Pilihan Bakti Menjadi Jembatan Penghubung bagi Masa Depan Generasi

- Redaksi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:53 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Johanes Henuk Editor : Redaksi
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

onlinentt.com-Rote Ndao,-“Berbuat baik, sekecil apa pun, harus memiliki arti dan membawa manfaat bagi orang lain, terutama bagi diri sendiri. Sebab, sesuatu yang luar biasa tidak selalu lahir dari langkah besar, tetapi justru tumbuh dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan ketulusan, kesungguhan, dan kerendahan hati”.

 

Bagi Yusry Ariyanto Lada (Yusry), prinsip hidup tersebut menemukan maknanya dalam dunia pendidikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Ia meyakini bahwa menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan pengetahuan di ruang kelas, melainkan juga tentang membuka jalan, menghubungkan harapan, dan menuntun generasi muda agar mampu menemukan masa depannya.

 

“Karena dari guru banyak hal dapat diketahui, maka jadilah jembatan penghubung”

 

Demikian prinsip yang menjadi refleksi pengabdiannya sebagai seorang pendidik. Kalimat sederhana itu menyimpan makna yang dalam.

 

Seorang guru memiliki kesempatan untuk mempertemukan ketidaktahuan dengan pengetahuan, keraguan dengan keyakinan, serta cita-cita dengan jalan untuk mewujudkannya.

 

Guru mungkin tidak selalu menyaksikan secara langsung hasil dari setiap pelajaran yang diberikan, tetapi nilai-nilai yang ditanamkan dapat terus hidup dalam perjalanan murid-muridnya.

 

Bagi Yusry, keberhasilan seorang pendidik tidak semata-mata diukur dari banyaknya materi yang diselesaikan atau nilai dalam angka yang diperoleh murid.

 

Lebih dari itu, keberhasilan juga terlihat ketika anak-anak yang pernah dibimbingnya tumbuh menjadi pribadi yang mampu berpikir, mengambil keputusan, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

 

“Life always has its unexpected twists”

Perjalanan hidup Yusry sendiri menjadi kisah tentang bagaimana sebuah cita-cita dapat berubah arah, tanpa harus kehilangan makna pengabdian.

 

Lahir di SoE, Kabupaten Timor Tengah Selatan, pada 23 April 1981, Yusry merupakan anak sulung dari tujuh bersaudara, putra pasangan Ishak Lada dan Helnsy H. Dethan (Almh).

 

Sebagai anak tertua, perjalanan hidupnya menjadi bagian dari proses pembentukan karakter yang kelak dibawanya dalam menjalankan tanggung jawab sebagai pendidik.

Yusry menempuh pendidikan dasar di SD Inpres Kobelete SoE dan tamat pada tahun 1993.

 

Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 1 SoE hingga tamat pada tahun 1996, sebelum akhirnya menyelesaikan pendidikan menengah di SMA Negeri 1 SoE pada tahun 1999.

 

Setelah lulus SMA, Yusry menyimpan cita-cita masa kecil yang kuatyaitu ingin menjadi seorang dokter.

 

Keinginan itu bahkan mendorongnya mengikuti tes masuk perguruan tinggi di Universitas Udayana (UNUD) Bali. Namun, kesempatan tersebut belum berpihak kepadanya. “Hidup selalu memiliki kejutan-kejutannya yang tak terduga”.

 

“Hari ini tidak akan kembali, tapi esok hari baru, kisah baru menanti”

Baca Juga :  Bupati Paulus Henuk Hadiri Pembukaan HUT ke-20 Persekutuan Doa Sinode GMIT

 

Bagi sebagian orang, kegagalan meraih cita-cita pertama mungkin menjadi alasan untuk berhenti berharap. Namun, bagi Yusry, jalan hidup ternyata masih menyimpan kesempatan lain yang tidak kalah berarti.

 

Ia kemudian menempuh pendidikan tinggi di Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang dan menyelesaikan studinya pada tahun 2003.

 

Pada tahun yang sama, ia mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD) Kabupaten Rote Ndao angkatan pertama. Ia dinyatakan lulus dan ditempatkan di SMA Negeri 1 Lobalain, tempat ia mengabdikan diri hingga sekarang.

