onlinentt.com – Rote Ndao | Tidak semua keberhasilan lahir dari langkah besar tetapi tumbuh dari kesetiaan menjalani proses, tekun menghadapi tantangan, dan berani untuk terus melangkah meskipun jalan yang ditempuh tak selalu mudah. Prinsip inilah yang menjadi pegangan hidup Martha Floria Yanti Teuf, S.Pd., seorang pendidik yang mendedikasikan dirinya untuk pendidikan, pelayanan gereja, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Teruslah melangkah dari langkah yang kecil, sebab setiap langkah adalah bagian dari perjalanan menuju tujuan. pantang menyerah, karena keberhasilan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan dengan tekad dan ketekunan.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata tapi motivasi baginya karena di balik kalimat ini tersimpan cara pandang tentang kehidupan, pekerjaan, dan pengabdian yang terus ia hidupi hingga saat ini. Baginya, perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu harus ditempuh dengan berlari. Berjalan perlahan pun tidak menjadi masalah, selama seseorang tetap memiliki tujuan, menjaga komitmen, dan tidak berhenti berusaha.
Perempuan yang juga akrab disapa Yanti di lingkungan keluarga dan Martha dalam kesehariannya sebagai aparatur sipil negara (ASN) ini merupakan istri dari Carles D. J. Pelle, S.H., Direktur Perusahaan Daerah Ita Esa. Rote Nda Ia juga merupakan ibu dari Essa F. N. Pelle, S.H., serta Echa L. Pelle, siswi kelas X SMA Negeri 1 Lobalain.
Ia adalah anak kedua dari enam bersaudara, buah hati pasangan Pendeta Emeritus Nithanel Teuf, SMTh., yang telah purnabakti, dan almarhumah Elisabeth Nifu, seorang guru. Dari lingkungan keluarga inilah ia bertumbuh dengan nilai-nilai kehidupan yang membentuk karakter, ketekunan, serta tanggung jawab dalam menjalani setiap peran yang dipercayakan kepadanya.
Ada satu filosofi yang begitu dekat dengan cara Martha memandang kehidupan, yakni perjalanan hidup seekor kupu-kupu. Sebelum menampilkan keindahannya, kupu-kupu harus melewati proses panjang dari telur -ulat -kepompong dan menjadi kupu kupu yang indah .Proses itu tidak mudah, tetapi menjadi bagian penting dari perubahan menuju kehidupan yang lebih indah.
Baginya kehidupan manusia pun demikian. Kesulitan, tantangan, dan proses yang terkadang melelahkan bukanlah alasan untuk berhenti tetapi Justru melalui proses itulah setiap orang belajar menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan lebih bijaksana.
Filosofi tersebut seakan menggambarkan perjalanan hidupnya sebagai seorang perempuan, istri, ibu, guru, sekaligus pelayan gereja. Ia memahami bahwa setiap tanggung jawab memiliki tantangannya sendiri, tetapi semuanya dapat dijalani dengan baik ketika dikerjakan secara sungguh-sungguh dan disertai ketulusan hati.
Perjalanannya sebagai seorang pendidik dimulai setelah ia diangkat menjadi PNS pada tahun 2006. Selama kurang lebih dua dekade ,ia telah menjalani berbagai tugas dan tanggung jawab di lingkungan sekolah. Baginya, menjadi guru bukan hanya tentang hadir di ruang kelas tetpai membimbing , membangun karakter, menanamkan nilai kehidupan, serta menjadi bagian dari proses pertumbuhan generasi muda.
Dalam perjalanan kariernya,Ia pernah dipercaya sebagai wali kelas, kemudian mengemban tugas sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat selama empat tahun, ia juga menjalankan tanggung jawab sebagai Pembina Pramuka sejak 2008 hingga sekarang dan Pada tahun 2025 kepemimpinan kepala sekolah Alberd Wilson Dano ,S.Pd ia kembali dipercaya mengemban tugas sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana, berbagai karya terus dilakukan untuk SMA N I Lobalain lebih baik
Beragam tanggung jawab tersebut menjadi bagian dari perjalanan dalam dunia pendidikan. Setiap tugas menghadirkan pengalaman dan tantangan yang berbeda, sekaligus menjadi ruang untuk belajar, bertumbuh, dan memberikan kontribusi yang lebih luas bagi sekolah.
Ia menyadari bahwa dunia pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar kecakapan akademis. Dibutuhkan pula keteladanan, kedisiplinan, kesabaran, serta kepedulian terhadap kebutuhan peserta didik dan lingkungan sekolah. Karena itu, ia berusaha menjalankan setiap amanah dengan penuh tanggung jawab, tanpa menjadikan jabatan sebagai ukuran utama keberhasilan.
