Siapa Boru Anan dan La’e Anan

675

Penulis : Johanes Henuk

Sebutan Boru Anan dan La’e Anan, sering terdengar pada momentum adat tertentu.
Maknanya sangat berarti dan penting sekali bagi kesatuan kekuarga dan dapat dikatakan sebagai sebuah spirit kebersamaan dan atau persatuan antara sesama saudara, (lebih khusus kaum lelaki), sedarah, (kandung dari garis keturunan ayah).

Bagi kalangan masyarakat Rote Ti, dengan mendengar sebutan Boru Anan, maka hal itu telah menyinggung ke empat anak laki-laki dari leluhur Boru Mooy, yaitu pertama, Tode Boru, (Sub Klen Todefeo), kedua, Mesah Boru, (Sub Klen Mesafeo), ketiga,  Ndana Boru, (Sub Klen Ndanafeo), dan keempat, Nalle Boru (Sub Klen Nalefeo).

Keempat mereka dikenal sebagi salah satu kelompok kecil pengambil keputusan final atau mengikat ketika diadakan musyawarah mufakat sesuatu adat atau lainnya.

Boru Anan dalam strukturisasi sub klen masyarakat Rote Ti sangat disegani dan ditakuti oleh sub klen yang lain.

Persatuan mereka sangat diperhitungkan dan berarti karena apa yang disuarakan akan diiyakan bersama tanpa saling memprotes apalagi menyalakan satu dengan yang lain.

Dahulu di zaman pemerintahan kerajaan Ti, salah seorang anak dari Boru Mooy dipercaya menjadi Mane Dombe. Oleh masyarakat Rote Ti, mengenal dan menyebutnya, Mane Dombe Loko bauk, bernama, “Johanes Mesah”.

Apabila ada sesuatu soal atau perkara antara sub klen tertentu, dan atau antara nusak maka Mane Dombe bertugas sebagai hakim sekaligus jaksa.

Seorang Mane Dombe dalam tatanan adat masyarakat Rote Ti, memiliki tugas dan tanggungjawab mewakili masyarakat dan Nusak atau kerajaan.

Keputusan yang dikeluarkan oleh Mane Dombe biasanya sangat sakral dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun sekali pun raja.

Dasar inilah, masyarakat Rote Ti, sangat segan dan taat pada Mane Dombe dalam keputusan-keputusannya, baik ke dalam maupun keluar.

Boru Anan atau Boru Mooy memiliki tiga orang saudara laki-laki, yaitu Feo Mooy, membentuk Sub Klen Feo Soru. Rau Mooy dan Tiko Mooy, menggambungkan keturunan mereka dan membentuk Sub Klen Mooy Umbuk dan Boru Mooy memperanak, pertama, Tode Boru, (Sub Klen Todefeo), kedua, Mesah Boru, (Sub Klen Mesafeo), ketiga, Ndana Boru, (Sub Klen Ndanafeo), dan keempat, Nalle Boru (Sub Klen Nalefeo).

Cikal bakal anak Boru Anan, yakni Tode Boru menjabat sebagai salah satu Mane Dombe maka sebutan Mane Tode lebih membuming bila disandingkan dengan saudara-saudaranya. Masyarakat Rote Ti lebih cenderung dan enteng menyebutnya Mane Tode dari pada saudara yang lain.

Hal yang sama dengan La’e Anan. Sebutan La’e Anan, sering diidentikan dengan anak-anak dari leluhur La’e Nggau, antara lain,  pertama, Henu La’e, Kedua, Saba La’e dan Ketiga, Mbura La’e.

Belakangan muncul juga anggapan lain, bahwa yang disebut La’e Anan tidak hanya ketiga anak La’e Nggau, melainkan juga termasuk Tola Umbuk dan Nggau Pandi, dengan berpatokan pada garis keturunan leluhur La’e Kokolo.

Berikut diuraikan silsilahnya, Saba Nara memperanak Kokolo Saba memperanak La’e Kokolo memperanak Hello Ana La’e memperanak Foe Elo Ana memperanak dua orang anak laki-laki : pertama, Lunggi Foe dan Kedua, Nggau Foe.