 

Sejak saat itu, perjalanan hidup yang semula diarahkan menuju dunia kedokteran beralih ke dunia pendidikan.

 

Meski profesinya berbeda dari cita-cita masa kecil, pengabdian sebagai guru memberinya ruang untuk menjalankan peran penting dalam kehidupan orang lain.

 

Jika seorang dokter berupaya membantu manusia melalui pelayanan kesehatan, seorang guru membangun kehidupan melalui pengetahuan, pembentukan karakter, dan pendampingan.

 

Keduanya memiliki ruang pengabdian masing-masing, dengan tujuan yang sama-sama mulia: menghadirkan manfaat bagi sesama.

 

“Pengalaman jadi catatan hidup”

Di SMA Negeri 1 Lobalain, Yusry menjalani perjalanan karier secara bertahap. Perjalanan waktu pun memberinya kesempatan.

 

Pengalaman pertama menjadi seorang wali kelas pada tahun 2005 merupakan momen yang sangat menantang karena selain mengajar, ia pun harus menjaga secara khusus sekumpulan murid dalam kelasnya.

 

Pengalaman mendapatkan kepercayaan ini dirasakannya hingga tahun 2008, dimasa kepemimpinan Drs. C. O. Zacharias.

 

Tugas berikutnya datang pada tahun 2008 hingga 2010. Pada masa kepemimpinan sekolah oleh Drs. Rishart A. Soeki, Yusry diberi kepercayaan menjalankan tugas sebagai asisten dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum yang saat itu dijabat oleh Frederikus L. Suryatna, S.Pd.(Alm).

 

Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran profesional yang memperluas tanggung jawabnya.

 

Ia tidak hanya berhadapan dengan kebutuhan belajar peserta didik, tetapi juga mengenal lebih dekat bagaimana pengelolaan pembelajaran dan penyelenggaraan pendidikan harus berjalan secara terarah.

 

Masih dalam masa kepemimpinan sekolah yang sama ditahun 2010, kisah karier sederhananya, selanjutnya, Yusry ditugaskan sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum setelah Frederikus L. Suryatna, S.Pd. mendapat tugas baru sebagai Kepala SMK Negeri 1 Lobalain saat itu.

 

Ini perjalanan yang panjang, mungkin juga melelahkan, namun tugas tersebut masih tetap dipercayakan hingga masa kepemimpinan Jermias Manafe, S.Pd. (Alm), dan saat ini dimasa kepemimpinan Alberd W. Dano, S.Pd., hal-hal baru yang lebih menantang dalam tugas tersebut masih menjadi rutinitas dalam pengabdian.

 

Baca Juga :  Menag Apresiasi Kerukunan Umat Beragama di Kota Kupang

Pengalaman dalam kepercayaan yang diterimanya selama bertahun-tahun memperlihatkan perjalanan seorang pendidik yang bertumbuh melalui pengalaman, tanggung jawab, dan kesempatan untuk terus belajar.

 

Setiap jabatan membawa tuntutan yang berbeda, tetapi semuanya tetap berpijak pada tujuan yang sama, yakni mendukung berlangsungnya pendidikan yang lebih baik.

 

Menjadi guru sekaligus menjalankan tugas sebagai wakil kepala sekolah tentu menghadirkan tanggung jawab yang tidak ringan.

 

Di satu sisi, ada kebutuhan peserta didik yang harus diperhatikan, dan disisi lain, ada proses pembelajaran yang perlu didukung, dan ada berbagai persoalan pendidikan yang menuntut kesabaran serta kebijaksanaan.

 

Namun, di tengah tanggung jawab tersebut, prinsip menjadi jembatan penghubung tetap relevan. Guru perlu membantu peserta didik memahami apa yang belum mereka ketahui, memberi ruang bagi mereka untuk bertanya, serta mengarahkan mereka agar tidak berhenti pada apa yang sudah dipelajari.

 

Demikian halnya dalam kepercayaan sebagai wakil kepala sekolah. “Beberapa tupoksi yang ada di sekolah mungkin berbeda, tapi tupoksi dasar sebagai guru adalah sama, baik bagi yang mendapatkan tugas tambahan maupun tidak.