Menariknya, cita-citanya sejak kecil sebenarnya adalah menjadi seorang pendeta. Namun, perjalanan hidup membawanya menapaki jalan pengabdian yang berbeda. Ia kemudian menjadi seorang guru, profesi yang juga memberinya kesempatan untuk melayani , menanamkan nilai-nilai kebaikan, dan mengambil bagian dalam membentuk masa depan generasi penerus.
Meski cita-cita masa kecilnya tidak terwujud dalam bentuk yang sama, semangat pelayanan itu tetap hidup dalam dirinya. Selain menjalankan tugas sebagai pendidik, Ia pun aktif dalam pelayanan gereja dan kehidupan organisasi kemasyarakatan.
Ia melayani sebagai seorang presbiter yakni Penatua di GMIT Betania, pada bagian organisasi di Gereja MJH,ia dipercayakan mengemban tugas sebagai Wakil Sekretaris 2 periode di GMIT Betania Ba’a. Berbagai tanggung jawab tersebut memperlihatkan bahwa pengabdiannya tidak berhenti ketika jam kerja di sekolah berakhir.
Baginya melayani merupakan panggilan untuk hadir bagi sesama. Pelayanan tidak selalu harus dilakukan melalui hal-hal besar. Perhatian sederhana, kesediaan mendengarkan, kesungguhan menjalankan tugas, dan kemauan membantu orang lain juga merupakan bentuk nyata dari kasih.
Di tengah berbagai tanggung jawab sebagai pendidik,pelayanan , pengurus gereja, istri dan ibu, Martha memegang prinsip bahwa waktu yang diberikan Tuhan tidak boleh disia-siakan.
Ia percaya setiap kesempatan memiliki nilainya sendiri. Karena itu, pekerjaan harus diselesaikan dengan penuh tanggung jawab, bukan ditunda hingga kehilangan momentum.
Prinsip tersebut menjadi pengingat bagi dirinya untuk terus bergerak, menyelesaikan tanggung jawab, dan memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan. Ia tidak ingin mengukur keberhasilan semata-mata dari seberapa tinggi mencapai tujuan, tetapi juga dari seberapa tulus dan sungguh-sungguh menjalani setiap proses hidup
Di luar dunia pendidikan dan pelayanan, Martha memiliki kegemaran dalam bidang desain. Hobi tersebut menjadi salah satu ruang baginya untuk menyalurkan kreativitas dan mengekspresikan gagasan dan i Sisi kreatif ini melengkapi kepribadiannya sebagai seorang perempuan yang tidak hanya tekun menjalankan tanggung jawab, tetapi juga terus membuka diri terhadap hal-hal yang dapat mengembangkan potensi dirinya,ia pun Owner dari sebuah usaha yang digelutinya hingga saat ini
Baginya perjalanan hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling cepat atau paling tinggi hingga mencapai tujuan tetapi proses panjang yang menuntut kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk terus belajar. Ia percaya bahwa langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus dapat membawa seseorang lebih dekat kepada tujuan yang diimpikan.
Pesan hidup yang ingin terus ia pegang adalah melakukan segala sesuatu dengan hati, bukan demi mendapatkan pujian. Sebab, pekerjaan yang dilakukan dengan ketulusan dan dedikasi akan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pencapaian yang terlihat dari luar.
“Bekerjalah dengan hati, melayani dengan kasih, dan tekunlah dalam perjuangan. Jangan menyerah hanya karena perjalanan terasa lambat. Selama kita tetap setia menjalani proses dan melakukan yang terbaik, percayalah bahwa Tuhan akan memberikan hasil yang terbaik pada waktu-Nya.”
Pada akhirnya, kisah ini mengingatkan bahwa arti pengabdian tidak hanya ditentukan oleh jabatan yang pernah diemban atau pencapaian yang berhasil diraih. Lebih dari itu, pengabdian tercermin dalam kesediaan menjalankan tanggung jawab dengan setia, memberikan manfaat bagi sesama, dan tetap rendah hati dalam setiap proses kehidupan.
Seperti kupu-kupu yang melewati proses panjang sebelum memperlihatkan keindahannya, Martha terus menapaki perjalanan hidupnya dengan keyakinan bahwa setiap proses memiliki arti. Ia memilih untuk tetap melangkah, meski perlahan, sebab baginya, ketekunan yang disertai ketulusan hati merupakan bagian penting dari perjalanan menuju kehidupan yang bermakna.
Melangkah dengan tekun, bekerja dengan hati, dan melayani dengan kasih. Itulah nilai yang terus menjadi pegangan Martha Floria Yanti Teuf S.Pd dalam menjalani kehidupan dan pengabdiannya.*



















