onlinentt.com – Rote Ndao-Perang melawan narkoba membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum, upaya menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkotika juga membutuhkan kepedulian tokoh adat, tokoh agama, pemuda, dan komunitas yang hidup di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kesadaran inilah yang turut mendorong kehadiran Leo Kunak Nusak Baa dalam Workshop Penggiat P4GN Kelompok Masyarakat dan Komunitas Anti Narkoba Tahun 2026 yang diselenggarakan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Rote Ndao, Selasa, 13 Oktober 2026, di Gereja Betania, Ba’a.
Keterlibatan tokoh adat dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari gerakan bersama untuk membangun benteng sosial terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
Sebab, pencegahan narkoba akan lebih bermakna ketika pesan tentang bahayanya tidak hanya disampaikan melalui forum resmi, tetapi juga menjadi kesadaran bersama dalam kehidupan keluarga, lingkungan adat, tempat ibadah, dan pergaulan generasi muda.
Workshop dibuka oleh Plh. Ketua Tim P2M Kabupaten Rote Ndao, Reyza N. Johanis, S.KM.
Kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan serta Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
Sejumlah komunitas dan perwakilan masyarakat turut mengambil bagian, di antaranya komunitas anak muda Rote Ndao, Rote Uslan Cycling Club, Pemuda Katolik Rote, Tokoh Pemuda Klasis Lobalain, Pemuda Remaja Masjid, Ketua Klasis Lobalain, tokoh agama Katolik, serta tokoh adat Leo Kunak Nusak Baa.
Leo Kunak Nusak Baa diwakili Yedid Y. Bessie, S.Th., yang juga menjabat sebagai Bendahara Umum Leo Kunak.
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai perkembangan persoalan narkotika, mulai dari penyalahgunaan, peredaran gelap, dampak buruk narkoba, hingga pentingnya keterlibatan masyarakat dalam melakukan pencegahan sejak dini.
Materi yang disampaikan menjadi bekal bagi para penggiat untuk meneruskan informasi yang benar kepada masyarakat. Dengan pemahaman yang memadai, tokoh adat, tokoh agama, dan komunitas diharapkan mampu mengambil peran lebih aktif dalam membangun kewaspadaan terhadap ancaman narkoba di lingkungan masing-masing.
Yedid Y. Bessie menyambut positif pelaksanaan workshop tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini memberikan manfaat karena peserta memperoleh informasi dan data terbaru mengenai permasalahan narkotika, termasuk perkembangan serta statistik penyebarannya.
Baginya, pengetahuan tersebut penting agar masyarakat tidak hanya mengetahui bahwa narkoba berbahaya, tetapi juga memahami perkembangan persoalannya dan menyadari perlunya langkah pencegahan yang terarah.
Informasi yang diperoleh dari workshop diharapkan dapat diteruskan kepada masyarakat melalui pendekatan yang sesuai dengan lingkungan masing-masing.
Peran tokoh adat, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat pesan moral, kepedulian sosial, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga generasi muda.
Upaya ini juga membutuhkan kerja sama lintas komunitas. Perbedaan latar belakang organisasi, agama, maupun lingkungan sosial tidak seharusnya menjadi penghalang untuk menyatukan langkah menghadapi ancaman narkotika.
Sebaliknya, kolaborasi menjadi kekuatan untuk memperluas jangkauan edukasi dan membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap keselamatan generasi penerus.
Salah satu hasil yang ditekankan dalam workshop adalah harapan agar para penggiat P4GN mampu menyosialisasikan bahaya penyalahgunaan dan peredaran narkoba serta mendorong tindakan pencegahan di lingkungan kelompok, komunitas, dan masyarakat.
Bagi Leo Kunak Nusak Baa, partisipasi dalam kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat kesadaran bahwa menjaga masa depan generasi muda merupakan tanggung jawab bersama.
Pencegahan harus dimulai sedini mungkin, disertai edukasi yang berkelanjutan dan keterlibatan nyata seluruh unsur masyarakat.
Sebab, generasi muda yang sehat dan berkarakter merupakan modal penting bagi masa depan Rote Ndao.
Ketika masyarakat memiliki pengetahuan, kepedulian, dan keberanian untuk mengambil bagian dalam pencegahan narkoba, ruang bagi penyalahgunaan narkotika diharapkan semakin dapat ditekan.
Kehadiran Leo Kunak Nusak Baa dalam workshop tersebut pun membawa pesan bahwa gerakan anti narkoba perlu tumbuh dari kesadaran bersama, diperkuat melalui kolaborasi, dan diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat.
Bersama masyarakat, komunitas, dan tokoh adat, cegah narkoba sejak dini demi generasi Rote Ndao yang sehat, kuat, dan berkarakter.*



