 

Perbedaan ini bukan pembanding atau pemisah, ini hanya tentang waktu dan kepercayaan”.

 

Sebab, pendidikan yang bermakna tidak hanya mempersiapkan anak untuk menghadapi ujian di sekolah, tetapi juga membekali mereka menghadapi kenyataan kehidupan yang beragam.

 

Disinilah peran guru menjadi penting. Pengetahuan yang dimiliki seorang pendidik akan semakin bernilai ketika mampu diteruskan, dipahami, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

 

Apa yang diketahui guru tidak seharusnya berhenti pada dirinya sendiri, tetapi menjadi bekal bagi murid-murid untuk melangkah lebih jauh dan lebih tinggi.

 

Bagi Yusri, bahwa menjadi jembatan penghubung perlu juga menyadari bahwa setiap anak memiliki potensi, kebutuhan, dan perjalanan hidup yang berbeda.

 

Mereka membutuhkan pendampingan agar mampu mengenali kemampuan diri, membangun kepercayaan diri, serta menemukan jalan untuk meraih cita-cita.

 

“Dua sisi”

Perjalanan pribadinya yang tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana masa kecil juga menjadi pengingat bahwa masa depan tidak selalu terbentuk melalui satu jalan yang lurus.

 

Ada kesempatan yang tidak berhasil diraih, ada rencana yang harus diubah, dan ada pintu lain yang baru terlihat ketika seseorang berani melanjutkan langkah.

 

Pengalaman itu memberi makna bahwa kegagalan pada satu kesempatan tidak harus menjadi akhir dari sebuah harapan.

 

Selama seseorang bersedia belajar, berusaha, dan memanfaatkan kesempatan yang tersedia, selalu ada ruang untuk bertumbuh dan memberikan kontribusi.

 

Di luar kesibukannya sebagai pendidik, Yusry juga adalah pribadi yang memiliki hobi memancing ikan.

Baca Juga :  Wakil Bupati Apremoi Berulang Tahun, Bupati Rote Ndao Beri Ucapan Selamat

 

Aktivitas sederhana tersebut menjadi bagian dari kehidupan pribadinya ditengah kesibukan menjalankan tanggung jawab profesional.

 

Dalam kehidupan pribadi terkait keluarga, Yusry didampingi istrinya, M. Agustina Iry. Keduanya dikaruniai dua orang anak, yakni Dicky L. Lada dan Fiona L. Lada.

 

Keluarga menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya, tempat tanggung jawab, kasih sayang, dan harapan terhadap masa depan.

 

Sebagai seorang ayah, ia juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan teladan bagi anak-anaknya.

 

Nilai tentang ketekunan, kerendahan hati, dan pentingnya memberikan manfaat bagi orang lain merupakan prinsip yang relevan untuk dibawa, baik dalam kehidupan keluarga maupun dalam pengabdian kepada masyarakat.

 

Dalam menjalani kehidupan, Yusry memahami bahwa setiap pencapaian patut disyukuri, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggikan diri.

 

Kemampuan manusia memiliki batas, dan keberhasilan sering kali terbentuk melalui pertolongan Tuhan, dan dukungan orang lain, serta pengalaman yang mengajarkan banyak hal.

 

Kesadaran itu mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang sepenuhnya mampu berjalan sendiri.

 

Karena itu, pengetahuan, jabatan, dan kesempatan yang dimiliki sebaiknya digunakan untuk membantu orang lain bertumbuh, bukan untuk menciptakan jarak.

 

“Pesan akan dilupakan, berbuatlah agar kamu tidak lupa”

 

Pada akhirnya, perjalanan Yusry memberikan satu pesan penting: cita-cita yang berubah tidak berarti kehidupan kehilangan arah.

 

Ada kalanya seseorang tidak sampai pada tujuan yang pertama kali dibayangkan, tetapi justru menemukan ruang pengabdian lain yang memungkinkan dirinya membawa arti bagi banyak orang.

