Oleh Emyl Giri, Putera Literasi Budaya SMAN 1 Lobalain
onlinentt.com – Rote Ndao – Di tengah derasnya arus digitalisasi, kemampuan membaca dan menulis saja tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan zaman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Generasi muda dituntut mampu berpikir kritis, memilah informasi, menjaga etika, serta memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan karya yang bermanfaat.
Di sinilah literasi menemukan maknanya yang lebih luas, sebagaimana semangat yang diusung Emyl Giri, Putera Literasi Budaya pelajar SMAN 1 Lobalain.
Bagi pelajar masa kini, dunia digital menghadirkan peluang belajar yang terbuka luas.
Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber, kreativitas bisa dikembangkan melalui beragam platform, dan gagasan dapat menjangkau masyarakat tanpa dibatasi jarak maupun waktu.
Namun, di balik kemudahan itu, tersimpan tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa teknologi digunakan secara cerdas dan bermartabat.
Emyl Giri merepresentasikan semangat generasi muda yang perlu terus didorong untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Literasi bukan hanya tentang membaca buku atau menuliskan kata-kata, melainkan juga kecakapan menemukan informasi, menguji kebenarannya, memahami konteks, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, kemampuan memverifikasi fakta menjadi semakin penting.
Informasi yang belum jelas kebenarannya dapat memicu kesalahpahaman, menyebarkan fitnah, bahkan merugikan orang lain.
Karena itu, pelajar perlu membiasakan diri untuk memeriksa sumber informasi sebelum mempercayai atau membagikannya kepada orang lain.
Tantangan lainnya adalah perundungan siber atau cyberbullying, yang dapat melukai perasaan, merusak kepercayaan diri, dan mengganggu kehidupan sosial peserta didik.
Ruang digital semestinya menjadi tempat untuk belajar, bertukar gagasan, serta mengembangkan kreativitas, bukan ruang untuk merendahkan atau mempermalukan sesama.
Literasi digital harus berjalan bersama kesadaran moral. Kecakapan menggunakan teknologi perlu disertai sikap menghargai orang lain, menjaga privasi, memahami konsekuensi setiap unggahan, serta bertanggung jawab atas informasi yang disebarkan.
Dengan begitu, kemajuan teknologi dapat menjadi kekuatan yang membangun, bukan sumber persoalan baru.
Sebagai Putera Literasi Budaya SMAN 1 Lobalain, identitas yang disandang Emyl Giri juga membawa perhatian pada pentingnya menjaga kekayaan budaya di tengah perubahan zaman. Kemajuan teknologi tidak seharusnya membuat generasi muda menjauh dari akar budayanya.
Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan bahasa daerah, tradisi, cerita rakyat, kesenian, dan nilai-nilai luhur kepada khalayak yang lebih luas.
Budaya lokal memiliki cerita, pengetahuan, dan kearifan yang layak diwariskan.
Ketika pelajar mampu mendokumentasikan dan memperkenalkannya melalui media digital, mereka turut mengambil bagian dalam menjaga identitas daerah.
Dengan cara ini, budaya tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga hadir sebagai sumber inspirasi bagi kreativitas generasi masa kini.
Upaya membangun budaya literasi tentu membutuhkan keterlibatan bersama.
Sekolah memiliki peran dalam membimbing peserta didik agar gemar membaca, berani menulis, dan kritis terhadap informasi.
.
Keluarga perlu menanamkan kebiasaan menggunakan teknologi secara sehat, sedangkan pemerintah diharapkan terus memperluas akses pendidikan dan fasilitas digital agar kesempatan belajar dapat dinikmati secara lebih merata.
Kesenjangan akses teknologi masih menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.
Tidak semua pelajar memiliki perangkat dan jaringan internet dengan kualitas yang sama. Oleh karena itu, gerakan literasi harus disertai dukungan nyata agar kemajuan digital tidak hanya dinikmati oleh mereka yang memiliki fasilitas memadai.
Lebih jauh, pelajar perlu didorong untuk bertransformasi dari konsumen menjadi kreator konten yang produktif. Mereka dapat menghasilkan tulisan, dokumentasi budaya, karya visual, maupun informasi edukatif yang memperkenalkan potensi daerah dan menginspirasi masyarakat.
Kreativitas tersebut akan semakin bermakna apabila dibangun di atas kejujuran, pengetahuan, dan rasa tanggung jawab.
Semangat literasi yang dibawa Emyl Giri menjadi pengingat bahwa generasi muda perlu terus bertumbuh bersama perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Kecerdasan digital harus berjalan beriringan dengan karakter, sementara kecintaan terhadap budaya perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang cepat menguasai teknologi, tetapi juga generasi yang mampu berpikir jernih, menghargai sesama, dan menggunakan pengetahuan untuk menciptakan perubahan positif.
Dari lingkungan sekolah di Rote Ndao, semangat literasi budaya dapat menjadi bagian dari langkah panjang membangun pelajar yang berwawasan luas, berkarakter kuat, dan bangga terhadap identitas budayanya.*



