Dari Lunggi Foe memperanak Tola Lunggi memperanak Hani Tola memperanak Tola Hani memperanak tujuh orang anak laki-laki, ialah, pertama Lai Fai Tola, Kedua, Hani Tola. Ketiga, Bela Tola, keempat, Hefu Tola, kelima, Lunggi Tola, keenam, Tumba Tola dan ketujuh, Teri Tola.

Ketujuh orang anak laki-laki ini kemudian melebur dan membentuk sub klen yang dinamai Tola Umbuk.

Oleh umumnya masyarakat Rote Ti, kepala sub klennya dikenal dengan sebutan, “Mane Tola/Mantola.

Sedangkan Nggau Foe memperanak dua orang anak laki-laki, antara lain, pertama, Pandi Nggau dan Kedua, La’e Nggau.

Pandi Nggau, memperanak Nggau Pandi.  pada saat pembagian Suku dan Sub klen, leluhur Nggau Pandi, berdiri sendiri  membentuk sub klen Nggau Pandi.

Sementara, leluhur La’e Nggau memperanak tiga orang anak laki-laki, masing-masing adalah, pertama Henu La’e,  Kedua, Saba La’e dan Ketiga, Mbura La’e.

Hingga hari ini trilogi ini melekat dan selalu diungkapkan oleh keturunan mereka.

Dan, konon, bahwa pernah terjadi  kesalapahaman antara La’e Anan terkait tongkat kepemimpinan saat ibukota kerajaan Ti berpusat di Kokolo.

Ironisnya,dari ketidaksepahaman tersebut, lalu melahirkan sumpah serapah yang diucapkan oleh kedua leluhur Saba La’e dan Henu La’e, bahwa keturunan mereka kelak  tidak boleh menjadi orang-orang terhormat  atau terpandang dan lain lain

Sumpah serapah ini masih dan terus mengikat dan mengikuti perjalanan keturunan kedua leluhur hingga hari ini di pulau Rote, misalnya ada yang berprofesi PNS, ABRI dan lainnya tidak akan bertahan. Dalam hitungan tahun maka dipastikan akan lari dari tugas atau ikatan kedinasan.

Namun akan kepastian kesalahpahaman dan sumpah serapah tersebut perlu dilakukan penelusuran oleh penulis.

Salah seorang La’e Anan pun pernah menjabat Mane Dombe Nusak/Kerajaan Ti dari Sub Klen Henu La’e, yaitu almarhum Marthinus Kaynara, berkedudukan di Oeseba Desa Lekik Kecamatan Rote Barat Daya.

Mane Dombe dari La’e Anan juga sangat disegani dan ditakuti, baik di dalam maupun luar Nusak Ti. Dia lebih dikenal dengan sebutan Mane Dombe Dero Hu atau Mane Dombe Oesebak.

Kabar lainnya, ketika Pulau Ndana dibagikan kepada ke-25 suku di eks Nusak Ti, suku Henu La’e diprioritaskan dalam pembagian tanah ulatnya, yang dikenal dengan nama Sarae Fula atau Henu La’e.

Pembagian tanah Pulau Ndana, hanya dua sub klen yang ulayatnya diberi nama leluhur, yakni Henu La’e dan Londa Lain, (Sub Klen Mbura La’e/Kitak

xxxxxxxxxxxxxxxxxx

Tidak hanya itu, setiap orang yang hendak ke Pulau Ndana dengan tujuan berburu dan mendapatkan hasil buruan, yaitu rusa.
Kaki kanan bagian depan hewan ini harus dan wajib hukumnya diserahkan kepada Mane Henu.

Hukum adat itu baru dihilangkan pada Tahun 1901 oleh salah seorang leluhur Mbura La’e, bernama Jonas Nikolas Messakh, ketika dipilih dan menjabat selaku raja Nusak Ti

Dan salah sorang putera terbaik sub klen Henu La’e, Henu Hani, juga pernah memerintah Nusak Ti, diperkirakan antara Tahun 1510-1513 dengan ibukota pemerintahan berpusat di Sabarai Lain/Inggu Rak terletak di Oeseba Desa Lekik Kecamatan Rote Barat Daya.

Penyebaran keturunan sub klen Henu La’e, meliputi Rote Ndao, Kabupaten Kupang, SoE, Kefa, Atambua, Jakarta, Kalimantan, dan Papua. Sekian

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.