 

Dari ruang kelas hingga tanggung jawab sebagai wakil kepala sekolah, Yusry menjalani bagian dari perjalanan panjang pendidikan dengan keyakinan bahwa pengetahuan harus dibagikan dan kesempatan harus dimanfaatkan untuk kebaikan.

 

Sebab, seorang guru mungkin tidak dapat menentukan seluruh jalan hidup murid-muridnya. Namun, melalui pengetahuan, keteladanan, dan bimbingan yang diberikan, seorang guru dapat membantu mereka mengenali jalan yang perlu ditempuh.

 

Dan, ketika pengetahuan itu mampu membuka wawasan, ketika bimbingan itu menumbuhkan keberanian, serta ketika kehadiran seorang guru membantu generasi muda melangkah menuju masa depan, disitulah makna menjadi jembatan penghubung menemukan wujudnya.

 

Bagi Yusry, warisan terpenting dari pengabdian seorang pendidik bukan hanya tentang berapa lama ia berdiri di depan kelas, melainkan tentang seberapa jauh pengetahuan dan nilai-nilai kebaikan yang ditanamkannya dapat terus hidup dalam diri orang-orang yang pernah dibimbingnya,

 

“Saya pun bukan hal sempurna, semua yang kita alami akan memberitahu kita cara memahaminya”.

Berita Terkait

Jaga Keamanan Aset, Dirjen SPPR Imbau para Pemilik Tanah untuk Pasang Patok Tanda Batas
Jejak Pengabdian Fila Delfia Fiah Tak Berakhir di Pemakaman, Keluarga dan Jemaat GPdI Rajawali Leolutun Kehilangan Sosok Teladan
Falen Haning Nahkodai Garda Bangsa NTT 2026–2031, Konsolidasi 22 Kabupaten/Kota Jadi Agenda Awal
Urus Peralihan Hak Sendiri, Pengurusan Sertipikat Tidak Seribet yang Dibayangkan
Terapkan Manajemen Risiko dengan Pendekatan GRC, Wamen ATR/Waka BPN Harapkan Pengendalian Risiko Berbasis Data
Lindungi Hak Masyarakat, Kementerian ATR/BPN Selesaikan 3.018 Kasus Pertanahan
32 Tahun Mengabdi di Rote Ndao, Karolus Laga Masan Memilih Setelah Pensiun Menetap: “Tanah Ini Sudah Menjadi Negeri Ayah dan Ibu Kedua”
Bupati dan Wakil Bupati, ASN, DPRD dan Polisi Punya Jalur BBM, Wartawan Untuk Dapat Setetes Saja Sulit

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:53 WITA

Pilihan Bakti Menjadi Jembatan Penghubung bagi Masa Depan Generasi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:41 WITA

Jaga Keamanan Aset, Dirjen SPPR Imbau para Pemilik Tanah untuk Pasang Patok Tanda Batas

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 21:17 WITA

Falen Haning Nahkodai Garda Bangsa NTT 2026–2031, Konsolidasi 22 Kabupaten/Kota Jadi Agenda Awal

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:34 WITA

Urus Peralihan Hak Sendiri, Pengurusan Sertipikat Tidak Seribet yang Dibayangkan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:11 WITA

Terapkan Manajemen Risiko dengan Pendekatan GRC, Wamen ATR/Waka BPN Harapkan Pengendalian Risiko Berbasis Data

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:00 WITA

Lindungi Hak Masyarakat, Kementerian ATR/BPN Selesaikan 3.018 Kasus Pertanahan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:27 WITA

32 Tahun Mengabdi di Rote Ndao, Karolus Laga Masan Memilih Setelah Pensiun Menetap: “Tanah Ini Sudah Menjadi Negeri Ayah dan Ibu Kedua”

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:21 WITA

Bupati dan Wakil Bupati, ASN, DPRD dan Polisi Punya Jalur BBM, Wartawan Untuk Dapat Setetes Saja Sulit

Berita Terbaru

Lintas Nusa

Pilihan Bakti Menjadi Jembatan Penghubung bagi Masa Depan Generasi

Kamis, 29 Okt 2026 - 16:53 WITA