aktivitas kepramukaan lainnya.
Materi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan peserta sekaligus membangun kesadaran mengenai pentingnya disiplin, menjaga diri, menjauhi penyalahgunaan narkoba, serta memiliki sikap bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Lima hari di alam terbuka tentu bukan waktu yang singkat. Ada tantangan yang harus dihadapi, ada tanggung jawab yang harus diselesaikan, dan ada kebersamaan yang harus dijaga.
Justru melalui proses itulah karakter ditempa.
PERKAJUSAMI Gudep 005-006 SMA N 1 Lobalain pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah agenda perkemahan.
Lebih jauh, kegiatan ini menjadi bagian dari proses pendidikan yang menempatkan pengalaman, kedisiplinan, kebersamaan, dan pengabdian sebagai bagian dari pembentukan generasi muda.
Dari Mata Air Oemetina, para Penegak Ambalan Soekarno–Fatmawati diharapkan membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman berkemah.
Mereka diharapkan tumbuh menjadi generasi yang tangguh menghadapi tantangan, mandiri dalam mengambil tanggung jawab, kuat dalam karakter, mampu memimpin, peduli terhadap sesama, serta siap memberikan pengabdian bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Sebab, pendidikan karakter tidak selalu berlangsung di balik meja dan papan tulis.
Kadang, ia tumbuh ketika seorang anak belajar bertanggung jawab atas tugasnya, ketika ia membantu temannya, ketika ia menjaga lingkungan, ketika ia belajar memimpin, dan ketika ia memahami bahwa setiap kemampuan yang dimiliki pada akhirnya harus dapat dipersembahkan untuk kebaikan bersama.*




















